Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
Indeks Berita
Jumat, 31/07/2009 11:48 WIB
Lembutnya Tahu dari Talaga 1938
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Selain menu-menu tahu yang variatif, keistimewaan tahu di Warung Talaga, Cihampelas Walk, Jalan Cihampelas Bandung, terletak juga pada tahunya. Konon, tahu ini berasal dari pabrik tahu yang sudah berdiri di Bandung sejak tahun 1938.
"Tahu kita langsung dari pabriknya," ujar Tisna (27), pengelola Warung Talaga. Nama Talaga, ucap Tisna, diambil dari nama pabrik tahu Talaga yang ada di Jalan jenderal Ahmad Yani. Di mana sebelumnya dikenal dengan nama tahu Yun Sen.
Kelembutan tahunya, menurut Tisna karena melalui proses penyaringan beberapa kali. "Bahan pewarnanya pun jauh dari bahan merugikan karena kita pakai pewarna alami dari kunyit," ujarnya.
Maka, ujar Tisna, walaupun menu di Warung Talaga sederhana dan bisa dibuat di rumah, tapi kalau tahunya bukan tahu Talaga rasanya juga akan beda.
Pemilik Warung Talaga adalah generasi ketiga dari pendiri Tahu Talaga. Dengan membuat warung, kata Tisna, ingin menyajikan sajian yang berbeda dari tahu Talaga. Sekaligus memperkenalkan tahu Talaga tak hanya untuk Bandung tapi ke seluruh Indonesia.
Hampir setiap hari Warung Talaga ramai oleh pembeli. Konsep warung yang bernuansa Cina-Sunda ini sengaja dijadikan daya tarik di tengah nuansa Cihampelas Walk yang modern. "Jarang kan di mall ada yang seperti ini. Biar enggak ngebosenin," tuturnya.
Sayangnya, di sini pengunjung enggak bisa nyantai. Karena konsepnya seperti warung dan bukan kafe. Jika ramai, pembeli harus rela untuk cepat meninggalkan warung dan memberi kesempatan pada pembeli lainnya.
"Kalau misalnya penuh biasanya kita menawarkan pembeli untuk dibawa pulang," ujar Tisna.
Kalau sedang sepi, dalam satu hari paling tidak bisa mengantongi omset Rp 1 juta. Untuk weekend, minimal Rp 2,5 juta dan kalau sedang ramai bisa mencapai Rp 4 juta-Rp 4,5 juta.(ema/ern)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Lembutnya Tahu dari Talaga 1938
Ema Nur Arifah - detikBandung

"Tahu kita langsung dari pabriknya," ujar Tisna (27), pengelola Warung Talaga. Nama Talaga, ucap Tisna, diambil dari nama pabrik tahu Talaga yang ada di Jalan jenderal Ahmad Yani. Di mana sebelumnya dikenal dengan nama tahu Yun Sen.
Kelembutan tahunya, menurut Tisna karena melalui proses penyaringan beberapa kali. "Bahan pewarnanya pun jauh dari bahan merugikan karena kita pakai pewarna alami dari kunyit," ujarnya.
Maka, ujar Tisna, walaupun menu di Warung Talaga sederhana dan bisa dibuat di rumah, tapi kalau tahunya bukan tahu Talaga rasanya juga akan beda.
Pemilik Warung Talaga adalah generasi ketiga dari pendiri Tahu Talaga. Dengan membuat warung, kata Tisna, ingin menyajikan sajian yang berbeda dari tahu Talaga. Sekaligus memperkenalkan tahu Talaga tak hanya untuk Bandung tapi ke seluruh Indonesia.
Hampir setiap hari Warung Talaga ramai oleh pembeli. Konsep warung yang bernuansa Cina-Sunda ini sengaja dijadikan daya tarik di tengah nuansa Cihampelas Walk yang modern. "Jarang kan di mall ada yang seperti ini. Biar enggak ngebosenin," tuturnya.
Sayangnya, di sini pengunjung enggak bisa nyantai. Karena konsepnya seperti warung dan bukan kafe. Jika ramai, pembeli harus rela untuk cepat meninggalkan warung dan memberi kesempatan pada pembeli lainnya.
"Kalau misalnya penuh biasanya kita menawarkan pembeli untuk dibawa pulang," ujar Tisna.
Kalau sedang sepi, dalam satu hari paling tidak bisa mengantongi omset Rp 1 juta. Untuk weekend, minimal Rp 2,5 juta dan kalau sedang ramai bisa mencapai Rp 4 juta-Rp 4,5 juta.(ema/ern)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




