Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 472.000
-
Rp 2,771.000
Berita Lain
-
Rabu, 15/02/2012 08:54 WIB
Sshahh..Sensasi Mi Super Pedas ala Mie Konslet -
Selasa, 13/12/2011 11:18 WIB
Gurihnya Camilan Jepang Okonomiyaki -
Rabu, 11/05/2011 12:53 WIB
Fastfood Mobile Ala Burripop -
Rabu, 11/05/2011 10:15 WIB
Burripop
Burger Pedas dengan Olesan Sambal Durjana -
Rabu, 11/05/2011 09:39 WIB
Burripop, Makanan Cepat Saji Kontemporer -
Rabu, 27/04/2011 09:55 WIB
Serbu Aneka Makanan Seru di Serba Rame Yuk!
Indeks Berita
Forum Bandung
Thread Pilihan

Rabu, 16/05/2012 17:08 WIB
67 Tim Siap Ramaikan Kontes Robot Indonesia
Posted : Binggos
Rabu, 04/11/2009 08:36 WIB
Acung Jempol untuk Kupat Tahu Gempol
Ema Nur Arifah - detikBandung
Bandung -
Tempatnya tidak terlalu istimewa, malah jauh dari kesan mewah, lokasinya yang ada di Pasar Gempol Jalan Gempol ini pun tidak menyurutkan langkah untuk sarapan kupat tahu di tempat ini.
Siapa tak kenal Kupat Tahu Gempol. Setiap harinya tidak pernah sepi dengan pembeli. Sejak warung buka pukul 06.00 WIB, bersamaan dengan mulai menggeliatnya
aktivitas di Pasar Gempol, para pelayan di warung Kupat Tahu Gempol mulai sibuk melayani pelanggan. Bahkan, kalau akhir pekan, warung yang alakadarnya ini, bisa dikunjungi wisatawan yang datang secara rombongan sampai ber bus-bus.
H Achdan, lelaki berusia 71 tahun ini mengelola Kupat Tahu Gempol sejak tahun 1975. Waktu yang tidak sebentar. Dia mewarisi usaha kupat tahu dari kakaknya. Namun karena kakaknya membuka kantin di kantor PU Jalan Asia Afrika saat itu, Achdan lah yang kemudian menjadi penerus.
Dibantu istrinya Yayah (64), disela-sela pekerjaannya sebagai PNS di Kantor PU saat itu, Achdan terus mempertahankan usaha ini sampai dirinya pensiun. Sejak dibukanya, menurut Achdan, warung kupat tahunya memang tidak pernah sepi. "Dari sejak dibuka juga sudah ramai," ujar Achdan ditemui di kedainya.
Dia pun mengaku tidak tahu kenapa banyak yang tertarik untuk datang, padahal kalau dari sisi tempat, warung kupat tahunya ini jauh dari kesan nyaman. Apalagi kalau sinar matahari sudah mulai beranjak naik ke puncak.
"Tapi pembeli saya banyak yang bilang tidak apa-apa tempatnya seperti ini, yang penting bersih," ujar Achdan.
Dibandingkan hari biasa, akhir pekan selalu menjadi ladang panen rupiah. Para wisatawan berduyun-duyun datang. Jalan menuju Pasar Gempol pun bisa padat oleh kendaraan yang terparkir.
"Mereka datang rombongan pakai bus. Kadang kalau tempatnya tidak cukup mereka makan di mobil atau busnya," cerita ayah beranak tujuh ini bangga.
Padahal, Achdan juga membuka cabang di beberapa tempat seperti Supermarket Setiabudhi, The Kiosk Dago, juga Gasibu. Tapi menurutnya, pembeli paling banyak tetap datang ke Pasar Gempol.
Jika hari biasa hanya menghabiskan 15 kilogram bumbu kacang, maka di akhir pekan bisa sampai tiga kali lipatnya. Begitu pun dengan tahu Cibuntu, jika hari biasa hanya 500 tahu, akhir pekan khususnya hari Minggu bisa menghabiskan 1.000 tahu.
