Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Selasa, 05/05/2009 08:15 WIB
'Sayur Reject Supemarket Bukan Tak Layak Konsumsi' -
Senin, 04/05/2009 08:23 WIB
Mari Berbagi Makanan, Bukan Bom -
Sabtu, 11/04/2009 11:11 WIB
Penjualan Bagoes Sasar Kalangan Rumah Tangga -
Sabtu, 11/04/2009 09:14 WIB
Mengawinkan Industri Kreatif dan Lingkungan -
Kamis, 09/04/2009 09:52 WIB
Greeneration Akan Rambah Indonesia
Indeks Berita
Senin, 01/06/2009 08:47 WIB
Simpay Wargi, Berkarya dengan Bambu
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Bambu memang begitu dekat dengan kehidupan orang Sunda. Keberadaannya bisa menghidupi sebanyak 125 orang perajin Kelompok Usaha Simpay Wargi, Dusun Kawungluwuk, Desa Linggajaya Kecamatan Cisitu Kabupaten Sumedang.
Padahal keberadan kelompok usaha yang berada di bawah binaan Yayasan Saung Kadeudeuh Jabar ini bisa dibilang relatif singkat. Baru berdiri tahun 2003, namun sedikit demi sedikit bisa merangkul para perajin di sekitarnya dan membuka lapangan pekerjaan.
Menurut Koordinator Simpay Wargi, Nuryadi (35) potensi alam Sumedang khususnya Desa Kawungluwuk yang melimpah ruah dengan bambu dijadikan warga untuk berkarya. Ide awal pembentukan kelompok usaha ini dari perajin kere (tirai bambu-red). Di mana perajin kere kebanyakan memang berasal dari Sumedang.
"Awalnya kere kemudian dikembangkan menjadi kerajinan anyam-anyaman," ujar Nuryadi saat ditemui di sebuah pameran beberapa waktu lalu. Selain bambu, lidi menjadi bahan baku lainnya yang digunakan.
Selain tirai bambu, produk yang dihasilkan dari bambu dan lidi tersebut adalah alat-alat rumah tangga, wadah termasuk wadah untuk peralatan kantor dan rumah sakit.
Untuk pemasaran sampai saat ini masih bekerjasama dengan perajin Tasik. Produk-produk para perajin dikirinkam ke beberapa daerah seperti Cirebon, Bali juga Bandung.
Kelompok usaha ini dibagi dalam dua kelompok perajin. Pertama perajin kere yang berjumlah 80 orang dan perajin anyam-anyaman yang jumlahnya 45 orang. Untuk kelompok anyaman terdiri dari lansia dan pemuda karang taruna.
"Bisa membuka lapangan pekerjaan terutama karang taruna yang biasanya hanya nongkrong," ucap Nuryadi.
Kegigihan Ketua Kelompok Apong Nurhayati yang berprofesi guru SD inilah yang membuat kelompok ini berhasil dilirik pemerintah daerah. Bahkan perajin-perajin termasuk produsen makanan yang berada di kawasan Dusun Kawungluwuk turut merapat.
Namun Nuryadi sendiri mengaku pihaknya masih kesulitan dari sisi pemasaran. Sehingga membutuhkan bantuan berbagai pihak untuk lebih meluaskan pasar.
Saat ditanya berapakah omzet yang didapatkan dari produksi mereka dalam satu bulan Nuryadi tidak menyebutkan angka pasti. "Menambah penghasilanlah," ucapnya.
(ema/ern)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Simpay Wargi, Berkarya dengan Bambu
Ema Nur Arifah - detikBandung
Padahal keberadan kelompok usaha yang berada di bawah binaan Yayasan Saung Kadeudeuh Jabar ini bisa dibilang relatif singkat. Baru berdiri tahun 2003, namun sedikit demi sedikit bisa merangkul para perajin di sekitarnya dan membuka lapangan pekerjaan.
Menurut Koordinator Simpay Wargi, Nuryadi (35) potensi alam Sumedang khususnya Desa Kawungluwuk yang melimpah ruah dengan bambu dijadikan warga untuk berkarya. Ide awal pembentukan kelompok usaha ini dari perajin kere (tirai bambu-red). Di mana perajin kere kebanyakan memang berasal dari Sumedang.
"Awalnya kere kemudian dikembangkan menjadi kerajinan anyam-anyaman," ujar Nuryadi saat ditemui di sebuah pameran beberapa waktu lalu. Selain bambu, lidi menjadi bahan baku lainnya yang digunakan.
Selain tirai bambu, produk yang dihasilkan dari bambu dan lidi tersebut adalah alat-alat rumah tangga, wadah termasuk wadah untuk peralatan kantor dan rumah sakit.
Untuk pemasaran sampai saat ini masih bekerjasama dengan perajin Tasik. Produk-produk para perajin dikirinkam ke beberapa daerah seperti Cirebon, Bali juga Bandung.
Kelompok usaha ini dibagi dalam dua kelompok perajin. Pertama perajin kere yang berjumlah 80 orang dan perajin anyam-anyaman yang jumlahnya 45 orang. Untuk kelompok anyaman terdiri dari lansia dan pemuda karang taruna.
"Bisa membuka lapangan pekerjaan terutama karang taruna yang biasanya hanya nongkrong," ucap Nuryadi.
Kegigihan Ketua Kelompok Apong Nurhayati yang berprofesi guru SD inilah yang membuat kelompok ini berhasil dilirik pemerintah daerah. Bahkan perajin-perajin termasuk produsen makanan yang berada di kawasan Dusun Kawungluwuk turut merapat.
Namun Nuryadi sendiri mengaku pihaknya masih kesulitan dari sisi pemasaran. Sehingga membutuhkan bantuan berbagai pihak untuk lebih meluaskan pasar.
Saat ditanya berapakah omzet yang didapatkan dari produksi mereka dalam satu bulan Nuryadi tidak menyebutkan angka pasti. "Menambah penghasilanlah," ucapnya.
(ema/ern)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




