Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Rabu, 10/03/2010 09:33 WIB
Bandung Blues Society
Dekatkan Musik Blues ke Anak Muda -
Selasa, 09/03/2010 09:43 WIB
Angklung Toel
Tak Perlu Digoyang, Cukup Disentuh -
Sabtu, 06/03/2010 16:32 WIB
Sehati Oentoek Sesama
Bunga Antorium untuk Gubernur -
Sabtu, 06/03/2010 15:46 WIB
Sehati Oentoek Sesama
Adu Harga di Gedung Bekas Pengadilan -
Sabtu, 06/03/2010 14:33 WIB
Sehati Oentoek Sesama
Suara Lantang di Antara Lukisan -
Sabtu, 06/03/2010 12:14 WIB
Sehati Oentoek Sesama
Kala Lukisan Jadi Sarana Bantu Saudara
Indeks Berita
Sabtu, 21/11/2009 10:33 WIB
Ngaguar Kujang
Meneropong Kujang Lebih Dari Sekedar Simbol
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung -
Selama ini kita kerap melihat kujang sebagai simbol instansi, institusi pendidikan dan banyak lagi. Tidak aneh memang, karena kujang adalah salah satu peninggalan sejarah bangsa Indonesia yang tidak ada duanya.
Namun, pusaka yang berkembang sekitar abad 3 hingga 15 ini kini semakin tersingkirkan. Atas dasar itu, sejumlah pengamat budaya yang menaruh perhatian terhadap kujang menggelar diskusi 'Ngaguar Kujang' Jum'at (20/11/2009) di Common Room Jl. Kyai Gede Utama No.8 Bandung.
"Kujang sebagai simbol sering kita lihat dimana-mana. Tapi apa makna historis dan filosofis dibalik kujang itu sendiri, masih banyak yang belum tahu," tutur koordinator acara Dadang Hermawan kepada detikbandung.
Dalam acara ini, tak kurang dari dua ratus kujang dipajang diatas meja panjang dan kotak-kotak kaca. Di sekitarnya ditaburi bunga-bunga dan diberi tulisan 'Dilarang Disentuh', 'Dont Touch' dan 'Tong Dicabak'. Sementara itu, disudut kiri ruang diskusi nampak serangkaian sesaji.
"Jenis kujang yang dipamerkan ada 28 macam. Kenapa diberi bunga-bunga yang mengeluarkan wewangian seperti itu, karena kujang-kujang ini adalah pusaka titipan leluhur yang harus dijaga sebaik mungkin. Mengumpulkannya saja cukup sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar," ujar Dadang.
Sebagai pembicara, dihadirkan Budi Dalton selaku budayawan, pengamat dan pemerhati kujang dan juga dosen Universitas Pasundan. Serta Aat Supriatna (Budayawan Jawa Barat) selaku moderator.
Lebih lanjut Dadang menuturkan, setelah digelarnya acara ini diharapkan generasi muda setidaknya bisa terbuka pandangannya mengenai kujang.
"Mungkin diskusi ini terlalu singkat untuk membahas kujang secara keseluruhan dan mendalam. Tapi setidaknya, ada transfer ilmu mengenai kujang yang kerap dipakai sebagai simbol-simbol tadi. Karena dengan memahami bagian budaya bangsa ini, nasionalisme kita bisa dipastikan akan bertambah," tandas Dadang.(dip/avi)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Ngaguar Kujang
Meneropong Kujang Lebih Dari Sekedar Simbol
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Foto Terkait
Namun, pusaka yang berkembang sekitar abad 3 hingga 15 ini kini semakin tersingkirkan. Atas dasar itu, sejumlah pengamat budaya yang menaruh perhatian terhadap kujang menggelar diskusi 'Ngaguar Kujang' Jum'at (20/11/2009) di Common Room Jl. Kyai Gede Utama No.8 Bandung.
"Kujang sebagai simbol sering kita lihat dimana-mana. Tapi apa makna historis dan filosofis dibalik kujang itu sendiri, masih banyak yang belum tahu," tutur koordinator acara Dadang Hermawan kepada detikbandung.
Dalam acara ini, tak kurang dari dua ratus kujang dipajang diatas meja panjang dan kotak-kotak kaca. Di sekitarnya ditaburi bunga-bunga dan diberi tulisan 'Dilarang Disentuh', 'Dont Touch' dan 'Tong Dicabak'. Sementara itu, disudut kiri ruang diskusi nampak serangkaian sesaji.
"Jenis kujang yang dipamerkan ada 28 macam. Kenapa diberi bunga-bunga yang mengeluarkan wewangian seperti itu, karena kujang-kujang ini adalah pusaka titipan leluhur yang harus dijaga sebaik mungkin. Mengumpulkannya saja cukup sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar," ujar Dadang.
Sebagai pembicara, dihadirkan Budi Dalton selaku budayawan, pengamat dan pemerhati kujang dan juga dosen Universitas Pasundan. Serta Aat Supriatna (Budayawan Jawa Barat) selaku moderator.
Lebih lanjut Dadang menuturkan, setelah digelarnya acara ini diharapkan generasi muda setidaknya bisa terbuka pandangannya mengenai kujang.
"Mungkin diskusi ini terlalu singkat untuk membahas kujang secara keseluruhan dan mendalam. Tapi setidaknya, ada transfer ilmu mengenai kujang yang kerap dipakai sebagai simbol-simbol tadi. Karena dengan memahami bagian budaya bangsa ini, nasionalisme kita bisa dipastikan akan bertambah," tandas Dadang.(dip/avi)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (3 Komentar)




