Berita Lain

Indeks Berita

Senin, 12/10/2009 09:30 WIB
Jangan Asal Comot Font
Pradipta Nugrahanto - detikBandung



Bandung - Di zaman yang serba digital, kebebasan memilih font untuk berkreasi terbuka lebar. Teknologi internet semakin mempermudah kita untuk mencomot aneka font yang telah diciptakan sebelumnya. Namun jangan asal comot, karena bisa membuat karya melenceng dari konsepnya?

"Sebuah teks, tidak hanya dibaca secara verbal tapi juga secara visual. Termasuk di dalamnya dalam karya seni, salah satunya adalah musik yang tercermin dari cover album dan artwork si musisi," tutur Heri Sutresna a.k.a Ucok Homicide dari Rumah Grafis TYP;O, disela-sela Seminar Tipografi 'Kreatifitas Dalam Mengolah Huruf' pada eksibisi Types Are Fun di Gedung Indonesia Menggugat, Minggu (11/10/2009).

Ucok menambahkan, musik sebagai bentuk dan komoditas kultural seperti layaknya karya seni lainnya, memerlukan pembeda simbolis lewat beragam cara. Salah satunya adalah tipografi.

"Dari tipografi yang tercermin di cover album, banyak yang ingin disampaikan si musisi. Semisal font band-band metal yang semrawut dan nyaris sulit dibaca mencerminkan musik mereka yang bebas dan bukan konsumsi publik sembarangan.

Selain itu, font-font grup hiphop yang terinspirasi dari font militer juga mencerminkan musik mereka yang tajam dan berlirik pedas. Lain lagi dengan tipografi band newschool hardcore yang sedikit banyak terinspirasi
team baseball kampus lebih dikarenakan banyak grup-grup HC yang lahir dari generasi kampus di Amerika.

Disela-sela pemaparannya, Ucok juga menampilkan cover-cover band luar negeri yang memiliki makna dibalik tipografinya. Seperti Public Enemy, Metallica, hingga cover-cover band lokal seperti Homogenic, Pure Saturday, Seringai, Rock and Roll Mafia dan Vincent Vega.

"Grup-grup itu memakai font yang mereka kreasikan sendiri. Kalaupun mencomot yang sudah ada, mereka tidak asal-asalan, disesuaikan dengan musik dan tema si album," tutur Ucok.

Pada akhir seminar, Ucok sempat menampilkan cover-cover band lokal yang dianggap asal comot.

"Ini yang saya bisa bilang 'keliru' dalam memakai tipografi. Ada tipografi album salah satu band yang sama persis dengan tipografi sebuah lembaga sosial yang sama sekali tidak nyambung dengan musik mereka. Selain itu ada juga yang nyata-nyata mencomot font Arial yang dibuat gepeng. Ingat, semua font sudah punya makna dari si empunya. Jadi, terinspirasi boleh, tapi jangan asal pakai," ujar Ucok disambut riuh tawa peserta seminar.

Jadi, siap membuat font kreasi sendiri?(dip/ema)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Foto Lain


Baca juga :