Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Senin, 16/11/2009 10:06 WIB
Ajarkan Origami Keliling Indonesia -
Sabtu, 07/11/2009 11:00 WIB
20 Tahun Terbang dengan Gantole
Koesnadi: Makin Tua Makin Takut Terbang -
Sabtu, 07/11/2009 08:56 WIB
20 Tahun Terbang dengan Gantole -
Jumat, 30/10/2009 10:43 WIB
Iskandarsyah Berian
Tinggalkan Kick Boxing untuk Berdakwah -
Kamis, 22/10/2009 14:10 WIB
Sundea 'Salam Matahari'
Tidak Ada Tulisan Jelek -
Kamis, 22/10/2009 10:04 WIB
Sundea 'Salam Matahari'
Dokumentasikan Kehidupan di Buku Harian
Indeks Berita
Kamis, 27/08/2009 10:20 WIB
Ariani Darmawan
Berbagi Lewat Rumah Buku
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung -
Ariani Darmawan, kecintaannya terhadap buku membuatnya ingin berbagi. Sebuah rumah baca, Rumah Buku di Jalan Hegarmanah pun didirikannya untuk memberikan kemudahan bagi pencari buku literatur tanpa perlu kerepotan membeli.
Wanita kelahiran Bandung 18 Maret 1977 ini memulai hobinya dengan membaca buku-buku novel pop pada saat duduk di bangku sekolah menengah.
"Serupa seperti remaja-remaja lain, saya bisa tertarik dengan bacaan berkat sejumlah novel seperti Lima Sekawan, STOP, Alfred Hitchcock dan novel-novel sejenis lainnya, waktu itu sama sekali belum terasa kalau buku bisa mengantarkan saya menjadi seperti sekarang," ujar Ariani.
Perkenalan lebih dekat dengan buku saat menggali ilmu di jurusan Arsitek Unpar. Ketika menyusun skripsi, Ariani dikagetkan oleh dosennya karena harus membaca buku-buku filsafat.
"Saya sempat kaget saat bimbingan skripsi, kirain mau disuruh baca buku-buku arsitektur. Ternyata malah disuruhnya baca buku-buku filsafat. Lama-lama saya
baru mengerti, kalau ingin memahami sesuatu jangan hanya kulitnya saja. Pahami hingga akar-akarnya. Dari mana dapatnya? Ya dari buku itu," seloroh Ariani.
Saat itu mendapatkan buku-buku impor di Indonesia masih sulit. Ariani kerap meminjam dari perpustakaan atau berburu buku-buku filsafat bekas di Palasari.
"Zaman itu masih krismon-krismonnya Indonesia, semakin susahlah cari buku impor baru yang terjangkau. Jadinya saya sibuk fotokopi sana sini dan mengaduk-aduk Palasari untuk mendapatkan buku yang diminta dibaca oleh dosen saya," tuturnya lagi.
Setelah menamatkan kuliah S1-nya, penggemar musik Gypsy ini berkesempatan melanjutkan sekolahnya ke University of Chicago, Amerika Serikat. Disanalah Ariani semakin mendapatkan penyegaran akan pentingnya akses informasi dari buku.
"Waktu itu tahun 1999. Betapa kagetnya saya karena di negara adikuasa itu untuk mencari buku begitu mudahnya. Disetiap perempatan ada perpustakaan, toko buku pun tersebar dimana-mana. Sudah begitu harganya terjangkau. Buku-buku bekaspun masih rapi dan layak baca," tutur Ariani.
Berkaca pada kondisi itu, Ariani merasa perlu adanya media serupa di Indonesia. Ariani pun memborong ratusan buku-buku bekas dari uang tabungannya untuk membuat Rumah Buku.
"Prinsip saya, knowledge is a power. Kalau bukunya saja sulit, bagaimana orang bisa tahu. Untunglah saya mendapat rumah kosong peninggalan kakek saya. Jadilah
saya mendirikan Rumah Buku," ujar Ariani.
Tempat yang digunakannya adalah rumah tua milik orang tuanya di Jalan Hegarmanah. Rumah tersebut ditata ulang dengan dekorasi yang simpel tapi unik. Rak-rak yang terbuat dari kayu pinus dan batu bata, atau tudung lampu dari kardus kotak lampu.
"Yah, bagi saya yang penting buku-bukunya bisa semakin lengkap. Dekornya saya biarkan apa adanya. Kreatifitas saya saja dalam menyusunnya," tambah Ariani.
Kini setelah tujuh tahun berjalan, koleksi buku Ariani yang disimpan di Rumah Buku telah mencapai 3500-an buku. Terdiri dari berbagai genre, mulai filsafat, desain hingga sastra.
