Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Rabu, 25/11/2009 19:21 WIB
Incar Setengah Juta Pelanggan, XL Siap Gaet Komunitas -
Rabu, 25/11/2009 19:14 WIB
Dihantam Balok Kayu oleh Temannya, Kepala Ginanjar Luka Parah -
Rabu, 25/11/2009 19:05 WIB
BlackberryOne Antarkan XL Jadi Jawara -
Rabu, 25/11/2009 18:27 WIB
Balon Ketua DPD Golkar Jabar
Dada: Cost Politic Itu Pasti Ada -
Rabu, 25/11/2009 17:48 WIB
Bangun Kolam Renang dan JPO Tanpa Izin
'Harusnya Kodam III Siliwangi Bongkar Sendiri' -
Rabu, 25/11/2009 17:21 WIB
Besok, Terminal Cicaheum Dipadati Pemudik Hari Kurban
Indeks Berita
Kamis, 05/11/2009 09:37 WIB
Nu-Substance Festival 2009
Diskusi Kondisi Ekologi Cekungan Bandung
Salomo Sihombing - detikBandung

Bandung -
Saat ini Kota Bandung sedang mengalami proses degradasi kualitas lingkungan yang cukup parah akibat percepatan pembangunan yang secara pesat terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.
Selain proses urbanisasi dan industrialisasi, memburuknya kondisi lingkungan di kota Bandung juga disebabkan oleh berbagai bentuk kebijakan pembangunan yang kurang memperhatikan aspek pelestarian lingkungan dan daya dukung ekologi di wilayah cekungan Bandung.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Departemen Teknik Lingkungan ITB, Indonesia Lead Information Center (LIC-Jakarta), Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, dan Fakultas Psikologi Unpad (sejak Mei hingga Desember 2005), disebutkan bahwa sekitar 66% siswa di kota Bandung memiliki kadar timbal dalam darah yang melewati nilai ambang batas dari Organisasi Kesehatan Dunia (WTO), yaitu 10 ug/dL.
Hal ini menurut Dr. Puji Lestari (Pakar Teknik Lingkungan ITB) berdampak secara langsung pada penurunan kecerdasan para pelajar di kota Bandung.
Sementara itu, kota Bandung saat ini juga tengah terancam oleh krisis air akibat dari pesatnya perubahan fungsi lahan konservasi menjadi kawasan pemukiman maupun industri. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ir. A. Djumarna Wirakusumah (Pakar Geologi ITB), krisis air yang paling parah setidaknya akan terjadi di kawasan Bandung Barat (Leuwigajah, Cibeureum dan Dayeuhkolot) dan Bandung Timur (Ujungberung dan Rancaekek).
Berdasarkan informasi di atas, saat ini masyarakat yang hidup di wilayah cekungan Bandung dapat dikatakan tengah berada dalam ancaman karena proses degradasi kualitas lingkungan yang ada juga melahirkan dampak turunan yang signifikan, baik secara sosial, ekonomi dan budaya.
Rusaknya kondisi ekologi di wilayah cekungan Bandung bukan hanya mengancam tatanan lingkungan yang ada, tetapi lebih jauh juga dapat memicu proses bunuh diri sosial yang akan berujung pada proses genosida budaya bagi masyarakat yang hidup di wilayah ini.
Diskusi ini akan menghadirkan tiga orang pembicara yang terdiri dari Chay Asdak (Ahli Lingkungan Hidup), T. Bachtiar (Pendiri Kelompok Riset Cekungan Bandung), dan Dede Mariana (Ahli Tata Negara).
Selain membahas berbagai aspek yang terkait dengan kondisi ekologi di wilayah cekungan Bandung, diskusi ini juga akan mencoba untuk membahas kondisi yang berkembang secara kritis, sambil membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat menjadi solusi alternatif bagi perbaikan kondisi ekologi di wilayah cekungan Bandung.
Acara diskusi ini terbuka untuk masyarakat umum, khususnya bagi para akademisi, budayawan, mahasiswa, peneliti, seniman, desainer, musisi, dsb. Bertempat di Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Jumat (6/11/2009) pukul 15.00 - 18.00 WIB.
