Berita Lain

Indeks Berita

Jumat, 30/10/2009 08:45 WIB
Terkenang Gado-gado Tengku Angkasa
Ema Nur Arifah - detikBandung



Bandung - Rudolf, pria paruh baya asal Bogor ini mengaku sudah lama tidak menengok Bandung setelah menyelesaikan kuliahnya 29 tahun lalu di Universitas Parahyangan. Ketika ada kesempatan untuk singgah ke Bandung, tempat makan yang pertama dicarinya adalah gado-gado di Jalan Tengku Angkasa.

"Setelah 29 tahun, sekarang baru menikmati lagi gado-gado ini dan ternyata masih ada," ujar Rudolf saat ditemui sedang bersantap gado-gado di Rumah Makan Tengku Angkasa, Kamis (29/10/2009).

Dulu, ujar Rudolf, dia dikenalkan seorang kawannya tempat makan ini. "Dan rasanya tidak berubah masih seperti dulu," kenangnya. Rasa salut pun disampaikan Rudolf karena gado-gado Tengku Angkasa masih bisa bertahan sampai sekarang.

Memang patut diacungkan jempol. Sudah hampir 40 tahun lebih warung Gado-gado Tengku Angkasa bertahan. Dituturkan Yeni Yuliawati (49), tahun 1968, Atikah (alm), mertuanya, membuka warung gado-gado dan nasi rames di rumahnya Jalan Tengku Angkasa.

Atikah membuka warung tersebut setelah memutuskan pensiun dari pekerjaannya sebagai koki hotel. "Setelah pensiun, ibu membuka warung ini," tutur Yeni yang dipercaya untuk mengelola warung ini setelah Atikah meninggal tahun 2001.

Dari awal dibuka, pelanggan sudah ramai. Dulu, kenang Yeni, pelanggan banyak dari kantor LIPI. Mereka bisa memesan sampai ratusan bungkus. Kini, berkat promosi dari mulut ke mulut, pelanggan datang dari berbagai kalangan. Entah itu mahasiswa, pegawai kantoran juga mahasiswa.

Pelanggan tak berhenti datang terlebih menjelang makan siang. Yeni dan tujuh pegawainya pun kian disibukan dengan pesanan-pesanan gado-gado di samping pelanggan yang memilih makan nasi rames.

Yeni menuturkan, dulu ketika usaha baru dimulai, ibunya pernah bercerita hanya cukup dengan satu panci kecil bumbu kacang, kini, dalam satu hari bisa menghabiskan sampai 3 panci besar bumbu kacang atau sekitar 18-20 kilogram kacang tanah.

"Apalagi kalau Lebaran bisa sampai 6 panci," ujar istri dari putra pertama Atikah, Harjo. Yeni mengaku mereka tidak berpromosi apapun. Meski sesekali Gado-gado Tengku Angkasa diajak dalam festival-festival kuliner.

Tak hanya akhir pekan, setiap harinya, Gado-gado Tengku Angkasa hiruk pikuk pembeli. Meski begitu Yeni tidak berniat mengubah menjadi rumah makan dengan metode pelayanan yang kaku. Pelayanan masih seperti dulu. Pelanggan cukup memesan lewat jendela rumah yang dibuka. Yeni dan pegawainya langsung sigap meracik gado-gado.

Gado-gado Tengku Angkasa dibuka sejak pukul 09.00 WIB dan tutup pukul 17.00 WIB.(ema/avi)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Foto Lain


Baca juga :