Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Rabu, 11/11/2009 08:59 WIB
Galeri Kita dalam Bangunan Tahun 1935 -
Rabu, 29/07/2009 11:35 WIB
Sanggar Luhur, Museum Peninggalan Sudjana Kerton -
Rabu, 29/07/2009 09:51 WIB
Warna-warni Ilustrasi Jerman -
Kamis, 18/06/2009 11:48 WIB
Museum Mainan Anak Era 80'an
Habiskan Rp 100 Juta untuk Tambah Koleksi -
Kamis, 18/06/2009 10:56 WIB
Bernostalgia di Museum Mainan Anak Era 80'an
Indeks Berita
Rabu, 29/07/2009 12:58 WIB
Sanggar Luhur Peninggalan Sudjana Kerton Akan Dijual
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Usia studio galeri Sanggar Luhur, Jalan Bukit Pakar Timur No.80, sudah lebih tua dari Selasar Sunaryo yang berjarak sekitar 100 meter di bawahnya. Di tahun 2009 ini, genap menginjak angka 30 tahun. Tapi sayang, pada usia yang seharusnya matang, galeri peninggalan seniman Sudjana Kerton ini akan dijual.
Putri pertama Sudjana Kerton, Tjandra Kerton, mengatakan saat ini hal tersebut pilihan paling realistis untuknya. Sepeninggal ibunya satu setengah tahun yang lalu, Tjandra merasa tidak mampu untuk mengelola lagi warisan ayahnya ini.
"Setelah ditinggalkan ayah, saya kelola bersama ibu. Tapi sepeninggal ibu, saya sendirian," ujar Tjandra yang masih belum berkeluarga ini. Dia pun mengaku belum memiliki gambaran yang jelas dalam pengelolaan Sanggar Luhur.
Diakui Tjandra, kendalanya saat ini terletak pada dana. Di mana untuk biaya operasional saja Tjandra mengaku harus mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri. "Kalau seperti ini terus, saya tidak bisa," ujar Tjandra.
Lagipula, kata Tjandra, dirinya tidak memiliki pengalaman matang dalam seni rupa seperti ayahnya.
Sempat beberapa kali Tjandra mencari pihak-pihak untuk dijadikan sponsor. Namun tidak ada yang tertarik untuk ikut mendukung program-program di Sanggar Luhur.
Meski dalam perkembangannya, Sanggar Luhur pernah mengadakan program yang melibatkan para seniman juga mahasiswa. Tapi beberapa program yang pernah ada pun tidak berumur panjang.
Saat masih bersama ibunya, sempat pula Tjandra membuka kafe di tempat itu. Tapi akhirnya tidak berjalan baik. Karena Tjandra harus merawat ibunya yang sakit, hingga akhirnya meninggal dunia.
Hingga kini, Tjandra mengaku masih dalam suasana berkabung. Dia tidak punya pilihan lain selain menjual Sanggar Luhur. Bahkan sedikit demi sedikit tanah yang semula seluas 8.000 meter persegi pun dijualnya. Kini Sanggar LUhur hanya menempati tanah seluas 2.000 meter persegi.
Tapi Tjandra berharap siapapun pembelinya akan mempertahankan lukisan dinding karena sangat bersejarah.
Memeringati HUT RI pada 17 Agustus nanti, kata Tjandra, dirinya akan menggelar pameran sketsa-sketsa milik ayahnya yang berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia. Bisa jadi, inilah pameran terakhir yang akan digelar di Sanggar Luhur.(ema/bbn)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Sanggar Luhur Peninggalan Sudjana Kerton Akan Dijual
Ema Nur Arifah - detikBandung
Putri pertama Sudjana Kerton, Tjandra Kerton, mengatakan saat ini hal tersebut pilihan paling realistis untuknya. Sepeninggal ibunya satu setengah tahun yang lalu, Tjandra merasa tidak mampu untuk mengelola lagi warisan ayahnya ini.
"Setelah ditinggalkan ayah, saya kelola bersama ibu. Tapi sepeninggal ibu, saya sendirian," ujar Tjandra yang masih belum berkeluarga ini. Dia pun mengaku belum memiliki gambaran yang jelas dalam pengelolaan Sanggar Luhur.
Diakui Tjandra, kendalanya saat ini terletak pada dana. Di mana untuk biaya operasional saja Tjandra mengaku harus mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri. "Kalau seperti ini terus, saya tidak bisa," ujar Tjandra.
Lagipula, kata Tjandra, dirinya tidak memiliki pengalaman matang dalam seni rupa seperti ayahnya.
Sempat beberapa kali Tjandra mencari pihak-pihak untuk dijadikan sponsor. Namun tidak ada yang tertarik untuk ikut mendukung program-program di Sanggar Luhur.
Meski dalam perkembangannya, Sanggar Luhur pernah mengadakan program yang melibatkan para seniman juga mahasiswa. Tapi beberapa program yang pernah ada pun tidak berumur panjang.
Saat masih bersama ibunya, sempat pula Tjandra membuka kafe di tempat itu. Tapi akhirnya tidak berjalan baik. Karena Tjandra harus merawat ibunya yang sakit, hingga akhirnya meninggal dunia.
Hingga kini, Tjandra mengaku masih dalam suasana berkabung. Dia tidak punya pilihan lain selain menjual Sanggar Luhur. Bahkan sedikit demi sedikit tanah yang semula seluas 8.000 meter persegi pun dijualnya. Kini Sanggar LUhur hanya menempati tanah seluas 2.000 meter persegi.
Tapi Tjandra berharap siapapun pembelinya akan mempertahankan lukisan dinding karena sangat bersejarah.
Memeringati HUT RI pada 17 Agustus nanti, kata Tjandra, dirinya akan menggelar pameran sketsa-sketsa milik ayahnya yang berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia. Bisa jadi, inilah pameran terakhir yang akan digelar di Sanggar Luhur.(ema/bbn)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (1 Komentar)