"Kalau hari biasa omset bisa Rp 1,5 juta, hari Minggu bisa Rp 3,5 juta," akunya.
Kerjasama Kupat Tahu Gempol dengan salah satu produk kecap pun kian menggaungkan namanya. Achdan kerap ikut serta dalam festival makanan yang diselenggarakan produk tersebut di berbagai kota. Bahkan, saat event digelar di Surabaya, Kupat Tahu Gempol jadi salah satu ikon kuliner yang mewakili Bandung.
Tidak berlebihan bukan jika harus angkat jempol untuk Kupat Tahu Gempol.(ema/avi)
Acung Jempol untuk Kupat Tahu Gempol
Ema Nur Arifah - detikBandung
Siapa tak kenal Kupat Tahu Gempol. Setiap harinya tidak pernah sepi dengan pembeli. Sejak warung buka pukul 06.00 WIB, bersamaan dengan mulai menggeliatnya
aktivitas di Pasar Gempol, para pelayan di warung Kupat Tahu Gempol mulai sibuk melayani pelanggan. Bahkan, kalau akhir pekan, warung yang alakadarnya ini, bisa dikunjungi wisatawan yang datang secara rombongan sampai ber bus-bus.
H Achdan, lelaki berusia 71 tahun ini mengelola Kupat Tahu Gempol sejak tahun 1975. Waktu yang tidak sebentar. Dia mewarisi usaha kupat tahu dari kakaknya. Namun karena kakaknya membuka kantin di kantor PU Jalan Asia Afrika saat itu, Achdan lah yang kemudian menjadi penerus.
Dibantu istrinya Yayah (64), disela-sela pekerjaannya sebagai PNS di Kantor PU saat itu, Achdan terus mempertahankan usaha ini sampai dirinya pensiun. Sejak dibukanya, menurut Achdan, warung kupat tahunya memang tidak pernah sepi. "Dari sejak dibuka juga sudah ramai," ujar Achdan ditemui di kedainya.
Dia pun mengaku tidak tahu kenapa banyak yang tertarik untuk datang, padahal kalau dari sisi tempat, warung kupat tahunya ini jauh dari kesan nyaman. Apalagi kalau sinar matahari sudah mulai beranjak naik ke puncak.
"Tapi pembeli saya banyak yang bilang tidak apa-apa tempatnya seperti ini, yang penting bersih," ujar Achdan.
Dibandingkan hari biasa, akhir pekan selalu menjadi ladang panen rupiah. Para wisatawan berduyun-duyun datang. Jalan menuju Pasar Gempol pun bisa padat oleh kendaraan yang terparkir.
"Mereka datang rombongan pakai bus. Kadang kalau tempatnya tidak cukup mereka makan di mobil atau busnya," cerita ayah beranak tujuh ini bangga.
Padahal, Achdan juga membuka cabang di beberapa tempat seperti Supermarket Setiabudhi, The Kiosk Dago, juga Gasibu. Tapi menurutnya, pembeli paling banyak tetap datang ke Pasar Gempol.
Jika hari biasa hanya menghabiskan 15 kilogram bumbu kacang, maka di akhir pekan bisa sampai tiga kali lipatnya. Begitu pun dengan tahu Cibuntu, jika hari biasa hanya 500 tahu, akhir pekan khususnya hari Minggu bisa menghabiskan 1.000 tahu.
"Kalau hari biasa omset bisa Rp 1,5 juta, hari Minggu bisa Rp 3,5 juta," akunya.
Kerjasama Kupat Tahu Gempol dengan salah satu produk kecap pun kian menggaungkan namanya. Achdan kerap ikut serta dalam festival makanan yang diselenggarakan produk tersebut di berbagai kota. Bahkan, saat event digelar di Surabaya, Kupat Tahu Gempol jadi salah satu ikon kuliner yang mewakili Bandung.
Tidak berlebihan bukan jika harus angkat jempol untuk Kupat Tahu Gempol.(ema/avi)


Sending your message