Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Rabu, 10/03/2010 09:33 WIB
Bandung Blues Society
Dekatkan Musik Blues ke Anak Muda -
Selasa, 09/03/2010 09:43 WIB
Angklung Toel
Tak Perlu Digoyang, Cukup Disentuh -
Sabtu, 06/03/2010 16:32 WIB
Sehati Oentoek Sesama
Bunga Antorium untuk Gubernur -
Sabtu, 06/03/2010 15:46 WIB
Sehati Oentoek Sesama
Adu Harga di Gedung Bekas Pengadilan -
Sabtu, 06/03/2010 14:33 WIB
Sehati Oentoek Sesama
Suara Lantang di Antara Lukisan -
Sabtu, 06/03/2010 12:14 WIB
Sehati Oentoek Sesama
Kala Lukisan Jadi Sarana Bantu Saudara
Indeks Berita
Rabu, 20/05/2009 08:27 WIB
Merombak Karakter dengan Karikatur
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Dengan lihai, tangan Gino Suparna (56) menggoreskan kuas di atas kertas. Membuat sketsa wajah dalam bentuk jenaka. Pipi yang menggelembung, mata yang dibuat menyipit atau mulut yang lebar. Hanya 20 menit saja sebuah gambar karikatur bisa selesai di tangan Gino.
Profesi karikaturis bisa dibilang memang masih langka. Keengganan para pelukis naturalis khususnya pelukis foto untuk menekuni bidang ini cukup dipahami. Seperti dituturkan Gino, menjadi gambar karikatur memiliki tekhnik yang tidak semua orang bisa menguasai.
"Merombak karakter orang menjadi karya karikatur tidak mudah," ucap Gino.
Karikaturis harus membuat gambar wajah seseorang menjadi berbeda dengan aslinya. Kesulitannya adalah, ketika harus mengubah bagian-bagian wajah namun jangan sampai menghilangkan karakter orang tersebut.
"Itu yang susah. Tidak semua pelukis foto bisa membuat karikatur," ujar Gino.
Setidaknya ada dua hal yang harus dikuasai untuk menjadi seorang karikaturis yaitu bentuk dan sketsa anatomi wajah. Menurut Gino tidak semua pelukis bisa menguasai dua hal ini. Sehingga akhirnya profesi karikaturis di Bandung hanya diambil sebagian kecil seniman lukis.
Gino sendiri belajar melukis secara otodidak. Dia terjun sebagai pelukis juga karikaturis sejak tahun 1976. Gino sempat berguru pada Tohny Joesoef alm. selama tiga tahun di sanggar Ligarsari 64. Selebihnya Gino menggali pengalamannya sendiri.
Sejak awal diakui Gino dirinya tidak mengalami kesulitan untuk membuat karikatur. Kemampuannya dalam membuat karikatur sempat membawa hidupnya menjadi ilustrator di empat perusahaan penerbitan di Bandung pada tahun 1980-an.
Dalam rentang waktu 1986-2006, Gino melakukan pameran bersama di beberapa kota seperti di Bandung, Jakarta, Semarang dan Jogya dan baru menggelar pameran tunggalnya tahun 2007.
Karikatur Gino sempat menghiasi surat kabar. Namun Gino tidak mendapat kepuasan baik dari sisi materi ataupun penghargaan. Sehingga akhirnya dia lebih memilih untuk menjadi karikatur solois dan membuat karikatur sesuai dengan pesanan.
Bagi Gino, kenikmatan menjadi seorang karikaturis terletak pada kepuasan konsumen.(ema/ern)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Merombak Karakter dengan Karikatur
Ema Nur Arifah - detikBandung
Profesi karikaturis bisa dibilang memang masih langka. Keengganan para pelukis naturalis khususnya pelukis foto untuk menekuni bidang ini cukup dipahami. Seperti dituturkan Gino, menjadi gambar karikatur memiliki tekhnik yang tidak semua orang bisa menguasai.
"Merombak karakter orang menjadi karya karikatur tidak mudah," ucap Gino.
Karikaturis harus membuat gambar wajah seseorang menjadi berbeda dengan aslinya. Kesulitannya adalah, ketika harus mengubah bagian-bagian wajah namun jangan sampai menghilangkan karakter orang tersebut.
"Itu yang susah. Tidak semua pelukis foto bisa membuat karikatur," ujar Gino.
Setidaknya ada dua hal yang harus dikuasai untuk menjadi seorang karikaturis yaitu bentuk dan sketsa anatomi wajah. Menurut Gino tidak semua pelukis bisa menguasai dua hal ini. Sehingga akhirnya profesi karikaturis di Bandung hanya diambil sebagian kecil seniman lukis.
Gino sendiri belajar melukis secara otodidak. Dia terjun sebagai pelukis juga karikaturis sejak tahun 1976. Gino sempat berguru pada Tohny Joesoef alm. selama tiga tahun di sanggar Ligarsari 64. Selebihnya Gino menggali pengalamannya sendiri.
Sejak awal diakui Gino dirinya tidak mengalami kesulitan untuk membuat karikatur. Kemampuannya dalam membuat karikatur sempat membawa hidupnya menjadi ilustrator di empat perusahaan penerbitan di Bandung pada tahun 1980-an.
Dalam rentang waktu 1986-2006, Gino melakukan pameran bersama di beberapa kota seperti di Bandung, Jakarta, Semarang dan Jogya dan baru menggelar pameran tunggalnya tahun 2007.
Karikatur Gino sempat menghiasi surat kabar. Namun Gino tidak mendapat kepuasan baik dari sisi materi ataupun penghargaan. Sehingga akhirnya dia lebih memilih untuk menjadi karikatur solois dan membuat karikatur sesuai dengan pesanan.
Bagi Gino, kenikmatan menjadi seorang karikaturis terletak pada kepuasan konsumen.(ema/ern)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk



