Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Sabtu, 31/10/2009 13:05 WIB
Rock n' Roll Hair Cutting
Dilayani Kapster-kapster Cantik -
Sabtu, 31/10/2009 10:18 WIB
Rock n' Roll Hair Cutting
Digandrungi Band Indie dan Major Label -
Sabtu, 31/10/2009 08:56 WIB
Ubah Gaya Rambut ala Rock n' Roll -
Rabu, 28/10/2009 11:02 WIB
Pasarkan Jab Secara Door to Door -
Rabu, 28/10/2009 08:19 WIB
Distro pun Bisa Bela Diri -
Sabtu, 17/10/2009 09:10 WIB
RockHouse Festival
Berburu Clothing Murah Tapi Tidak Murahan
Indeks Berita
Kamis, 08/10/2009 13:50 WIB
Ecofashion, Selamat Tinggal Serat Kapas
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung -
Selama ini, bahan katun yang berasal dari serat kapas dianggap sebagai bahan yang paling nyaman untuk dibuat sebagai pakaian. Namun ternyata, setelah sekian lama digunakan, bahan kapas dinilai sebagai bahan yang paling tidak ramah lingkungan.
"Kapuk membutuhkan lahan yang luas, banyak menyerap pestisida, sudah begitu bagian pohonnya hanya kapuknya yang bisa digunakan. Lainnya tidak," tutur Yufie Safitri, desainer kostum berbahan serat bambu dalam acara Sunset Rendevous Bamboo and Urban Culture di Eplex PVJ Rabu, (7/9/2009).
Menurut Yufie, saat ini sudah saatnya memikirkan bahan alternatif yang bisa digunakan untuk menggantikan peran kapas untuk memenuhi kebutuhan sandang masyarakat.
Beberapa serat alami yang sedang dikembangkan para pakar fashion adalah serat bambu, serat nenas dan serat pisang.
"Sejak sekitar tahun 2004 para peneliti fashion dunia sudah mulai menganalisa bahan pengganti kapas. Yang paling banyak dipakai adalah bahan serat bambu dan sangat in," ujarnya.
Yufie menambahkan, beberapa produsen kain yang menggunakan bahan serat bambu adalah Zara (Inggris) dan Top Shop (Swedia).
"Kalau bahan serat bambu memang masih belum ada yang buatan lokal karena harganya cukup mahal, kalau serat nenas sudah ada. Biasanya dibuat manual dengan alat tenun," imbuh Yufie.
Yufie sendiri masih berupaya mengembangkan kostum-kostum busana unik dengan bahan serat bambu. "Untuk sementara saya dan teman-teman memang mengembangkan kostum. Belum berlanjut ke busana sehari-hari, mudah-mudahan ke depan bisa ke arah sana," tandas Yufie.
(ema/ern)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Ecofashion, Selamat Tinggal Serat Kapas
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

"Kapuk membutuhkan lahan yang luas, banyak menyerap pestisida, sudah begitu bagian pohonnya hanya kapuknya yang bisa digunakan. Lainnya tidak," tutur Yufie Safitri, desainer kostum berbahan serat bambu dalam acara Sunset Rendevous Bamboo and Urban Culture di Eplex PVJ Rabu, (7/9/2009).
Menurut Yufie, saat ini sudah saatnya memikirkan bahan alternatif yang bisa digunakan untuk menggantikan peran kapas untuk memenuhi kebutuhan sandang masyarakat.
Beberapa serat alami yang sedang dikembangkan para pakar fashion adalah serat bambu, serat nenas dan serat pisang.
"Sejak sekitar tahun 2004 para peneliti fashion dunia sudah mulai menganalisa bahan pengganti kapas. Yang paling banyak dipakai adalah bahan serat bambu dan sangat in," ujarnya.
Yufie menambahkan, beberapa produsen kain yang menggunakan bahan serat bambu adalah Zara (Inggris) dan Top Shop (Swedia).
"Kalau bahan serat bambu memang masih belum ada yang buatan lokal karena harganya cukup mahal, kalau serat nenas sudah ada. Biasanya dibuat manual dengan alat tenun," imbuh Yufie.
Yufie sendiri masih berupaya mengembangkan kostum-kostum busana unik dengan bahan serat bambu. "Untuk sementara saya dan teman-teman memang mengembangkan kostum. Belum berlanjut ke busana sehari-hari, mudah-mudahan ke depan bisa ke arah sana," tandas Yufie.
(ema/ern)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (1 Komentar)




