Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Senin, 10/11/2008 08:57 WIB
Empuk-empuk Sate Kambing Hadori -
Senin, 10/11/2008 06:59 WIB
Sate Hadori, Berjuang Sejak Jaman Jepang -
Selasa, 21/10/2008 09:08 WIB
Sate Kuda Tingkatkan Vitalitas Seksual -
Selasa, 21/10/2008 08:17 WIB
Eksotisme Daging Kuda di Jalan Veteran -
Rabu, 30/07/2008 08:54 WIB
Kisah Sate Keliling Dari Cimandiri
Indeks Berita
Jumat, 24/07/2009 10:57 WIB
Ada Sate Domba Afrika di Cihampelas
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Rasa penasaran terlintas ketika melihat nama bertulis 'Sate Domba Africa' terpampang besar di tembok depan sebuah rumah makan di pinggiran Jalan Cihampelas. Aroma pembakaran yang khas menyambut di pekarangan rumah makan, membuat penasaran kian menguat.
Barangkali ini akan menjadi pengalaman pertama. Saat begitu akrab dengan sate kambing, sate ayam, atau sate kelinci, adalah hal yang baru mencicipi serpihan rasa dari 'Sate Domba Afrika'.
Seperti halnya Yohannes (40) dan Ahmad (49), yang baru pertama kali datang dan penasaran dengan Sate Domba Afrika. "Kita ingin tahu bagaimana rasanya. Ternyata enak juga. Tapi bukan seperti sate biasa, termasuk penyajiannya," ujar Yohannes.
"Apalagi kita kan kalau makan sate suka dengan sambal kecap, eh ternyata tidak ada. Dikasihnya malah sambal lain," sambung Ahmad tertawa. Ditambahkannya, sate domba Afrika ini lebih mirip barbeque daripada sate.
Daging Tidak Ditusuk
Memang berbeda. Meski disebut sate, tidak akan ditemukan satu tusukan pun di piring. Menurut pengelola Retno Pradiptha Putri (26) atau biasa dipanggil Putri memang beginilah resep asli dari Afrika sana.
Sate Domba Afrika di Jalan Cihampelas No 68 ini adalah franchaise Sate Domba Afrika di Jalan Gajah Mada, Jakarta, yang sudah begitu populer. Di Bandung, rumah makan Sate Domba Afrika baru dibuka tiga minggu yang lalu.
Pemiliknya, menurut Putri, konon memang pernah bertandang ke Afrika dan diperkenalkan dengan resep sate domba Afrika ini ketika dia sakit. Saat menyantap sate ini dia pun langsung sembuh.
Entah memang sate ini menyembuhkan atau tidak, dipraktekanlah resep ini di Indonesia. "Tapi resep di Indonesia di modifikasi lagi," ujar Putri.
Lebih lanjut Putri menuturkan sebenarnya daging domba yang digunakan bukan daging domba Afrika tapi masih domba lokal dari Garut. Disebut Sate Domba Afrika karena proses memasak dan penyajiannya yang mengadaptasi dari negara asalnya.
Sate tidak ditusuk. Daging domba awalnya dibakar di atas arang dalam bentuk potongan-potongan besar selama kurang lebih satu jam. Tidak ada acara kipas mengkipas, selama dibakar daging terus dibolak-balik agar kematangannya merata. Agar daging tidak gosong, di sela-sela proses pembakaran disemprotkan air.
Setelah daging matang di masukan ke dalam dandang dan dikukus antara 2-3 jam di atas pembakaran yang sama sampai daging empuk. Setelah empuk potong-potong menjadi bagian yang lebih kecil lalu bakar lagi sebentar.
Setelah itu potong-potong kembali daging menjadi bagian yang lebih kecil lagi. Kali ini potongannya sudah mirip dengan potongan sate. Masukan daging ke dalam panci kecil dan di sinilah mulai ada sentuhan 'bumbu rahasia' yang mirip dengan kaldu.
Bumbu Berbentuk Kotak Kecil
Saat ditanya apa resep bumbu rahasianya, Putri mengaku tidak tahu karena yang tahu racikannya hanya pemiliknya di Jakarta. Bahkan kokinya sekalipun tidak diberi tahu.
Nah, bumbu rahasia yang berbentuk kotak kecil itu diremukan sehingga berubah jadi serbuk dan ditaburkan ke atas daging yang sudah ada di dalam panci. Kemudian dimasukan pula di dalamnya irisan daging bombay. Setelah itu daging dalam panci dibakar kembali.
Proses selanjutnya adalah yang paling menarik. Agar daging dan 'bumbu rahasia' tercampur, panci tidak disimpan begitu saja di atas pembakaran. Panci tersebut digoyang bolak-balik. Gaya si koki saat melakukannya mirip gaya bartender yang sedang beraksi dengan botol. Cuma minus adegan lempar-melempar panci.
