Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Selasa, 27/10/2009 09:09 WIB
Menginap di Hijaunya Panorama Lembah Ciumbuleuit -
Kamis, 10/09/2009 13:43 WIB
Ebo Guest House
Jadi Rebutan Wisatawan Lokal Saat Lebaran -
Kamis, 10/09/2009 10:26 WIB
Ebo Guest House
Tanpa Plang Nama, Tetap Kebanjiran Pengunjung -
Kamis, 10/09/2009 09:14 WIB
Ebo Guest House
Hadirkan Nuansa Hotel Klasik Dalam Rumah -
Jumat, 28/08/2009 13:49 WIB
Masjid Agung Tak Lagi Seperti Dulu -
Jumat, 28/08/2009 10:18 WIB
Masjid Agung Bandung
Gelar Pelatihan Khatib Sejak Tahun 1956
Indeks Berita
Jumat, 28/08/2009 09:38 WIB
Mengintip Ramadan di Masjid Agung Bandung
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung -
Siapa tak mengenal Masjid Raya atau dikenal dengan Masjid Agung Bandung. Bahkan sebagian warga luar Bandung pun kerap menyempatkan bertandang untuk
shalat sembari melepas lelah setelah jalan-jalan di Kota Bandung.
Aktivitas warga di Masjid Agung sepertinya tidak pernah surut, terlebih di bulan Ramadan. Di masjid yang berdiri tahun 1810 ini, hampir tidak pernah ada waktu kosong dari mulai shubuh hingga lepas tarawih.
Ketua Panitia Ramadan Masjid Agung Bandung Heri Indracahyana menuturkan sejak shubuh sudah kegiatan kuliah shubuh remaja dan dewasa. Disambung dengan majelis ta'lim hingga menjelang dzuhur.
"Lalu dilanjutkan tadarus hingga lepas Ashar dan buka bersama. Usai buka, para jamaah biasa shalat maghrib bersama dilanjutkan isya dan tarawihan. Kegiatan ini sudah rutin setiap Ramadan dari berdirinya Masjid Agung Bandung," tutur Heri.
Namun, Heri mengungkapkan, kemasan kegiatan Ramadan sekarang dengan dulu berbeda. Dulu, kegiatan kegiatannya masih merakyat dan tradisional, sedangkan sekarang sudah mulai mengusung tema yang lebih modern.
"Dulu semua masih serba terbatas. Beda dengan sekarang yang sudah semakin maju baik peradaban maupun teknologinya. Konten ceramah yang disampaikan juga disesuaikan dengan peradaban zaman sekarang," ujar Heri.
Menurut Heri, di bulan Ramadan, Masjid Agung kerap menggelar pesantren kilat bekerjasama dengan sejumlah sekolah di Bandung.
"Biasanya sebelum puasa dari pihak sekolah sudah menghubungi kami untuk menyelenggarakan sanlat untuk anak didiknya. Pengajar-pengajarnya kami ambil
dari mudaris Masjid Agung Bandung dan sejumlah remaja masjid," terang Heri.
Durasi pesantren kilat berkisar tiga hari hingga satu minggu. Kegiatan dimulai dari siang hingga menjelang maghrib. "Untuk kegiatan semacam ini, kita tidak pernah mematok biaya pesantren kilat, kami adakan musyawarah antara pihak DKM dan pengelola sekolah," sambung Heri.
Lepas dzuhur, suasana halaman masjid mendadak ramai. Banyak pedagang kaki lima yang mulai menggelar lapaknya di halaman masjid. Menyambut para jemaah masjid yang juga kerap menyemut untuk berbelanja di bawah teriknya matahari.
Misalnya, salah satu pengunjung Masjid Agung Bandung, Inayah (20). Dia menuturkan, dirinya sengaja berbelanja kerudung karena koleksinya banyak dan harganya lebih murah ketimbang di tempat-tempat lainnya.
"Sengaja datang kesini sambil shalat dzuhur, setiap Ramadan memang sering kesini. Kalau ada yang menarik biasanya saya beli, lagian harganya bersahabat di
kantong," tuturnya seraya sibuk memilih kerudung.
Selain pedagang busana muslim, ada juga pedagang kurma, strawberry dan mainan. Namun harga yang ditawarkan cukup miring dan bisa tawar menawar.
Menjelang sore, Masjid Agung semakin banyak pengunjung. Tak hanya berdiam di dalam masjid atau duduk-duduk di pelataran masjid. Banyak yang memanfaatkan wisata menara Masjid Agung.
Dengan biaya yang cukup murah, hanya Rp 3 ribu saja, sudah bisa menikmati pemandangan kota Bandung dari ketinggian menara.
