Berita Lain

Indeks Berita


Kamis, 02/07/2009 15:57 WIB
Menbudpar: Saatnya Ekonomi Kepariwisataan, Bukan Cuma Kerakyatan
Pradipta Nugrahanto - detikBandung



Bandung - Indonesia memiliki potensi besar untuk membuat sektor pariwisata sebagai salah satu penopang roda ekonomi bangsa. Karenanya, Menbudpar Jero Wacik menyatakan sebaiknya mengedepankan ekonomi kepariwisataan, baru ekonomi kerakyatan.

Pernyataan itu seolah menyindir slogan pasangan capres dan cawapres Megawati-Prabowo yaitu ekonomi kerakyatan. Data pada tahun 2008 mencatat kedatangan wisatawan mancanegara pada tahun itu naik 13 persen dari tahun sebelumnnya.

"Berkat Visit Indonesia 2008 jumlah wisman yang datang ke Indonesia bertambah sekitar 8 ribu orang dari tahun sebelumnya yaitu 5,6 juta orang." tutur Jero Wacik dalam sambutannya di Studium General STIEPAR YAPARI AKTRIPA Bandung 'Meninjau Kepariwisataan Masa Lampau dan Masa Yang akan Datang" di STIEPAR Yapari, Jalan Sutami No 81-83, Kamis (2/7/2009).

Dari jumlah wisatawan itu, Indonesia berhasil meraih devisa sebanyak 7,5 miliar US Dollar. "Kalau melihat angka sebesar itu, harusnya kita mengedepankan ekonomi kepariwisataan, baru setelah itu ekonomi kerakyatan," sindirnya.

Lebih lanjut dia menyatakan Indonesia mempunya potensi besar untuk mengembangkan sektor pariwisata. "Indonesia memiliki mega potensi pariwisata, dari alam, budaya maupun berbagai festival budaya dan olahraga," tuturnya.

Menurutnya, ten zaman sudah berubah. Indikator kekayaan saat ini bukan diukur oleh luasnya tanah seperti zaman dulu, melainkan kota atau negara mana yang telah dikunjungi. "Seseorang akan lebih merasa bangga bila sudah pernah berwisata ke luar negeri atau kemana pun tempat yang menarik," ujarnya.

Jero Wacik juga mengkritik kebijakan pemerintah sebelum SBY yang berencana menghentikan kegiatan Sekolah Tinggi Kepariwisataan adalah suatu kesalahan besar.

"Untung saja pada tahun 2004 roda pemerintahan sudah bergulir, jadi kebijakan itu tidak jadi diterapkan. Kalau jadi mungkin pariwisata Indonesia akan tenggelam seiring dengan tenggelamnya sekolah-sekolah pariwisata," ujarnya.
(dip/ern)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (1 Komentar)

Foto Lain


Baca juga :