Kegiatan ini merupakan bagian dari HELAR FESTIVAL 2009 dan diselenggarakan secara bersama-sama oleh Common Room, OpenLabs, Solidaritas Independen Bandung (SIB), Kelompok Studi Bandung Oral History (BOH), HIVOS, CCF Bandung, DetikBandung, Bandung Creative City Forum (BCCF), Pemerintah Kotamadya Bandung dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
(lom/lom)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Nu-Substance Festival 2009
Diskusi Kondisi Ekologi Cekungan Bandung
Salomo Sihombing - detikBandung

Selain proses urbanisasi dan industrialisasi, memburuknya kondisi lingkungan di kota Bandung juga disebabkan oleh berbagai bentuk kebijakan pembangunan yang kurang memperhatikan aspek pelestarian lingkungan dan daya dukung ekologi di wilayah cekungan Bandung.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Departemen Teknik Lingkungan ITB, Indonesia Lead Information Center (LIC-Jakarta), Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, dan Fakultas Psikologi Unpad (sejak Mei hingga Desember 2005), disebutkan bahwa sekitar 66% siswa di kota Bandung memiliki kadar timbal dalam darah yang melewati nilai ambang batas dari Organisasi Kesehatan Dunia (WTO), yaitu 10 ug/dL.
Hal ini menurut Dr. Puji Lestari (Pakar Teknik Lingkungan ITB) berdampak secara langsung pada penurunan kecerdasan para pelajar di kota Bandung.
Sementara itu, kota Bandung saat ini juga tengah terancam oleh krisis air akibat dari pesatnya perubahan fungsi lahan konservasi menjadi kawasan pemukiman maupun industri. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ir. A. Djumarna Wirakusumah (Pakar Geologi ITB), krisis air yang paling parah setidaknya akan terjadi di kawasan Bandung Barat (Leuwigajah, Cibeureum dan Dayeuhkolot) dan Bandung Timur (Ujungberung dan Rancaekek).
Berdasarkan informasi di atas, saat ini masyarakat yang hidup di wilayah cekungan Bandung dapat dikatakan tengah berada dalam ancaman karena proses degradasi kualitas lingkungan yang ada juga melahirkan dampak turunan yang signifikan, baik secara sosial, ekonomi dan budaya.
Rusaknya kondisi ekologi di wilayah cekungan Bandung bukan hanya mengancam tatanan lingkungan yang ada, tetapi lebih jauh juga dapat memicu proses bunuh diri sosial yang akan berujung pada proses genosida budaya bagi masyarakat yang hidup di wilayah ini.
Diskusi ini akan menghadirkan tiga orang pembicara yang terdiri dari Chay Asdak (Ahli Lingkungan Hidup), T. Bachtiar (Pendiri Kelompok Riset Cekungan Bandung), dan Dede Mariana (Ahli Tata Negara).
Selain membahas berbagai aspek yang terkait dengan kondisi ekologi di wilayah cekungan Bandung, diskusi ini juga akan mencoba untuk membahas kondisi yang berkembang secara kritis, sambil membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat menjadi solusi alternatif bagi perbaikan kondisi ekologi di wilayah cekungan Bandung.
Acara diskusi ini terbuka untuk masyarakat umum, khususnya bagi para akademisi, budayawan, mahasiswa, peneliti, seniman, desainer, musisi, dsb. Bertempat di Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8, Jumat (6/11/2009) pukul 15.00 - 18.00 WIB.
Kegiatan ini merupakan bagian dari HELAR FESTIVAL 2009 dan diselenggarakan secara bersama-sama oleh Common Room, OpenLabs, Solidaritas Independen Bandung (SIB), Kelompok Studi Bandung Oral History (BOH), HIVOS, CCF Bandung, DetikBandung, Bandung Creative City Forum (BCCF), Pemerintah Kotamadya Bandung dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
(lom/lom)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