Setelah beberapa menit, daging sate pun siap disajikan di atas piring. Enggak salah kalau ada yang menyebut mirip barbeque atau kambing guling karena proses penyajiannya hampir sama, tanpa tusukan. Dagingnya empuk dengan aroma daging domba yang tidak terlalu terendus.
Seperti dikatakan Julius (24) yang sudah jadi langganan baik di Jakarta maupun Bandung. "Rasanya gurih dan enak mirip kambing guling," ujarnya sambil melahap potongan daging. Yam... yam... yam.(ema/bbn)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Ada Sate Domba Afrika di Cihampelas
Ema Nur Arifah - detikBandung
Barangkali ini akan menjadi pengalaman pertama. Saat begitu akrab dengan sate kambing, sate ayam, atau sate kelinci, adalah hal yang baru mencicipi serpihan rasa dari 'Sate Domba Afrika'.
Seperti halnya Yohannes (40) dan Ahmad (49), yang baru pertama kali datang dan penasaran dengan Sate Domba Afrika. "Kita ingin tahu bagaimana rasanya. Ternyata enak juga. Tapi bukan seperti sate biasa, termasuk penyajiannya," ujar Yohannes.
"Apalagi kita kan kalau makan sate suka dengan sambal kecap, eh ternyata tidak ada. Dikasihnya malah sambal lain," sambung Ahmad tertawa. Ditambahkannya, sate domba Afrika ini lebih mirip barbeque daripada sate.
Daging Tidak Ditusuk
Memang berbeda. Meski disebut sate, tidak akan ditemukan satu tusukan pun di piring. Menurut pengelola Retno Pradiptha Putri (26) atau biasa dipanggil Putri memang beginilah resep asli dari Afrika sana.
Sate Domba Afrika di Jalan Cihampelas No 68 ini adalah franchaise Sate Domba Afrika di Jalan Gajah Mada, Jakarta, yang sudah begitu populer. Di Bandung, rumah makan Sate Domba Afrika baru dibuka tiga minggu yang lalu.
Pemiliknya, menurut Putri, konon memang pernah bertandang ke Afrika dan diperkenalkan dengan resep sate domba Afrika ini ketika dia sakit. Saat menyantap sate ini dia pun langsung sembuh.
Entah memang sate ini menyembuhkan atau tidak, dipraktekanlah resep ini di Indonesia. "Tapi resep di Indonesia di modifikasi lagi," ujar Putri.
Lebih lanjut Putri menuturkan sebenarnya daging domba yang digunakan bukan daging domba Afrika tapi masih domba lokal dari Garut. Disebut Sate Domba Afrika karena proses memasak dan penyajiannya yang mengadaptasi dari negara asalnya.
Sate tidak ditusuk. Daging domba awalnya dibakar di atas arang dalam bentuk potongan-potongan besar selama kurang lebih satu jam. Tidak ada acara kipas mengkipas, selama dibakar daging terus dibolak-balik agar kematangannya merata. Agar daging tidak gosong, di sela-sela proses pembakaran disemprotkan air.
Setelah daging matang di masukan ke dalam dandang dan dikukus antara 2-3 jam di atas pembakaran yang sama sampai daging empuk. Setelah empuk potong-potong menjadi bagian yang lebih kecil lalu bakar lagi sebentar.
Setelah itu potong-potong kembali daging menjadi bagian yang lebih kecil lagi. Kali ini potongannya sudah mirip dengan potongan sate. Masukan daging ke dalam panci kecil dan di sinilah mulai ada sentuhan 'bumbu rahasia' yang mirip dengan kaldu.
Bumbu Berbentuk Kotak Kecil
Saat ditanya apa resep bumbu rahasianya, Putri mengaku tidak tahu karena yang tahu racikannya hanya pemiliknya di Jakarta. Bahkan kokinya sekalipun tidak diberi tahu.
Nah, bumbu rahasia yang berbentuk kotak kecil itu diremukan sehingga berubah jadi serbuk dan ditaburkan ke atas daging yang sudah ada di dalam panci. Kemudian dimasukan pula di dalamnya irisan daging bombay. Setelah itu daging dalam panci dibakar kembali.
Proses selanjutnya adalah yang paling menarik. Agar daging dan 'bumbu rahasia' tercampur, panci tidak disimpan begitu saja di atas pembakaran. Panci tersebut digoyang bolak-balik. Gaya si koki saat melakukannya mirip gaya bartender yang sedang beraksi dengan botol. Cuma minus adegan lempar-melempar panci.
Setelah beberapa menit, daging sate pun siap disajikan di atas piring. Enggak salah kalau ada yang menyebut mirip barbeque atau kambing guling karena proses penyajiannya hampir sama, tanpa tusukan. Dagingnya empuk dengan aroma daging domba yang tidak terlalu terendus.
Seperti dikatakan Julius (24) yang sudah jadi langganan baik di Jakarta maupun Bandung. "Rasanya gurih dan enak mirip kambing guling," ujarnya sambil melahap potongan daging. Yam... yam... yam.(ema/bbn)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (1 Komentar)




