Berita Lain

Indeks Berita

Rabu, 29/07/2009 09:51 WIB
Warna-warni Ilustrasi Jerman
Ema Nur Arifah - detikBandung



Bandung - Ketika gambar begitu berbicara, ilustrasi menjadi sama pentingnya dari tulisan itu sendiri. Peran ilustrator pun memiliki fungsi yang cukup vital dalam sebuah buku cerita anak.

Seperti karya para ilustrator Jerman yang ditampilkan dalam pameran 'Zeitgenossische Bilderbuchillustration in Deutschland' atau 'Ilustrasi buku- anak-anak Kontemporer di Jerman' di Selasar Sunaryo Art Space yang digelar dari 26 Juli-6 Agustus mendatang.

Pameran hasil kerjasama Goethe Institute dengan museum buku bergambar Troisdorf ini melibatkan 13 seniman buku bergambar atau ilustrator di Jerman yang sudah memiliki nama di dunia internasional. Di antaranya ilustrator seperti Jutta Bauer, Rotrait Susanne Berner, Nadia Budde, Jacky Gleich juga Axel Scheffer.

Mereka, menampilkan lima ilustrasi yang cukup mewakili buku mereka. Di mana karya masing-masing ilustrator memberikan pandangan penciptaan seniman Jerman dalam bidang buku bergambar dalam sepuluh tahun terakhir.

Setiap ilustrator memiliki ciri khas tersendiri dalam membuat karya. Beberapa gambar dibuat detil, penuh warna, begitu bercerita meskipun hanya diiringi teks yang minim.

Seperti karya Karoline Kehr berjudul Schi-Schwa-Schweinehund. Menggambarkan kebiasaan tidak menggosok gigi dan hobi mengkonsumsi makanan manis yang berujung pada gigi berlubang. Dikemas dalam gambar yang menarik yag bisa menarik anak untuk membaca.

Di satu sisi ada ilustrasi yang cenderung absurb tanpa coretan yang jelas tapi cukup menggambarkan cerita yang ingin disampaikan. Seperti Jacky Gleich dengan karyanya 'Mitten in der Nacht'. Mengilustrasikan mimpi buruk dengan warna ilustrasi cenderung gelap dan sketsa yang tidak terlalu tegas.

Meminjam catatan kurator Selasar Sunaryo Agung Hujatnikajenong, 'sebagian memperlihatkan gaya visual yang naif, karikatural, atau komikal. Namun di sisi lain tak lagi memperlihatkan visual khas anak tapi memiliki karakter yang surealistik, absurb, menjadikan karya ini bisa dikonsumsi oleh semua umur'.

Selain dari sisi gambar, pameran ini pun memperlihatkan adanya perbedaan teknik yang digunakan oleh para seniman. Di mana beberapa ilustrator masih menggunakan teknik seni grafis tradisional yang lebih imajinatif dan inovatif, sebagian lainnya mengeskplorasi teknik digital.

Tentunya, menjadi sesuatu yang bisa dijadikan acuan juga bagi Indonesia. Seperti dinyatakan Agung, ketika gempuran televisi internet dan film begitu menggejolak, anak-anak perlu diselamatkan untuk meningkatkan minat baca mereka dengan buku yang inovatif.

Maka, pengemasan melalui ilustrasi harus terus diupayakan oleh para pelaku industri buku khususnya para ilustrator dalam negeri.(ema/bbn)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Foto Lain