Berita Lain

Indeks Berita


Selasa, 02/06/2009 14:34 WIB
Geba Leisure Parts
Dari Seni Rupa Nyasar di Otomotif
Andri Haryanto - detikBandung



Geri NM (Andri H/detikbandung)
Bandung - Gaya modifikasi yang ditampilkan duo builder Geri Nur Mayurie dan Bakti Rahmadi terbilang ngeyel dari gaya modifikasi sepedamotor umumnya. Kemeriahan modifikasi mereka minimalisir dalam sebuah tema. Meski terbilang baru dan bukan terlahir dari dunia otomotif, apa yang telah dihasilkan keduanya patut diacungkan jempol.

Bagi Geri dan Bakti, dari nama keduanyalah nama Geba terlahir, kegiatan mengotak-atik motor agar terlihat sensual terbilang baru. Diawali oleh Geri yang memiliki ide untuk mendandani motor di tahun 2005 agar terlihat lain dari yang lainnya.

Toko-toko penyedia parts banjir oleh produk Thailand yang melulu itu-itu saja dari modifikasi yang dihasilkan. "Modifikasi tanpa konsep atau tema, sehingga membuat orang jadi konsumtif. Segala sesuatu yang baru dikejar agar tidak ketinggalan zaman. Jadinya mubazir," kata Geri.

Geri lantas terpikir untuk mendesain motor skutik (skuter matik) layaknya kaum mod style yang gandrung di era '60-an di belahan Inggris sana. Rp 1,5 juta ia sisihkan untuk membeli windshield (penahan angin) Inggris berbahan akrilik lisensi Thailand agar terlihat modis bak di era tersebut.

Barang yang didapatkan ternyata tidak sesuai dengan harapan. Windshield ternyata sensitif dan mudah pecah, sehingga dia harus membelinya untuk kali kedua. Sayang, penahan angin kedua pun bernasib sama.

Geri lantas berkesimpulan, parts yang ia perlukan tersebut diyakini mampu ia buat. Lantas ia sambangi kerabatnya Bakti Rahmadi yang terbiasa dalam urusan akrilik. Bakti pun meyakini mampu membuatnya. Alhasil, apa yang mereka lakoni secara tak sengaja itu berkembang pesat dan disukai bikers.

"Awalnya saya ragu dengan tawaran Geri, masalahnya ada nggak peminatnya," kata Bakti  sambil tertawa menjelaskan awal berdirinya Geba Leisure Parts.

Namun, perjalanan dan keseriusan Geri menjawab apa yang dikhawatirkan Bakti. Konsep modifikasi pun berkembang tak melulu dalam memproduksi windshield. Mereka pun mulai menjejali desain kuda besi dengan lebih terkonsep.

Berbekal pendidikan desain di Itenas, Geri yang merupakan jebolan desain interior dan Bakti yang terlahir dari desain produk, mereka adopsi dalam konsep desain motor. "Geri yang biasanya memutuskan konsep dengan pasien, dan saya yang menerjemahkan ke dalam teknisnya," kata Bakti.

Dalam hal desain, Geri lebih memilih untuk meminimalisir kemeriahan seperti modifikator umumnya. "Kunci utamanya adalah konsep yang jelas yang akan dicapai, tidak ada itu, modifikasi menjadi percuma," jelas Geri.

Disinggung apa yang mereka kerjakan termasuk nyeleneh, keduanya tersenyum. "Di dalam seni rupa apa yang tidak mungkin. Intinya, kita tidak boleh berhenti berpikir," ucap Bakti.

Soal harga? "Kita selalu ngobrol dengan pasien sebelum memutuskan untuk mendandani motornya. Nanti dari sana ditemukan kendalanya apa, dan kita hanya memberikan range harga saja, kalaupun ada kenaikan dari range itu, nggak terlalu signifikan," jelas Geri.

Dari situlah, imbuh Geri, pasien mrmutudkan apakah akan melanjutkan atau tidak untuk memodifikasi tunggangannya itu. "Harga bervariasi, dari mulai Rp 3 Juta sampai ratusan juta," sela Bakti.

Nama yang digunakan untuk usahan duo inipun terbilang unik. Mereka menggunakan Leisure (kesenangan) dalam pencantuman labelnya.

"Bagi kami membuat parts adalah bagian dari kesenangan. Mendandani motor layaknya pakaian dan serasi dengan si penunggang," jelas Geri menutup obrolan.



Kabar-kabar komunitas di Bandung ada di Forumbandung.
(ahy/lom)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Foto Lain


Baca juga :