Puas berwisata, mencari hidangan berbuka tentu tidak sulit. Beraneka hidangan mulai es campur, kolak, candil, kurma hingga makanan berat seperti sate padang dan bakso dijajakan. Harga yang dipatok pun tidak terlalu mahal. Berkisar antara Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu untuk seporsi kudapan berbuka. Atau jika ingin ta'jil gratis, Masjid Agung setiap harinya menyediakan untuk para jemaah.
Setiap harinya, tak kurang dari 15 ribu jemaah memadati masjid yang berada di alun-alun Kota Bandung ini. Bagi yang ingin merasakan suasana Ramadan yang berbeda, Masjid Agung bisa jadi alternatif untuk wisata religi.(dip/ema)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Mengintip Ramadan di Masjid Agung Bandung
Pradipta Nugrahanto - detikBandung
shalat sembari melepas lelah setelah jalan-jalan di Kota Bandung.
Aktivitas warga di Masjid Agung sepertinya tidak pernah surut, terlebih di bulan Ramadan. Di masjid yang berdiri tahun 1810 ini, hampir tidak pernah ada waktu kosong dari mulai shubuh hingga lepas tarawih.
Ketua Panitia Ramadan Masjid Agung Bandung Heri Indracahyana menuturkan sejak shubuh sudah kegiatan kuliah shubuh remaja dan dewasa. Disambung dengan majelis ta'lim hingga menjelang dzuhur.
"Lalu dilanjutkan tadarus hingga lepas Ashar dan buka bersama. Usai buka, para jamaah biasa shalat maghrib bersama dilanjutkan isya dan tarawihan. Kegiatan ini sudah rutin setiap Ramadan dari berdirinya Masjid Agung Bandung," tutur Heri.
Namun, Heri mengungkapkan, kemasan kegiatan Ramadan sekarang dengan dulu berbeda. Dulu, kegiatan kegiatannya masih merakyat dan tradisional, sedangkan sekarang sudah mulai mengusung tema yang lebih modern.
"Dulu semua masih serba terbatas. Beda dengan sekarang yang sudah semakin maju baik peradaban maupun teknologinya. Konten ceramah yang disampaikan juga disesuaikan dengan peradaban zaman sekarang," ujar Heri.
Menurut Heri, di bulan Ramadan, Masjid Agung kerap menggelar pesantren kilat bekerjasama dengan sejumlah sekolah di Bandung.
"Biasanya sebelum puasa dari pihak sekolah sudah menghubungi kami untuk menyelenggarakan sanlat untuk anak didiknya. Pengajar-pengajarnya kami ambil
dari mudaris Masjid Agung Bandung dan sejumlah remaja masjid," terang Heri.
Durasi pesantren kilat berkisar tiga hari hingga satu minggu. Kegiatan dimulai dari siang hingga menjelang maghrib. "Untuk kegiatan semacam ini, kita tidak pernah mematok biaya pesantren kilat, kami adakan musyawarah antara pihak DKM dan pengelola sekolah," sambung Heri.
Lepas dzuhur, suasana halaman masjid mendadak ramai. Banyak pedagang kaki lima yang mulai menggelar lapaknya di halaman masjid. Menyambut para jemaah masjid yang juga kerap menyemut untuk berbelanja di bawah teriknya matahari.
Misalnya, salah satu pengunjung Masjid Agung Bandung, Inayah (20). Dia menuturkan, dirinya sengaja berbelanja kerudung karena koleksinya banyak dan harganya lebih murah ketimbang di tempat-tempat lainnya.
"Sengaja datang kesini sambil shalat dzuhur, setiap Ramadan memang sering kesini. Kalau ada yang menarik biasanya saya beli, lagian harganya bersahabat di
kantong," tuturnya seraya sibuk memilih kerudung.
Selain pedagang busana muslim, ada juga pedagang kurma, strawberry dan mainan. Namun harga yang ditawarkan cukup miring dan bisa tawar menawar.
Menjelang sore, Masjid Agung semakin banyak pengunjung. Tak hanya berdiam di dalam masjid atau duduk-duduk di pelataran masjid. Banyak yang memanfaatkan wisata menara Masjid Agung.
Dengan biaya yang cukup murah, hanya Rp 3 ribu saja, sudah bisa menikmati pemandangan kota Bandung dari ketinggian menara.
Puas berwisata, mencari hidangan berbuka tentu tidak sulit. Beraneka hidangan mulai es campur, kolak, candil, kurma hingga makanan berat seperti sate padang dan bakso dijajakan. Harga yang dipatok pun tidak terlalu mahal. Berkisar antara Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu untuk seporsi kudapan berbuka. Atau jika ingin ta'jil gratis, Masjid Agung setiap harinya menyediakan untuk para jemaah.
Setiap harinya, tak kurang dari 15 ribu jemaah memadati masjid yang berada di alun-alun Kota Bandung ini. Bagi yang ingin merasakan suasana Ramadan yang berbeda, Masjid Agung bisa jadi alternatif untuk wisata religi.(dip/ema)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




