Berita Lain

Indeks Berita

Rabu, 29/07/2009 11:35 WIB
Sanggar Luhur, Museum Peninggalan Sudjana Kerton
Ema Nur Arifah - detikBandung



Bandung - Galeri berbentuk joglo di Jalan Bukit Pakar Timur itu tampak sepi. Tapi pesona lukisan-lukisan dinding yang memanjang dalam bentuk cenderung pentagonal itu tetap terpancar. Di dindingnya, tergambar keseharian rakyat Indonesia yang kental dalam tradisi.

Lukisan dinding itu adalah replika dari lima lukisan karya seniman Sudjana Kerton. Tertulis di sela-sela lukisan, salah satunya kini berada di kedutaan besar Belanda di Belanda. Satu lukisan lainnya dan merupakan lukisan pertama Indonesia yang dipilih UNICEF bersanding dengan karya pelukis ternama seperti Picasso, Henry Moore, Raoul Dufy dan lainnya.

Di bagian dinding lainnya, terpajang sketsa-sketsa karya Sudjana yang temanya masih berkaitan dengan rakyat Indonesia. Salah satunya ada sketsa belakang Pasar Baru di era kemerdekaan.

Sudjana Kerton meninggal pada 1994. Seniman kelahiran Bandung 22 November 1922 ini dikenal sebagai ilustrator, jurnalis pada masa revolusi Indonesia antara 1945-1949 di surat kabar Patriot. Berbagai karya dihasilkan, mulai sketsa, lukisan, patung yang menggambarkan suasana kemerdekaan Indonesia kala itu.

Selepas itu, Sudjana menggali ilmu di berbagai negara. Namun setelah 25 tahun tinggal di luar negeri dan membangun keluarga di Amerika Serikat, menurut putri pertama Sudjana Kerton yang kini mengelola Sanggar Luhur, Tjandra Kerton, ayahnya kembali bersama ibunya yang warga Amerika ke Indonesia.

"Kecintaan ayah saya ke Indonesia yang membuat dia ingin terus kembali," ujar Tjandra. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, dirinyalah yang diajak turut serta untuk tinggal di Indonesia.

Daerah Bukit Pakar Timur, Bandung, yang kala itu masih sepi dipilih oleh Sudjana untuk mendirikan galeri sekaligus menjadi tempat kediamannya. Peletakan batu pertama dilakukan pada 1996 sampai akhirnya pembangunan usai di tahun 1979.

Dengan nama Sanggar Luhur, Sudjana Kerton melakukan aktivitas kesenian di tempat ini hingga akhir hidupnya pada 1994.

Tentunya, sebagai salah seorang saksi sejarah, nama Sudjana Kerton menjadi penting. Peninggalannya adalah sketsa yang bercerita. Di Sanggar Luhur inilah Sudjana meninggalkan karya-karyanya.

Seiring dengan itu pula, Sanggar Luhur pun menjadi salah satu museum di Bandung tanpa ada catatan pasti kapan diresmikannya.

"Sebelum ayah saya meninggal karya-karyanya kurang laku tapi setelah meninggal banyak orang yang mencari," tutur Tjandra. Setidaknya, kini masih tersisa 300 karya tapi karya-karya kecil berupa sketsa-sketsa. Untuk lukisan di atas kanvas sudah hampir semuanya terjual.

Sepeninggal sang ayah, Tjandra mengelola Sanggar Luhur bersama ibunya. Tapi satu setengah tahun yang lalu, ibunya terkena stroke dan meninggal dunia. Kini Tjandra harus mengelola museum ini sendirian.




Kabar-kabar komunitas di Bandung ada di Forumbandung.(ema/bbn)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Foto Lain


Baca juga :