Berita Lain

Indeks Berita

Senin, 09/02/2009 19:19 WIB
Mahasiswa ITB Tewas saat Ospek
Hindari Salah Persepsi, AMP Tolak Berikan Komentar
Baban Gandapurnama - detikBandung


Bandung - Pihak Atlas Medical Pioneer (AMP), tim medis yang diperbantukan, enggan memberikan keterangan terkait tewasnya mahasiswa Geodesi ITB Dhiyanto Wisnu Nugroho (22). Menurut ketua dewan pengurus AMP Syachu Ali Yusni, hal tersebut dipilih untuk menghindari salah persepsi.

Hal tersebut dikatakan Syachu saat ditemui detikbandung di sekretariat AMP di Jalan Pasir Kaliki Gang H Junaedi No 21a/65 Bandung, Senin (9/2/2009). "Untuk hal tersebut coba konfirmasi dulu ke IMG (Ikatan mahasiswa Geodesi)," pinta Syachu kepada detikbandung.

AMP adalah perkumpulan para pecinta alam yang lebih difokuskan pada medical dengan dibawah payung fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung. Saat ini AMP banyak bekerjasama dengan kampus-kampus tenama. "Ya seperti ITB, Itenas, Unpad, atau Unpas," contoh Syachu.

Untuk menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi, AMP tidak memungut bayaran. AMP lebih mengutamakan medical dan P3K. Sementara itu, dalam setiap kerjasamanya AMP mendirikan tim. Dimana setiap tim yang dibentuk terdapat seorang Dokter profesional.

"Jumlahnya tergantung tidak bisa dipastikan," jawab Syachu ketika disinggung jumlah orang dalam satu tim yang dibentuk tersebut. Selain kampus-kampus besar, Syachu mengaku AMP sering bekerjasama dengan kelompok pecinta alam Wanadri.

"Untuk kasus ITB ini mohon maaf kami tidak bisa memberikan keterangan, lebih baik konfirmasi dulu ke pihak IMG," pinta Syachu kembali kepada detikbandung. Sementara itu, dari pantauan detikbandung terlihat beberapa orang bersantai di markas AMP.



Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung.(ahy/ern)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Baca juga :