Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Jumat, 20/11/2009 10:35 WIB
YBJB Luncurkan Buku Saku Batik -
Selasa, 10/11/2009 10:10 WIB
The Teacher's Way
Saat Para Guru Berkarya -
Minggu, 08/11/2009 10:18 WIB
AWI Ciptakan Bisnis dari Angklung -
Jumat, 06/11/2009 09:11 WIB
Jasad Manggung di Thailand -
Kamis, 05/11/2009 09:10 WIB
Menonton Rendra dalam Kantata Takwa
Indeks Berita
Kamis, 05/11/2009 09:24 WIB
Film Indonesia Kehilangan Ruh
Ema Nur Arifah - detikBandung

dok. detikcom
Bandung -
Di mata sutradara Eros Djarot film Indonesia sudah kehilangan ruhnya. Ada aroma jati diri bangsa dan muatan nilai yang hilang dalam era yang disebutnya Plastic Society.
"Ada sukma dan ruh yang hilang tapi jasadnya ada," tutur Eros menanggapi perfilman Indonesia kini ditemui usai diskusi di Gedung Dewi Asri STSI Jalan Buah Batu, Rabu (4/11/2009).
Ibarat sambal, bagi Eros, film Indonesia kini hanya sambal yang dibungkus. Bukan sambal uleg yang masih terasa kenaturalannya, kelezatan dan kaya sentuhan.
Tidak lagi kaya dengan peristiwa kemanusiaan atau yang mengangkat semangat Indonesia seperti karya Oesmar Ismail. Dimana banyak idiom yang ditawarkan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Eros mencontohkan Cina yang menjadikan film sebagai pesan peradaban tentang negaranya sendiri. Seperti tentara kebudayaan yang menjajah negara lain dengan etika dan estetika.
Pasar pun bukan jadi alasan karena pasar bisa dibentuk. Konsumen bisa diberikan akses misalnya melalui televisi. Namun Eros berpendapat wajar saja jika kondisi pertelevisian pun begitu komersil karena modal dikuasai satu orang.
"Tergadaikan cita-cita dan tujuan kebudayaan jika seperti ini, sangat disayangkan," ujar Eros.
Pembuatan film yang bersifat kedaerahan pun menurut Eros bukan solusi untuk mengembalikan ruh tersebut. Karena Jakarta sentris sudah menggejala dimana mana.
"Putra Bandung pun sudah hilang, berganti dengan lu gua," ujarnya.
(ema/avi)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Film Indonesia Kehilangan Ruh
Ema Nur Arifah - detikBandung

dok. detikcom
"Ada sukma dan ruh yang hilang tapi jasadnya ada," tutur Eros menanggapi perfilman Indonesia kini ditemui usai diskusi di Gedung Dewi Asri STSI Jalan Buah Batu, Rabu (4/11/2009).
Ibarat sambal, bagi Eros, film Indonesia kini hanya sambal yang dibungkus. Bukan sambal uleg yang masih terasa kenaturalannya, kelezatan dan kaya sentuhan.
Tidak lagi kaya dengan peristiwa kemanusiaan atau yang mengangkat semangat Indonesia seperti karya Oesmar Ismail. Dimana banyak idiom yang ditawarkan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Eros mencontohkan Cina yang menjadikan film sebagai pesan peradaban tentang negaranya sendiri. Seperti tentara kebudayaan yang menjajah negara lain dengan etika dan estetika.
Pasar pun bukan jadi alasan karena pasar bisa dibentuk. Konsumen bisa diberikan akses misalnya melalui televisi. Namun Eros berpendapat wajar saja jika kondisi pertelevisian pun begitu komersil karena modal dikuasai satu orang.
"Tergadaikan cita-cita dan tujuan kebudayaan jika seperti ini, sangat disayangkan," ujar Eros.
Pembuatan film yang bersifat kedaerahan pun menurut Eros bukan solusi untuk mengembalikan ruh tersebut. Karena Jakarta sentris sudah menggejala dimana mana.
"Putra Bandung pun sudah hilang, berganti dengan lu gua," ujarnya.
(ema/avi)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




