Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Jumat, 20/11/2009 10:35 WIB
YBJB Luncurkan Buku Saku Batik -
Selasa, 10/11/2009 10:10 WIB
The Teacher's Way
Saat Para Guru Berkarya -
Minggu, 08/11/2009 10:18 WIB
AWI Ciptakan Bisnis dari Angklung -
Jumat, 06/11/2009 09:11 WIB
Jasad Manggung di Thailand -
Kamis, 05/11/2009 09:24 WIB
Film Indonesia Kehilangan Ruh -
Kamis, 05/11/2009 09:10 WIB
Menonton Rendra dalam Kantata Takwa
Indeks Berita
Jumat, 23/10/2009 10:24 WIB
New Media Art
Berkembang Pesat Namun Kurang Tempat
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

ilustrasi
Bandung -
Semenjak teknologi seni digital mulai ramai di Indonesia sejak tahun 2003, banyak seniman-seniman konvensional maupun seniman baru yang mencoba merambah ranah seni bidang ini. Tak terkecuali di Bandung, seni digital atau yang lebih sering disebut new media art telah menunjukan lompatan berarti dari periode ke periode.
"Kalau kita lihat berdasar urutan waktu dari tahun 2007, dimana Nu Substance pertama diselenggarakan hingga kini digelar untuk ketiga kalinya telah mencerminkan Bandung menyimpan potensi yang cukup besar untuk seni ini," tutur Gustaff Hariman Iskandar dari Common Room dalam Diskusi Resonance Nu Substance 2009 di CCF Bandung, Kamis (22/10/2009).
Perubahan yang dimaksudkan Gustaff tidak melulu berkaitan dengan bentuk karya seninya. Melainkan juga teknologi yang digunakan untuk menghasilkan karya tersebut.
"Setelah tiga kali Nu Substance diselenggarakan, semakin terlihat adanya perubahan teknologi yang akhirnya membuahkan karya-karya baru yang tidak terbayangkan sebelumnya," imbuh Gustaff.
Gustaff menambahkan, dengan bertransformasinya karya digital anak muda Bandung dalam waktu singkat, mengindikasikan banyak karya yang belum terekspos oleh publik.
"Kalau dalam waktu singkat bisa muncul berbagai karya kreatif dari orang-orang baru, saya yakin banyak karya seniman muda Bandung yang masih belum terekspos," sambung Gustaff.
Ada apa gerangan dengan kondisi ini? Ternyata minimnya lahan untuk memamerkan atau mendemokan karya menjadi salah satu batu ganjalan bagi seniman new media art untuk menampilkan karya-karya mereka.
Seperti dituturkan oleh Ega, perwakilan Open Labs yang juga seorang seniman new media. "Seniman new media dari Bandung sebenarnya sangat banyak, terbukti dari beberapa karya yang dipamerkan sekarang sebagian di antaranya berasal dari nama baru di dunia new media art. Namun karena jarang ada kesempatan menampilkan di depan publik, mereka
lebih memilih menjadikan karya untuk koleksi pribadi," tuturnya.
Kondisi ini tentu membuat para seniman media art berada di posisi yang tidak menguntungkan. Karenanya, Gustaff mewakili seniman-seniman new media Bandung berencana untuk terus 'menggempur' publik dengan pameran-pameran New Media Art seperti Nu Substance.
"Ke depan, kalau acara semacam ini bisa menjadi agenda rutin. Para seniman new media art tidak akan malas atau bosan membuat karya. Malah yang ada ingin membuat dan membuat terus. Selain itu, kami dari Common Rooms, Openlabs dan mungkin nanti akan ada kontribusi dari pihak lain untuk membuat buku yang membahas mengenai new media. Mudah-mudahan dengan begini semakin banyak pihak yag tertarik untuk menggarap ranah seni ini," tandas Gustaff.
(dip/ema)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
New Media Art
Berkembang Pesat Namun Kurang Tempat
Pradipta Nugrahanto - detikBandung
ilustrasi
"Kalau kita lihat berdasar urutan waktu dari tahun 2007, dimana Nu Substance pertama diselenggarakan hingga kini digelar untuk ketiga kalinya telah mencerminkan Bandung menyimpan potensi yang cukup besar untuk seni ini," tutur Gustaff Hariman Iskandar dari Common Room dalam Diskusi Resonance Nu Substance 2009 di CCF Bandung, Kamis (22/10/2009).
Perubahan yang dimaksudkan Gustaff tidak melulu berkaitan dengan bentuk karya seninya. Melainkan juga teknologi yang digunakan untuk menghasilkan karya tersebut.
"Setelah tiga kali Nu Substance diselenggarakan, semakin terlihat adanya perubahan teknologi yang akhirnya membuahkan karya-karya baru yang tidak terbayangkan sebelumnya," imbuh Gustaff.
Gustaff menambahkan, dengan bertransformasinya karya digital anak muda Bandung dalam waktu singkat, mengindikasikan banyak karya yang belum terekspos oleh publik.
"Kalau dalam waktu singkat bisa muncul berbagai karya kreatif dari orang-orang baru, saya yakin banyak karya seniman muda Bandung yang masih belum terekspos," sambung Gustaff.
Ada apa gerangan dengan kondisi ini? Ternyata minimnya lahan untuk memamerkan atau mendemokan karya menjadi salah satu batu ganjalan bagi seniman new media art untuk menampilkan karya-karya mereka.
Seperti dituturkan oleh Ega, perwakilan Open Labs yang juga seorang seniman new media. "Seniman new media dari Bandung sebenarnya sangat banyak, terbukti dari beberapa karya yang dipamerkan sekarang sebagian di antaranya berasal dari nama baru di dunia new media art. Namun karena jarang ada kesempatan menampilkan di depan publik, mereka
lebih memilih menjadikan karya untuk koleksi pribadi," tuturnya.
Kondisi ini tentu membuat para seniman media art berada di posisi yang tidak menguntungkan. Karenanya, Gustaff mewakili seniman-seniman new media Bandung berencana untuk terus 'menggempur' publik dengan pameran-pameran New Media Art seperti Nu Substance.
"Ke depan, kalau acara semacam ini bisa menjadi agenda rutin. Para seniman new media art tidak akan malas atau bosan membuat karya. Malah yang ada ingin membuat dan membuat terus. Selain itu, kami dari Common Rooms, Openlabs dan mungkin nanti akan ada kontribusi dari pihak lain untuk membuat buku yang membahas mengenai new media. Mudah-mudahan dengan begini semakin banyak pihak yag tertarik untuk menggarap ranah seni ini," tandas Gustaff.
(dip/ema)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