Ketika ditanya apakah buku sudah bisa memberi penghidupan yang layak, Ariani menjawab dengan lugas dan bijak. "Awal saya mendirikan Rumah Buku, saya hanya ingin orang Indonesia mendapat kemudahan mendapatkan ilmu dari sebuah 'rumah'. Tapi dari sana saya mendapat banyak kenalan orang yang ternyata mengajak saya kedalam berbagai proyek yang memberikan pemasukan yang tidak bisa dibilang sedikit. Selain itu jumlah anggota yang terus bertambah membuat saya tidak kesulitan untuk menambah koleksi buku di Rumah Buku sehingga independensinya tetap terjaga," tutur Ariani.(dip/ema)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Ariani Darmawan
Berbagi Lewat Rumah Buku
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Wanita kelahiran Bandung 18 Maret 1977 ini memulai hobinya dengan membaca buku-buku novel pop pada saat duduk di bangku sekolah menengah.
"Serupa seperti remaja-remaja lain, saya bisa tertarik dengan bacaan berkat sejumlah novel seperti Lima Sekawan, STOP, Alfred Hitchcock dan novel-novel sejenis lainnya, waktu itu sama sekali belum terasa kalau buku bisa mengantarkan saya menjadi seperti sekarang," ujar Ariani.
Perkenalan lebih dekat dengan buku saat menggali ilmu di jurusan Arsitek Unpar. Ketika menyusun skripsi, Ariani dikagetkan oleh dosennya karena harus membaca buku-buku filsafat.
"Saya sempat kaget saat bimbingan skripsi, kirain mau disuruh baca buku-buku arsitektur. Ternyata malah disuruhnya baca buku-buku filsafat. Lama-lama saya
baru mengerti, kalau ingin memahami sesuatu jangan hanya kulitnya saja. Pahami hingga akar-akarnya. Dari mana dapatnya? Ya dari buku itu," seloroh Ariani.
Saat itu mendapatkan buku-buku impor di Indonesia masih sulit. Ariani kerap meminjam dari perpustakaan atau berburu buku-buku filsafat bekas di Palasari.
"Zaman itu masih krismon-krismonnya Indonesia, semakin susahlah cari buku impor baru yang terjangkau. Jadinya saya sibuk fotokopi sana sini dan mengaduk-aduk Palasari untuk mendapatkan buku yang diminta dibaca oleh dosen saya," tuturnya lagi.
Setelah menamatkan kuliah S1-nya, penggemar musik Gypsy ini berkesempatan melanjutkan sekolahnya ke University of Chicago, Amerika Serikat. Disanalah Ariani semakin mendapatkan penyegaran akan pentingnya akses informasi dari buku.
"Waktu itu tahun 1999. Betapa kagetnya saya karena di negara adikuasa itu untuk mencari buku begitu mudahnya. Disetiap perempatan ada perpustakaan, toko buku pun tersebar dimana-mana. Sudah begitu harganya terjangkau. Buku-buku bekaspun masih rapi dan layak baca," tutur Ariani.
Berkaca pada kondisi itu, Ariani merasa perlu adanya media serupa di Indonesia. Ariani pun memborong ratusan buku-buku bekas dari uang tabungannya untuk membuat Rumah Buku.
"Prinsip saya, knowledge is a power. Kalau bukunya saja sulit, bagaimana orang bisa tahu. Untunglah saya mendapat rumah kosong peninggalan kakek saya. Jadilah
saya mendirikan Rumah Buku," ujar Ariani.
Tempat yang digunakannya adalah rumah tua milik orang tuanya di Jalan Hegarmanah. Rumah tersebut ditata ulang dengan dekorasi yang simpel tapi unik. Rak-rak yang terbuat dari kayu pinus dan batu bata, atau tudung lampu dari kardus kotak lampu.
"Yah, bagi saya yang penting buku-bukunya bisa semakin lengkap. Dekornya saya biarkan apa adanya. Kreatifitas saya saja dalam menyusunnya," tambah Ariani.
Kini setelah tujuh tahun berjalan, koleksi buku Ariani yang disimpan di Rumah Buku telah mencapai 3500-an buku. Terdiri dari berbagai genre, mulai filsafat, desain hingga sastra.
Ketika ditanya apakah buku sudah bisa memberi penghidupan yang layak, Ariani menjawab dengan lugas dan bijak. "Awal saya mendirikan Rumah Buku, saya hanya ingin orang Indonesia mendapat kemudahan mendapatkan ilmu dari sebuah 'rumah'. Tapi dari sana saya mendapat banyak kenalan orang yang ternyata mengajak saya kedalam berbagai proyek yang memberikan pemasukan yang tidak bisa dibilang sedikit. Selain itu jumlah anggota yang terus bertambah membuat saya tidak kesulitan untuk menambah koleksi buku di Rumah Buku sehingga independensinya tetap terjaga," tutur Ariani.(dip/ema)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




