Berita Lain

Indeks Berita

Minggu, 01/11/2009 13:45 WIB
Eggrang Tak Hanya Permainan Bambu
Ema Nur Arifah - detikBandung



Bandung - Permainan tradisional seperti eggrang, kelom batok, rorodaan, engkle (sondah) dan sorodot gaplok bukan sekadar untuk dimainkan. Di balik keberadaannya, terkandung nilai-nilai filosofis yang memiliki relevansi nyata dengan kehidupan keseharian.

Eggrang misalnya. Menurut peneliti mainan tradisional Zaini Alif bisa bermakna imbauan agar tidak sombong. Saat tangan memegang tangkai bambu, setinggi apapun pijakan, mata tetap melihat ke bawah. "Setinggi apapun orang tetap harus melihat ke bawah," tuturnya.

Filosofi yang sama juga berlaku dalam pemerintahan. Meski pemerintah posisinya di atas tetap harus melihat ke bawah, pada rakyat.

Lain lagi dengan permainan kelom batok. Permukaannya yang bulat melambangkan bumi. Dengan dibantu seutas tali untuk pegangan ketika berjalan bisa diartikan agar manusia berhati-hati dalam menjalani kehidupan di bumi.

Tidak hanya permainan eggrang atau kelom batok, menurut Zaini berdasarkan penelitiannya, semua permainan tradisional memiliki makna filosofis.

Tapi Zaini mengaku tidak terburu-buru untuk mengenalkan makna demi makna tersebut pada masyarakat. Baginya, sampai titik ini masih cukup dengan mengenalkan terlebih dahulu permainan tradisional, terlebih pada anak-anak.

Jika tidak dikenalkan, tambah Zaini, anak-anak tidak akan kenal dengan akar budayanya.

Alimpiado yang digelar 30-31 Oktober menurut Zaini sebagai pembuka dari langkah-langkah selanjutnya untuk tetap mempertahankan eksistensi permainan tradisional.
(ema/ern)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Foto Lain


Baca juga :