Cari Penawaran Terbaik di Sini


Berita Lain

Indeks Berita

Jumat, 15/05/2009 09:43 WIB
Menjual Sepi di Sudut Selasar Sunaryo
Ema Nur Arifah - detikBandung


Bandung - Untuk yang mencari sepi, datanglah ke tempat ini. Tak akan ada hingar bingar DJ atau hiruk pikuk yang berarti. Hanya alunan musik lembut mengalun pelan yang membuai, sambil menatap Bukit Dago di ketinggian Bandung.

Rimbun pepohonan menjadi interior cantik yang meneduhkan para pengunjung. Menyeruput kopi, sambil duduk santai di atas kursi-kursi kayu yang tampak alami. Mereguk sejuknya udara daerah Bukit Pakar Timur sambil bermain dengan laptop.

Kopi Selasar memang tak menjual keramaian. "Jika ingin mencari keramaian jangan ke sini. Kita menjual sepi," tutur Andi Abubakar, Manager Kopi Selasar.

Itulah yang mungkin dicari setiap pengunjung. Suasana yang tak biasa dari sebuah cafe. Nuansa outdoor yang bersinergi dengan galeri-galeri lukisan di Selasar Sunaryo Art Space (SSAS).

Awal dibuka, menurut Andi, Kopi Selasar bukanlah untuk konsumsi publik tapi khusus untuk tamu-tamu Sunaryo. "Jika tidak ada tamu Kopi Selasar ditutup," ujar Andi.

Namun tahun 2001, Kopi Selasar mulai diseriuskan menjadi sebuah coffe shop yang terbuka untuk umum. Tanpa menyediakan makanan berat, cukup kopi dan makanan ringan. Karena menurut Andi saat itupun tidak memungkinkan membuat dapur besar di Selasar Sunaryo yang masih banyak melakukan perubahan ruang di setiap sudutnya.

Lokasi SSAS yang cukup jauh dari pusat kota akhirnya menjadi pertimbangan untuk menyediakan makanan berat di Kopi Selasar. Agar perjalanan pengunjung yang sudah menempuh jarak cukup jauh untuk sampai ke SSAS bisa mendapat pelayanan yang lebih baik. Tahun 2003 mulailah dibuat dapur besar untuk menyediakan makanan berat.

Dari sini, Kopi Selasar sebagai fasilitas penunjang bagi para pengunjung galeri pun tak lagi dianggap sebagi pelengkap. Promosi dari mulut ke mulut mendatangkan pengunjung-pengunjung baru yang tak hanya datang untuk sekadar mengunjungi galeri tapi bergeser menjadikan Kopi Selasar menjadi tujuan utama.

"Kalau dulu berkunjung ke galeri baru ke Kopi Selasar. Sekarang ada yang berkunjung ke Kopi Selasar baru datang ke galeri," ucap Andi.

Tapi sebagai bagian dari wajah Selasar Sunaryo Art Space, keberadaan Kopi Selasar pun harus menyiratkan aura yang sama. Tidak sekadar ngopi atau ngobrol, tapi ada muatan edukasi dan budaya. Seperti adanya larangan yang tertera di balik kursi untuk pengunjung agar tidak bermain kartu, catur atau aktivitas lain yang tidak sesuai dengan visi Selasar Sunaryo.

"Pak Naryo inginnya ini jadi tempat kegiatan diskusi. Kalapun ada yang tidak sesuai berarti tempatnya bukan di sini," papar Andi.

Meski sudah mendapat pengakuan publik, walau bagaimanapun, Kopi Selasar hanyalah fasilitas penunjang. Ketika ada acara yang mengundang publik dalam jumlah besar Kopi Selasar akan tutup.

Jangan harap Kopi Selasar masih buka hingga malam harikecuali akhir pekan. Tapi percayalah, tempat ini akan membuat betah.




Yuk berbagi pengalaman dan cerita kuliner Kota Bandung di Forumbandung.
(ema/ern)


Share

Foto Lain

Fotolain

Baca juga :