Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Senin, 16/11/2009 10:06 WIB
Ajarkan Origami Keliling Indonesia -
Sabtu, 07/11/2009 11:00 WIB
20 Tahun Terbang dengan Gantole
Koesnadi: Makin Tua Makin Takut Terbang -
Sabtu, 07/11/2009 08:56 WIB
20 Tahun Terbang dengan Gantole -
Jumat, 30/10/2009 10:43 WIB
Iskandarsyah Berian
Tinggalkan Kick Boxing untuk Berdakwah -
Kamis, 22/10/2009 14:10 WIB
Sundea 'Salam Matahari'
Tidak Ada Tulisan Jelek -
Kamis, 22/10/2009 10:04 WIB
Sundea 'Salam Matahari'
Dokumentasikan Kehidupan di Buku Harian
Indeks Berita
Jumat, 19/06/2009 08:53 WIB
Dari Limbah Masih Ada Bunyi
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Bandung -
Kreativitas pemusik Bandung memang tidak pernah ada habisnya. Bahkan ketika alat musik standard sudah dinilai monoton limbah pun bisa menjadi solusi.
Seperti yang dilakukan Dodong Kodir (58), seniman Bandung. Ia merangkai limbah dan sampah menjadi alat musik dengan efek suara yang ajaib.
Ketika ditemui detikbandung usai tampil diacara Konferensi Internasional "Rural Information & Communication Techonlogy" di Kampus ITB pada Rabu (17/6/2009) Dodong yang tampil bersama grupnya 'Lungsuran Daur' menuturkan karir perjalanannya sebagai seorang musisi limbah.
Awalnya Dodong adalah seorang penabuh gamelan yang bekerja di STSI Bandung sebagai operator studio tari.
"Sampai awal '80an saya tiap hari main gamelan Sunda, karena tiap hari main suaranya jadi monoton karena tangga nada Sunda kan segitu-gitu saja," tutur Dodong.
Tertarik mengeksplor efek-efek suara, Dodong tidak tertarik membeli alat musik atau efek yang tersedia di pasaran.
"Alat musik atau efek yang dijual di toko-toko alat musik bunyinya sudah pasti dan harganya mahal," Dodong pun memutar otak hingga ia menemukan ide untuk merangkai barang bekas dan rongsokan untuk menjadi alat musik.
"Saya tidak ingat persisnya kapan, yang jelas tahun '80an saya membuat suling Sunda dengan ukuran jumbo, saya membuatnya dengan menggunakan bambu bekas, alat musik ini saya beri nama Sulangsong, artinya Suling Asal Songsong," tutur Dodong.
Rupanya rekan-rekan seniman yang sering berkumpul dengan Dodong tertarik dengan kreasi suling milik Dodong.
"Mereka menilai suling besar itu unik, jadi saya sering diajak kolaborasi bareng teman-teman," ujar Dodong.
Namun Dodong tidak sekedar membuat alat musik dari barang rongsokan atau limbah. Dodong memfokuskan karya-karyanya agar bisa menghasilkan suara-suara alam.
"Saya memang khusus membuat alat musik dengan efek suara alam, seperti suara angin, deburan ombak dan suara-suara aneka satwa," sambung Dodong.
Uniknya lagi Dodong terkadang terinspirasi peristiwa besar di Indonesia dan dunia, seperti Tsunami Aceh, Gempa Yogya, Pesawat Jatuh dan Tornado.
"Kalau musisi lain terinspirasi membuat musik dari peristiwa alam, saya terinspirasi untuk membuat alat musik," seloroh Dodong.
Sejauh ini Dodong telah membuat seratus macam alat musik dari limbah. Beberapa instrumen yang kerap dibawanya setiap manggung adalah Tornadong yang terinspirasi dari Tornado di Amerika Serikat, Kacapi dari limbah mesin cuci, chicken drum yang terinspirasi dari gempa yogya.
"Untuk chicken drum saya punya cerita sendiri, waktu gempa yogya, saya melihat banyak orang berlarian menyelamatkan diri masuk kandang ayam. Tapi ayamnya tidak ada, yang ada hanya tempat makannya. Karenanya saya bikin saja jadi drum," ujar Dodong.
Apa yang dilakukan Dodong bukan hanya semata karena ia seorang seniman, namun lebih menyuarakan keunikan dan penyelamatan lingkungan. "Manfaatkan yang ada disekitar anda, sekalipun itu hanya sampah atau limbah" pungkas Dodong.
(dip/lom)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Dari Limbah Masih Ada Bunyi
Pradipta Nugrahanto - detikBandung

Foto Terkait
Seperti yang dilakukan Dodong Kodir (58), seniman Bandung. Ia merangkai limbah dan sampah menjadi alat musik dengan efek suara yang ajaib.
Ketika ditemui detikbandung usai tampil diacara Konferensi Internasional "Rural Information & Communication Techonlogy" di Kampus ITB pada Rabu (17/6/2009) Dodong yang tampil bersama grupnya 'Lungsuran Daur' menuturkan karir perjalanannya sebagai seorang musisi limbah.
Awalnya Dodong adalah seorang penabuh gamelan yang bekerja di STSI Bandung sebagai operator studio tari.
"Sampai awal '80an saya tiap hari main gamelan Sunda, karena tiap hari main suaranya jadi monoton karena tangga nada Sunda kan segitu-gitu saja," tutur Dodong.
Tertarik mengeksplor efek-efek suara, Dodong tidak tertarik membeli alat musik atau efek yang tersedia di pasaran.
"Alat musik atau efek yang dijual di toko-toko alat musik bunyinya sudah pasti dan harganya mahal," Dodong pun memutar otak hingga ia menemukan ide untuk merangkai barang bekas dan rongsokan untuk menjadi alat musik.
"Saya tidak ingat persisnya kapan, yang jelas tahun '80an saya membuat suling Sunda dengan ukuran jumbo, saya membuatnya dengan menggunakan bambu bekas, alat musik ini saya beri nama Sulangsong, artinya Suling Asal Songsong," tutur Dodong.
Rupanya rekan-rekan seniman yang sering berkumpul dengan Dodong tertarik dengan kreasi suling milik Dodong.
"Mereka menilai suling besar itu unik, jadi saya sering diajak kolaborasi bareng teman-teman," ujar Dodong.
Namun Dodong tidak sekedar membuat alat musik dari barang rongsokan atau limbah. Dodong memfokuskan karya-karyanya agar bisa menghasilkan suara-suara alam.
"Saya memang khusus membuat alat musik dengan efek suara alam, seperti suara angin, deburan ombak dan suara-suara aneka satwa," sambung Dodong.
Uniknya lagi Dodong terkadang terinspirasi peristiwa besar di Indonesia dan dunia, seperti Tsunami Aceh, Gempa Yogya, Pesawat Jatuh dan Tornado.
"Kalau musisi lain terinspirasi membuat musik dari peristiwa alam, saya terinspirasi untuk membuat alat musik," seloroh Dodong.
Sejauh ini Dodong telah membuat seratus macam alat musik dari limbah. Beberapa instrumen yang kerap dibawanya setiap manggung adalah Tornadong yang terinspirasi dari Tornado di Amerika Serikat, Kacapi dari limbah mesin cuci, chicken drum yang terinspirasi dari gempa yogya.
"Untuk chicken drum saya punya cerita sendiri, waktu gempa yogya, saya melihat banyak orang berlarian menyelamatkan diri masuk kandang ayam. Tapi ayamnya tidak ada, yang ada hanya tempat makannya. Karenanya saya bikin saja jadi drum," ujar Dodong.
Apa yang dilakukan Dodong bukan hanya semata karena ia seorang seniman, namun lebih menyuarakan keunikan dan penyelamatan lingkungan. "Manfaatkan yang ada disekitar anda, sekalipun itu hanya sampah atau limbah" pungkas Dodong.
(dip/lom)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




