Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Selasa, 24/11/2009 17:22 WIB
Penjaringan Prodi Pendidikan Sosiologi Lewat PSSB dan UM UPI -
Selasa, 24/11/2009 16:48 WIB
Melepuh Setelah Minum Obat
Negatif Herpes, Ajeng Hanya Positif Mengalami TEN -
Selasa, 24/11/2009 16:29 WIB
UPI Punya Satu-satunya Prodi Pendidikan Sosiologi di Indonesia -
Selasa, 24/11/2009 15:17 WIB
2030, Biaya Transportasi di Bandung Bisa Capai Rp 105 Triliun -
Selasa, 24/11/2009 14:57 WIB
Akhmaloka Jadi Rektor ITB 2010-2014
Rektor Baru Harus Lebih Dekat dengan Mahasiswa -
Selasa, 24/11/2009 14:46 WIB
Farmasi ITB Belum Selidiki Efek Obat Kaki Gajah
Indeks Berita
Sabtu, 07/11/2009 11:19 WIB
Masalah Cekungan Bandung, Bagai Katak Dalam Panci
Tya Eka Yulianti - detikBandung

Bandung -
Ahli Lingkungan Hidup Chay Asdak mengibaratkan masalah cekungan Bandung bagaikan Boiled Frog Syndrom. Yaitu katak yang disimpan dalam panci yang dipanaskan, namun tidak melompat keluar karena tidak merasa dirinya dalam bahaya.
"Dampak masalah lingkungan selalu terjadi secara perlahan, karena efek lingkungan hidup tidak seperti kecelakaan yang langsung terasa akibatnya," kata Chay dalam Diskusi Ekologi Cekungan Bandung Helarfest 2009 di Common Room, Jalan Kyai Gede Utama, Jumat (6/11/2009).
Dirinya mencontohkan, saat kita meminum air yang kurang baik kualitasnya, efeknya baru akan terasa dalam waktu yang lama.
"Seperti meminum air yang kurang baik, timbal dan lainnya, efeknya baru terasa setelah sekian lama. Kalau tidak ditindaklanjuti bisa mati pelan-pelan," jelas Chay.
Namun kendalanya, dikatakan Chay, masyarakat masih belum memahami masalah lingkungan sebagai masalah bersama. Belum menempatkan diri menjadi satu kesatuan dengan ekosistemnya dan tidak adanya kepemilikan atas sumber daya alam.
"Coba saja kalau masyarakat mau menegur setiap orang yang membuang sampah sembarangan. Itu akan membangun budaya," jelasnya.
Menurut Chay, hal tersebut disebabkan oleh kebijakan ekonomi yang kurang pro terhadap lingkungan hidup. Tidak difahaminya kerentananan Kawasan Bandung Utara (KBU) dan Kawasan Bandung selatan (KBS) terhadap 'keselamatan' Kota Bandung, dan kurang kuatnya tekanan publik terhadap kebijakan yang tidak pro LH.
"Masyarakat harus lebih jeli lagi memilih pemimpin yang peduli terhadap LH," tambahnya.
(tya/avi)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Masalah Cekungan Bandung, Bagai Katak Dalam Panci
Tya Eka Yulianti - detikBandung

"Dampak masalah lingkungan selalu terjadi secara perlahan, karena efek lingkungan hidup tidak seperti kecelakaan yang langsung terasa akibatnya," kata Chay dalam Diskusi Ekologi Cekungan Bandung Helarfest 2009 di Common Room, Jalan Kyai Gede Utama, Jumat (6/11/2009).
Dirinya mencontohkan, saat kita meminum air yang kurang baik kualitasnya, efeknya baru akan terasa dalam waktu yang lama.
"Seperti meminum air yang kurang baik, timbal dan lainnya, efeknya baru terasa setelah sekian lama. Kalau tidak ditindaklanjuti bisa mati pelan-pelan," jelas Chay.
Namun kendalanya, dikatakan Chay, masyarakat masih belum memahami masalah lingkungan sebagai masalah bersama. Belum menempatkan diri menjadi satu kesatuan dengan ekosistemnya dan tidak adanya kepemilikan atas sumber daya alam.
"Coba saja kalau masyarakat mau menegur setiap orang yang membuang sampah sembarangan. Itu akan membangun budaya," jelasnya.
Menurut Chay, hal tersebut disebabkan oleh kebijakan ekonomi yang kurang pro terhadap lingkungan hidup. Tidak difahaminya kerentananan Kawasan Bandung Utara (KBU) dan Kawasan Bandung selatan (KBS) terhadap 'keselamatan' Kota Bandung, dan kurang kuatnya tekanan publik terhadap kebijakan yang tidak pro LH.
"Masyarakat harus lebih jeli lagi memilih pemimpin yang peduli terhadap LH," tambahnya.
(tya/avi)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




