Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Sabtu, 07/11/2009 08:56 WIB
20 Tahun Terbang dengan Gantole -
Jumat, 30/10/2009 10:43 WIB
Iskandarsyah Berian
Tinggalkan Kick Boxing untuk Berdakwah -
Kamis, 22/10/2009 14:10 WIB
Sundea 'Salam Matahari'
Tidak Ada Tulisan Jelek -
Kamis, 22/10/2009 10:04 WIB
Sundea 'Salam Matahari'
Dokumentasikan Kehidupan di Buku Harian -
Kamis, 22/10/2009 08:52 WIB
Sundea 'Salamatahari'
'Pena dan Kertas Adalah Hidupku' -
Kamis, 15/10/2009 12:38 WIB
Phaerlymaviec Musadi
Punkrocker yang Cinta Anak-anak
Indeks Berita
Jumat, 19/06/2009 13:19 WIB
Cinta Mainan, Jadi Modeller Otodidak
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Modeller. Profesi ini mungkin masih terdengar asing di telinga sebagian besar masyarakat. Selain memang belum ada pendidikan formalnya di indonesia, orang yang mengambil lahan ini pun cukup langka.
Seperti asal katanya, singkat kata, profesi ini membuat model objek. Bisa objek apapun, dari objek orang, benda, binatang, ruang baik tertutup maupun terbuka, gedung-gedung tapi dalam skala yang lebih kecil. Pada umumnya para modeller membuat model untuk keperluan untuk iklan atau film.
Nah profesi inilah yang ditekuni Aldo Ikhwanul Khalid (34) pemilik Museum Anak Era 80-an dan Zero Toys. Bukan tanpa alasan, profesi alumnus ekonomi Unpad ini memang berakar dari kecintaannya terhadap mainan.
"Saya mulai menekuni seiring mulai dibukanya toko," papar pria berkacamata ini.
Bahan baku yang digunakan pun awalnya tidak jauh dari apa yang ada di tokonya yaitu mainan. Aldo membuat model-model dari mainan tersebut, entah itu dengan proses merakit atau memadukannya dengan bahan buatan. "Tapi sekarang kita sudah membuat sendiri tidak lagi memakai mainan,' ujar Aldo.
Order pertama didapatkan tahun 2004 untuk membuat model dalam sebuah iklan rokok. Sejak itu Aldo secara kontinu membuat model untuk beberapa iklan rokok. Di samping itu pernah juga terlibat dalam pembuatan model dalam sebuah film. Bahkan pernah juga bekerjasama dengan perusahaan pembuat senjata untuk membuat miniatur-miniatur tank yang akan dipasarkan.
"Dalam satu bulan bisa mendapat order 4-5 order," terang Aldo.
Karena tidak ada pendidikan formalnya di Indonesia menjadi seorang modeller ditekuninya melalui proses otodidak. Dan menjadi profesi yang menguntungkan karena pelakunya bisa dibilang masih jarang.
"Di sini saya mencari uang dan membuang uangnya di museum mainan," candanya sambil tertawa. Saat ditanya berapa omset per proyek, Aldo sepertinya masih enggan untuk membocorkan.
Kabar-kabar komunitas di Bandung ada di Forumbandung.(ema/tya)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Cinta Mainan, Jadi Modeller Otodidak
Ema Nur Arifah - detikBandung
Seperti asal katanya, singkat kata, profesi ini membuat model objek. Bisa objek apapun, dari objek orang, benda, binatang, ruang baik tertutup maupun terbuka, gedung-gedung tapi dalam skala yang lebih kecil. Pada umumnya para modeller membuat model untuk keperluan untuk iklan atau film.
Nah profesi inilah yang ditekuni Aldo Ikhwanul Khalid (34) pemilik Museum Anak Era 80-an dan Zero Toys. Bukan tanpa alasan, profesi alumnus ekonomi Unpad ini memang berakar dari kecintaannya terhadap mainan.
"Saya mulai menekuni seiring mulai dibukanya toko," papar pria berkacamata ini.
Bahan baku yang digunakan pun awalnya tidak jauh dari apa yang ada di tokonya yaitu mainan. Aldo membuat model-model dari mainan tersebut, entah itu dengan proses merakit atau memadukannya dengan bahan buatan. "Tapi sekarang kita sudah membuat sendiri tidak lagi memakai mainan,' ujar Aldo.
Order pertama didapatkan tahun 2004 untuk membuat model dalam sebuah iklan rokok. Sejak itu Aldo secara kontinu membuat model untuk beberapa iklan rokok. Di samping itu pernah juga terlibat dalam pembuatan model dalam sebuah film. Bahkan pernah juga bekerjasama dengan perusahaan pembuat senjata untuk membuat miniatur-miniatur tank yang akan dipasarkan.
"Dalam satu bulan bisa mendapat order 4-5 order," terang Aldo.
Karena tidak ada pendidikan formalnya di Indonesia menjadi seorang modeller ditekuninya melalui proses otodidak. Dan menjadi profesi yang menguntungkan karena pelakunya bisa dibilang masih jarang.
"Di sini saya mencari uang dan membuang uangnya di museum mainan," candanya sambil tertawa. Saat ditanya berapa omset per proyek, Aldo sepertinya masih enggan untuk membocorkan.
Kabar-kabar komunitas di Bandung ada di Forumbandung.(ema/tya)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk





