Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Sabtu, 07/11/2009 11:00 WIB
20 Tahun Terbang dengan Gantole
Koesnadi: Makin Tua Makin Takut Terbang -
Jumat, 30/10/2009 10:43 WIB
Iskandarsyah Berian
Tinggalkan Kick Boxing untuk Berdakwah -
Kamis, 22/10/2009 14:10 WIB
Sundea 'Salam Matahari'
Tidak Ada Tulisan Jelek -
Kamis, 22/10/2009 10:04 WIB
Sundea 'Salam Matahari'
Dokumentasikan Kehidupan di Buku Harian -
Kamis, 22/10/2009 08:52 WIB
Sundea 'Salamatahari'
'Pena dan Kertas Adalah Hidupku'
Indeks Berita
Sabtu, 07/11/2009 08:56 WIB
20 Tahun Terbang dengan Gantole
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Berawal dari obsesinya menjadi penerjun, Koesnadi H Bohon akhirnya malah jatuh cinta pada olahraga gantole. Olahraga ekstrim ini pun ditekuninya dengan serius selama 20 tahun. Keseriusan itu pula yang melahirkan prestasi untuk mengharumkan nama Jawa Barat.
Ketertarikan pria kelahiran 27 Juni 1966 terhadap aerosport ini karena melihat penerjun di Bandara Husein Sastranegara. "Ketika lihat yang terjun, saya lari sama teman-teman saya ke Bandara Husein Sastranegara untuk melihat," tutur ketua Gantole Bandung Hang Glidding ini. Berawal dari sana, Koesnadi mengaku dirinya terobsesi menjadi penerjun.
Tapi karena pembukaan sekolah penerjun jarang sekali, akhirnya Koesnadi bersama beberapa teman kampusnya mengikuti ujian masuk Gantole Bandung Hang Gliding. Tes yang dilalui pun sama halnya dengan tes menjadi pilot.
Tahun 1989, secara resmi, sarjana pertanian ini mulai aktif dalam Gantole Bandung Hang Gliding. Kemampuan Koesnadi terus terasah. Bukan hanya jadi atlet, ayah beranak tiga ini kini sudah menempati posisi sebagai instruktur.
Sebagai atlet, Koesnadi sudah berada di kelas high performance. Level ini menuntut penerbang untuk melaju lebih kencang dengan posisi mendarat yang lebih sulit.
Beberapa medali sudah berhasil disumbangkan Koesnadi. Tahun 2005 di Kejurnas Wonogiri, Koesnadi mendapatkan medali perak. Di tahun 2006, masih di Wonogiri, Koesnadi didaulat sebagai pelatih. Dalam kejuaraan terbuka di Tapanuli Utara dan Danau Toba di tahun 200, Koesnadi juga masih dipercaya sebagai pelatih.
Selanjutnya, di Kejurnas tahun 2008 di Tapanuli Utara dan Bageli, Sumatera Utara, Koesnadi meraih satu emas satu perak. Dan terakhir, di Kejurnas 2009 di Timbis Bali Kabupaten Badung Koesnadi menyumbangkan satu emas dan satu perunggu untuk Jawa Barat. Di Kejurnas 2009, Jawa Barat pun menyabet juara umum untuk cabang olahraga gantole dengan perolehan tiga emas dua perunggu.
Sampai saat ini, Koesnadi sudah melakukan 400-500 kali penerbangan dengan pencapaian ketinggian paling tinggi 2.800 meter dan paling lama bertahan di udara selama 4 jam. "Log book saya sudah penuh jadi penerbangannya tidak terhitung," ujar pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Federasi Aerosport Indonesia (Fasida) Jabar yang juga menjabat sebagai sekretaris GSky Aerosport ini.
Target Koesnadi ke depan adalah mencetak sebanyak-banyaknya penerbang, baik penerbang biasa maupun penerbang atlet. Target berikutnya, selama masih dipercaya, Koesnadi akan terus menjadi atlet dan membawa nama Jawa Barat.
(ema/ema)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
20 Tahun Terbang dengan Gantole
Ema Nur Arifah - detikBandung
Ketertarikan pria kelahiran 27 Juni 1966 terhadap aerosport ini karena melihat penerjun di Bandara Husein Sastranegara. "Ketika lihat yang terjun, saya lari sama teman-teman saya ke Bandara Husein Sastranegara untuk melihat," tutur ketua Gantole Bandung Hang Glidding ini. Berawal dari sana, Koesnadi mengaku dirinya terobsesi menjadi penerjun.
Tapi karena pembukaan sekolah penerjun jarang sekali, akhirnya Koesnadi bersama beberapa teman kampusnya mengikuti ujian masuk Gantole Bandung Hang Gliding. Tes yang dilalui pun sama halnya dengan tes menjadi pilot.
Tahun 1989, secara resmi, sarjana pertanian ini mulai aktif dalam Gantole Bandung Hang Gliding. Kemampuan Koesnadi terus terasah. Bukan hanya jadi atlet, ayah beranak tiga ini kini sudah menempati posisi sebagai instruktur.
Sebagai atlet, Koesnadi sudah berada di kelas high performance. Level ini menuntut penerbang untuk melaju lebih kencang dengan posisi mendarat yang lebih sulit.
Beberapa medali sudah berhasil disumbangkan Koesnadi. Tahun 2005 di Kejurnas Wonogiri, Koesnadi mendapatkan medali perak. Di tahun 2006, masih di Wonogiri, Koesnadi didaulat sebagai pelatih. Dalam kejuaraan terbuka di Tapanuli Utara dan Danau Toba di tahun 200, Koesnadi juga masih dipercaya sebagai pelatih.
Selanjutnya, di Kejurnas tahun 2008 di Tapanuli Utara dan Bageli, Sumatera Utara, Koesnadi meraih satu emas satu perak. Dan terakhir, di Kejurnas 2009 di Timbis Bali Kabupaten Badung Koesnadi menyumbangkan satu emas dan satu perunggu untuk Jawa Barat. Di Kejurnas 2009, Jawa Barat pun menyabet juara umum untuk cabang olahraga gantole dengan perolehan tiga emas dua perunggu.
Sampai saat ini, Koesnadi sudah melakukan 400-500 kali penerbangan dengan pencapaian ketinggian paling tinggi 2.800 meter dan paling lama bertahan di udara selama 4 jam. "Log book saya sudah penuh jadi penerbangannya tidak terhitung," ujar pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Federasi Aerosport Indonesia (Fasida) Jabar yang juga menjabat sebagai sekretaris GSky Aerosport ini.
Target Koesnadi ke depan adalah mencetak sebanyak-banyaknya penerbang, baik penerbang biasa maupun penerbang atlet. Target berikutnya, selama masih dipercaya, Koesnadi akan terus menjadi atlet dan membawa nama Jawa Barat.
(ema/ema)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk





