Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Senin, 12/10/2009 08:59 WIB
Menerawang Aksara dari Kacamata Anak-anak -
Senin, 06/07/2009 08:30 WIB
Ultah Ke 7 BBV
Kemeriahan di Tengah Hutan -
Senin, 15/06/2009 19:46 WIB
Gunakan Blackberry Dengan Bijak -
Jumat, 29/05/2009 09:42 WIB
Menanam Kentang di Udara Dengan Aeroponik -
Jumat, 01/05/2009 10:52 WIB
Timur Indonesia Tak Punya Radar, PPET Garap Pasar Dalam Negeri
Indeks Berita
Jumat, 29/05/2009 10:14 WIB
Investasi Awal Aeoroponik Mahal
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Investasi awal menggunakan metode aeroponik bisa terbilang mahal. Petani penagkar benih Agritex Tasa Nusantara Cikole Lembang Deni Afrizal menyatakan dirinya menginvestasikan dana sebesarRp 65 juta.
"Itu adalah yang paling sederhana," ujarnya ditemui di stand Balitsa Agriexpo Graha Manggala Siliwangi, Kamis (28/5/2009). Menurut Deni jika ingin mendapatkan hasil yang lebih maka investasi pun bisa sampai tak terhingga.
Menggunakan 100 meter persegi screen. Investasi tersebut paling mahal digunakan untuk pembelian bak tanam kedap cahaya tempat menyimpan tanaman dan rumah kasa.
Selain bak peralatan lain yang diperlukan adalah pompa air untuk mendorong cairan nutrisi ke dalam bak, selang air dan nozzle untuk proses pengkabutan. "Jadi tidak sepenuhnya udara. Di dalam bak ada pengkabutan berupa semprotan air," ujar Deni.
Akar tanaman dibiarkan menggantung. Selanjutnya pompa akan mendorong air dan nutrisi untuk masuk ke dalam bak dalam bentuk pengkabutan. Sehingga air dan nutrisi bisa langsung masuk ke dalam akar.
Untuk proses pengkabutannya dilakukan setiap lima belas menit sekali selama 2-3 menit. "Kalau ternyata tanaman malah layu berarti selang waktu pengkabutan harus diperpanjang," ujar Deni.
Selama satu kali musim panen bibit awal yaitu selama tiga bulan Deni mendapatkan 45 ribu knoll atau buah bibit. Setiap satu knol harganya Rp 2.500.
Saat ini Deni membina setidaknya empat kelompok tani yang menggunakan bibit kentang hasil tangkarannya. Selain di Cikole Lembang Deni juga membina kelompok tani di Pangalengan. Deni memberikan pembinaan sekaligus transfer teknologi.
Dikatakan Deni, para petani belum sepenuhnya menggunakan sistem ini. Selain investasi yang cukup mahal mereka tidak mau ambil resiko jika nantinya sistem ini malah tidak menguntungkan. "Mereka hanya menunggu bola," ujarnya.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung.
(ema/tya)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Investasi Awal Aeoroponik Mahal
Ema Nur Arifah - detikBandung
Foto Terkait
"Itu adalah yang paling sederhana," ujarnya ditemui di stand Balitsa Agriexpo Graha Manggala Siliwangi, Kamis (28/5/2009). Menurut Deni jika ingin mendapatkan hasil yang lebih maka investasi pun bisa sampai tak terhingga.
Menggunakan 100 meter persegi screen. Investasi tersebut paling mahal digunakan untuk pembelian bak tanam kedap cahaya tempat menyimpan tanaman dan rumah kasa.
Selain bak peralatan lain yang diperlukan adalah pompa air untuk mendorong cairan nutrisi ke dalam bak, selang air dan nozzle untuk proses pengkabutan. "Jadi tidak sepenuhnya udara. Di dalam bak ada pengkabutan berupa semprotan air," ujar Deni.
Akar tanaman dibiarkan menggantung. Selanjutnya pompa akan mendorong air dan nutrisi untuk masuk ke dalam bak dalam bentuk pengkabutan. Sehingga air dan nutrisi bisa langsung masuk ke dalam akar.
Untuk proses pengkabutannya dilakukan setiap lima belas menit sekali selama 2-3 menit. "Kalau ternyata tanaman malah layu berarti selang waktu pengkabutan harus diperpanjang," ujar Deni.
Selama satu kali musim panen bibit awal yaitu selama tiga bulan Deni mendapatkan 45 ribu knoll atau buah bibit. Setiap satu knol harganya Rp 2.500.
Saat ini Deni membina setidaknya empat kelompok tani yang menggunakan bibit kentang hasil tangkarannya. Selain di Cikole Lembang Deni juga membina kelompok tani di Pangalengan. Deni memberikan pembinaan sekaligus transfer teknologi.
Dikatakan Deni, para petani belum sepenuhnya menggunakan sistem ini. Selain investasi yang cukup mahal mereka tidak mau ambil resiko jika nantinya sistem ini malah tidak menguntungkan. "Mereka hanya menunggu bola," ujarnya.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung.
(ema/tya)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk





