Berita Lain

Indeks Berita

Jumat, 31/07/2009 10:58 WIB
Pedasnya Tahu Bodo dan Nostalgia Krupuk Banjur
Ema Nur Arifah - detikBandung



Bandung - Ukuran kios mini dengan lebar 3 x 5 meter itu tampak ramai. Tempat duduk yang jumlahnya sedikit pun sesak oleh pembeli. Mereka duduk berjejer menghadap ke arah penjual kios layaknya warung di pinggiran jalan. Sehingga yang tampak hanyalah punggung-punggung mereka.

Aksesoris sangkar burung, perkakas berbahan bambu, juga merahnya kerupuk patani atau dikenal juga kerupuk bondon menggelantung menghiasi kios Warung Talaga Cihampelas Walk, Jalan Cihampelas, Bandung. Deretan toples berisi kerupuk seolah membawa suasana ke jaman tempo dulu.

Seorang pembeli, Dian (19), mahasiswi asal Cimahi ini tampak mengipas- ngipaskan lengan ke depan mulut. Raut wajah yang begitu tampak kepedasan membuat Dian tak bisa berkata-kata. sisa-sisa tahu yang tinggal satu suapan lagi masih ada di atas cobek yang difungsikan sebagai piring.

"Ini tahu bodo, pedas banget mbak," komentar Dian yang mengaku baru pertama kalinya datang ke Warung Talaga. Dengan air mata sedikit menggenang dan desis kepadasan, menurut Dian selain pedas tekstur tahunya juga lembut.

Bukan hanya tahu bodo. Menu-menu di Warung Talaga semuanya serba tahu. "Kita menyediakan snack berbahan tofu," ujar Tisna (27) pengelola Warung Talaga.

Memang, menu tahu sudah tidak asing lagi. Tapi beberapa menu yang ditawarkan memang berbeda. Selain tahu bodo, ada nama lain seperti tahu sumpel, tahu bala, tahu buntel, tahu gondrong, samosa tahu juga tahu bletok.

Pedasnya tahu bodo, karena diramu dengan sambal cabe rawit. Cukup sederhana, cabe rawit merah, bawang putih dan garam. Setelah itu diulek lalu dicampurkan dengan tahu goreng. Tahu gorengnya, menurut Tisna, selain diberi bumbu garam dan vetsin juga diberikan bumbu yang lagi-lagi disebut bumbu rahasia.

Tahu sumpel, tidak beda dengan gorengan gehu (toge tahu-red) khas Sunda. Hanya saja selain tauge, ada penambahann sayuran isi yaitu kol. Dinamakan tahu sumpel karena awalnya isi tahu dikeluarkan, lalu dicampur dengan adonan isi dan dimasukan kembali ke dalam kulit. Kemudian digoreng. Prosesnya mirip dengan pembuatan tahu korowot di Warung Cepot atau tahu berontak Kedai Nyonya Rumah.

Tahu bala juga hampir sama dengan gorengan bala-bala. Tapi sayurannya dicampur dengan potongan-potongan tahu. Nah, kalau tahu buntel terdiri dari tahu, ayam dan udang yang dicincang kemudian dibungkus dengan kulit pangsit. Kulit pangsit diikat dengan sayuran kucai sehingga ikatannya bisa dimakan lalu digoreng.

Kalau tahu gondrong tidak beda dengan tahu buntel, tapi hanya menggunakan bahan isi yaitu udang. Samosa tahu, pastel tahu yang dicampur dengan aroma kari. Selain itu ada kripik gejrot, campuran kripik tahu dan saus gejrot yang berasal dari bumbu petis.

Setiap tahu disajikan dengan sambal atau saus yang berbeda. Ada saos pong atau saus petis, sambal cocol yaitu sambal cabe merah dan sambal kecap cabe rawit serta sambal oncom untuk kerupuk banjur.

Sudah lama sepertinya tidak mencicipi kerupuk banjur. Di Warung Talaga, jajanan masa kecil ini campuran dari kerupuk aci (tepung kanji-red) merah dan kerupuk aci putih kemudian disiramlah dengan sambal oncom. Kriuk... kriuk sekaligus pedas.

Untuk minumannya dari yang dingin, hangat dan panas. Dari mulai kopi tubruk hingga yang tradisional seperti es cingcau.

Harganya juga relatif terjangkau untuk jajanan di Cihampelas Walk. Minuman antara Rp 3.500-Rp 5.500, makanan mulai Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu.(ema/bbn)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Foto Lain


Baca juga :