Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Senin, 12/10/2009 08:59 WIB
Menerawang Aksara dari Kacamata Anak-anak -
Senin, 06/07/2009 08:30 WIB
Ultah Ke 7 BBV
Kemeriahan di Tengah Hutan -
Senin, 15/06/2009 19:46 WIB
Gunakan Blackberry Dengan Bijak -
Jumat, 29/05/2009 10:14 WIB
Investasi Awal Aeoroponik Mahal -
Jumat, 29/05/2009 09:42 WIB
Menanam Kentang di Udara Dengan Aeroponik -
Jumat, 01/05/2009 10:52 WIB
Timur Indonesia Tak Punya Radar, PPET Garap Pasar Dalam Negeri
Indeks Berita
Jumat, 01/05/2009 09:34 WIB
Tak Ingin Tergantung Komponen Import, Konten Lokal Ditingkatkan
Andrian Fauzi - detikBandung

Bandung -
Tidak ingin tergantung dengan luar negeri, radar maritim buatan Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPET LIPI) dan PT Solusi 247 divisi Radar and Communications System (RCS) ini dirancang dengan kandungan konten lokal lebih dari 40 persen.
Demikian dikatakan oleh Kepala Bidang Telekomunikasi LIPI-PPET Dr Mashury saat berbincang dengan detikINET usai Seminar Radar Nasional III 2009 di ruang Embassy, Hotel Savoy Homman, Jalan Asia Afrika, Kamis (30/4/2009) petang.
"Walaupun sebagian besar komponen masih import. Namun dengan meningkatkan lokal konten ketergantungan terhadap luar negeri bisa dikurangi. Saat ini lokal kontennya mencapai lebih dari 40 persen," paparnya.
Saat ini, imbuhnya, konten lokalnya meliputi software dan beberapa komponen mekanik seperti dudukan hardware, duduk motor dan antene serta beberapa komponen pasif seperti filter frequensi radio, antene, dan low noise amplifier (khusus bagian penerima). Mashury yakin pihaknya mampu memproduksi komponen-komponen tersebut, namun perlu waktu untuk mempelajarinya.
"Untuk software 100 persen kita buat sendiri. Beberapa hardware, saya yakin secara teknologi kita mampu memproduksi sendiri. Dengan memproduksi sendiri komponen pasif kita bisa menekan harga jualnya," ungkapnya.
Mashury mencontohkan komponen power amplifer (bagian pemancar). Menurutnya jika komponen tersebut bisa diproduksi sendiri maka harganya hanya seper sepuluh dari harga jualnya di pasaran. "Fasilitas riset kita sudah memadai, tunggu saja," ucapnya yakin.
Sejak tahun 2006, PPET LIPI telah mengembangkan dua versi radar. Yakni radar pengawas pantai dan radar navigasi kapal. Dalam pengembangannya, radar maritim tersebut diberi nama sementara Indonesian Radar (Indra). Setelah lolos sejumlah tahapan tes, dalam kesempatan yang sama nama Indra-1 diganti menjadi Indonesia Sea Radar (Isra). Sedangkan Indra-2 saat ini masih dalam tahapan uji coba dan
nantinya dalam versi produksi, nama Indra-2 akan berganti menjadi Indera.
Isra saat ini dilengkapi dengan fitur-fitur tambahan hasil kreasi anak bangsa. Fitur tersebut antara lain peta vektor, data sistem informasi maritim AIS (automatic identification system), data GPS dan data kompas yang terintegrasi dengan display. Ukuran kedua radar juga jauh lebih kecil.
Kedua radar ini juga menggunakan teknologi frequency-modulated continous wave (FMCW) sehingga konsumsi daya dan ukuran radar jauh lebih kecil ketimbang radar-radar yang ada di pasaran.
(afz/ern)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Tak Ingin Tergantung Komponen Import, Konten Lokal Ditingkatkan
Andrian Fauzi - detikBandung

Demikian dikatakan oleh Kepala Bidang Telekomunikasi LIPI-PPET Dr Mashury saat berbincang dengan detikINET usai Seminar Radar Nasional III 2009 di ruang Embassy, Hotel Savoy Homman, Jalan Asia Afrika, Kamis (30/4/2009) petang.
"Walaupun sebagian besar komponen masih import. Namun dengan meningkatkan lokal konten ketergantungan terhadap luar negeri bisa dikurangi. Saat ini lokal kontennya mencapai lebih dari 40 persen," paparnya.
Saat ini, imbuhnya, konten lokalnya meliputi software dan beberapa komponen mekanik seperti dudukan hardware, duduk motor dan antene serta beberapa komponen pasif seperti filter frequensi radio, antene, dan low noise amplifier (khusus bagian penerima). Mashury yakin pihaknya mampu memproduksi komponen-komponen tersebut, namun perlu waktu untuk mempelajarinya.
"Untuk software 100 persen kita buat sendiri. Beberapa hardware, saya yakin secara teknologi kita mampu memproduksi sendiri. Dengan memproduksi sendiri komponen pasif kita bisa menekan harga jualnya," ungkapnya.
Mashury mencontohkan komponen power amplifer (bagian pemancar). Menurutnya jika komponen tersebut bisa diproduksi sendiri maka harganya hanya seper sepuluh dari harga jualnya di pasaran. "Fasilitas riset kita sudah memadai, tunggu saja," ucapnya yakin.
Sejak tahun 2006, PPET LIPI telah mengembangkan dua versi radar. Yakni radar pengawas pantai dan radar navigasi kapal. Dalam pengembangannya, radar maritim tersebut diberi nama sementara Indonesian Radar (Indra). Setelah lolos sejumlah tahapan tes, dalam kesempatan yang sama nama Indra-1 diganti menjadi Indonesia Sea Radar (Isra). Sedangkan Indra-2 saat ini masih dalam tahapan uji coba dan
nantinya dalam versi produksi, nama Indra-2 akan berganti menjadi Indera.
Isra saat ini dilengkapi dengan fitur-fitur tambahan hasil kreasi anak bangsa. Fitur tersebut antara lain peta vektor, data sistem informasi maritim AIS (automatic identification system), data GPS dan data kompas yang terintegrasi dengan display. Ukuran kedua radar juga jauh lebih kecil.
Kedua radar ini juga menggunakan teknologi frequency-modulated continous wave (FMCW) sehingga konsumsi daya dan ukuran radar jauh lebih kecil ketimbang radar-radar yang ada di pasaran.
(afz/ern)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




