Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Jumat, 20/11/2009 10:35 WIB
YBJB Luncurkan Buku Saku Batik -
Selasa, 10/11/2009 10:10 WIB
The Teacher's Way
Saat Para Guru Berkarya -
Minggu, 08/11/2009 10:18 WIB
AWI Ciptakan Bisnis dari Angklung -
Jumat, 06/11/2009 09:11 WIB
Jasad Manggung di Thailand -
Kamis, 05/11/2009 09:24 WIB
Film Indonesia Kehilangan Ruh -
Kamis, 05/11/2009 09:10 WIB
Menonton Rendra dalam Kantata Takwa
Indeks Berita
Minggu, 01/11/2009 13:45 WIB
Eggrang Tak Hanya Permainan Bambu
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Permainan tradisional seperti eggrang, kelom batok, rorodaan, engkle (sondah) dan sorodot gaplok bukan sekadar untuk dimainkan. Di balik keberadaannya, terkandung nilai-nilai filosofis yang memiliki relevansi nyata dengan kehidupan keseharian.
Eggrang misalnya. Menurut peneliti mainan tradisional Zaini Alif bisa bermakna imbauan agar tidak sombong. Saat tangan memegang tangkai bambu, setinggi apapun pijakan, mata tetap melihat ke bawah. "Setinggi apapun orang tetap harus melihat ke bawah," tuturnya.
Filosofi yang sama juga berlaku dalam pemerintahan. Meski pemerintah posisinya di atas tetap harus melihat ke bawah, pada rakyat.
Lain lagi dengan permainan kelom batok. Permukaannya yang bulat melambangkan bumi. Dengan dibantu seutas tali untuk pegangan ketika berjalan bisa diartikan agar manusia berhati-hati dalam menjalani kehidupan di bumi.
Tidak hanya permainan eggrang atau kelom batok, menurut Zaini berdasarkan penelitiannya, semua permainan tradisional memiliki makna filosofis.
Tapi Zaini mengaku tidak terburu-buru untuk mengenalkan makna demi makna tersebut pada masyarakat. Baginya, sampai titik ini masih cukup dengan mengenalkan terlebih dahulu permainan tradisional, terlebih pada anak-anak.
Jika tidak dikenalkan, tambah Zaini, anak-anak tidak akan kenal dengan akar budayanya.
Alimpiado yang digelar 30-31 Oktober menurut Zaini sebagai pembuka dari langkah-langkah selanjutnya untuk tetap mempertahankan eksistensi permainan tradisional.
(ema/ern)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Eggrang Tak Hanya Permainan Bambu
Ema Nur Arifah - detikBandung
Eggrang misalnya. Menurut peneliti mainan tradisional Zaini Alif bisa bermakna imbauan agar tidak sombong. Saat tangan memegang tangkai bambu, setinggi apapun pijakan, mata tetap melihat ke bawah. "Setinggi apapun orang tetap harus melihat ke bawah," tuturnya.
Filosofi yang sama juga berlaku dalam pemerintahan. Meski pemerintah posisinya di atas tetap harus melihat ke bawah, pada rakyat.
Lain lagi dengan permainan kelom batok. Permukaannya yang bulat melambangkan bumi. Dengan dibantu seutas tali untuk pegangan ketika berjalan bisa diartikan agar manusia berhati-hati dalam menjalani kehidupan di bumi.
Tidak hanya permainan eggrang atau kelom batok, menurut Zaini berdasarkan penelitiannya, semua permainan tradisional memiliki makna filosofis.
Tapi Zaini mengaku tidak terburu-buru untuk mengenalkan makna demi makna tersebut pada masyarakat. Baginya, sampai titik ini masih cukup dengan mengenalkan terlebih dahulu permainan tradisional, terlebih pada anak-anak.
Jika tidak dikenalkan, tambah Zaini, anak-anak tidak akan kenal dengan akar budayanya.
Alimpiado yang digelar 30-31 Oktober menurut Zaini sebagai pembuka dari langkah-langkah selanjutnya untuk tetap mempertahankan eksistensi permainan tradisional.
(ema/ern)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




