Forum Bandung
- POTHAT Sedia Minuman Kese... Imanharj
- Jamur Crispy... Imanharj
- Saya Di Bandung Jual Tepu... clark_kentank
- Wisata Kuliner... silvernautillus
- Mih Baso... sepsipter
- Bubur ayam... jasmine
Berita Lain
-
Selasa, 06/01/2009 08:55 WIB
Gudeg Banda, Dulu dan Kini -
Senin, 05/01/2009 09:15 WIB
Sumber Hidangan, Tak Berubah Sejak Dulu -
Selasa, 30/12/2008 15:58 WIB
Pesanan Roti Buaya Laris Manis Kala Liburan Sekolah -
Selasa, 30/12/2008 11:41 WIB
Roti Bumbu Bakar Pertama di Bandung -
Selasa, 30/12/2008 07:14 WIB
Roti Cari Rasa, Ada di Mana-mana
Indeks Berita
Senin, 05/01/2009 13:20 WIB
Santap ala Tempo Dulu di Sumber Hidangan
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Hari itu, bertepatan dengan hari terakhir Braga Festival 2008, Rabu (31/12/2008), Sumber Hidangan tampak begitu ramai. Pengunjung tampak berjejal. Entah apa karena bertepatan dengan Braga Festival yang juga mengundang kehadiran masyarakat cukup banyak, atau memang begitulah aktivitas yang terjadi setiap harinya di tempat itu. Beberapa pengunjung malah tampak asyik membidik ruangan dengan kameranya. Seolah menemukan jejak sejarah yang telah hilang.
Di sebuah etalase, seorang ibu tampak antusias bertanya tentang satu kue yang disebutnya Bokkepoot. Satu ons Bokkepoot Rp 17 ribu yang menurut salah seorang penjual terdiri dari beberapa buah saja. Wah, apakah memang semahal itu harganya.
"Coba deh, enak banget!" seru si ibu dengan semangat. Mungkin saja harga itu harga yang pas, jika melihat komentar si ibu terhadap kue bernama Bokkepoot ini. Ternyata Bokkepoot adalah kue kering yang artinya kaki kambing. Kalau melihat bentuknya memang mirip, kue berwarna putih dibentuk seperti kaki kambing yang ujungnya berwarna coklat.
Tak hanya Bokkepoot, makanan-makanan di tempat ini memang warisan sejak zaman dulu. "Iya, makanan-makanan di sini memang dari dulu juga sudah ada," tutur salah seorang pelayannya.
Beberapa kue lainnya yang konon warisan Belanda terpajang di etalase. Tak hanya Bokkepoot, ada doublet yang adonannya sama dengan Bokkepoot hanya bentuknya berbeda, kretenbrood sejenis roti sobek, likeur bonbon, chocolaite rotsjes, mocca truffel, bitter balen dan lain-lain.
Menjelang siang, etalase sudah tampak kosong. Di atas nampan hanya tinggal tersisa beberapa kue saja. Beberapa nama kue yang diminta pembeli pun sudah tidak ada. Termasuk es krim yang menjadi salah menu favorit di tempat ini.
Ima (45) termasuk pembeli yang getol menyambangi Sumber Hidangan. "Rasanya kuenya lain daripada yang lain makanya saya sering ke sini," ujar penggemar krentenbrood ini. Menurut Ima, pembuatan kuenya pun masih tardisional sehingga rasanya beda dengan yang lain.
"Kue-kue hanya dibuat pada pagi hari. Jadi kalau siang sudah habis ya tinga menunggu lagi besok," tutur pria yang mengaku seminggu sekali membeli kue di Sumber Hidangan.
Selain kue-kue yang terpajang di etalase, cafe Sumber Hidangan juga menyediakan makanan-makanan berat untuk makan siang. Aneka nasi goreng dari harga Rp 13 ribu- Rp 16 ribu, aneka bakmi dari Rp 13 ribu-Rp 17 ribu, gado-gado, puyunghai, aneka bihun, menu sate, bistik, es krim, dan lain-lain.
Sumber Hidangan buka dari pukul 08.30 WIB-19.00 WIB. Menurut sejarahnya, biasanya di jam-jam siang toko tutup dan baru buka di sore hari. Tapi sejak empat tahun yang lalu toko buka sepanjang hari.(ema/ern)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Santap ala Tempo Dulu di Sumber Hidangan
Ema Nur Arifah - detikBandung
Di sebuah etalase, seorang ibu tampak antusias bertanya tentang satu kue yang disebutnya Bokkepoot. Satu ons Bokkepoot Rp 17 ribu yang menurut salah seorang penjual terdiri dari beberapa buah saja. Wah, apakah memang semahal itu harganya.
"Coba deh, enak banget!" seru si ibu dengan semangat. Mungkin saja harga itu harga yang pas, jika melihat komentar si ibu terhadap kue bernama Bokkepoot ini. Ternyata Bokkepoot adalah kue kering yang artinya kaki kambing. Kalau melihat bentuknya memang mirip, kue berwarna putih dibentuk seperti kaki kambing yang ujungnya berwarna coklat.
Tak hanya Bokkepoot, makanan-makanan di tempat ini memang warisan sejak zaman dulu. "Iya, makanan-makanan di sini memang dari dulu juga sudah ada," tutur salah seorang pelayannya.
Beberapa kue lainnya yang konon warisan Belanda terpajang di etalase. Tak hanya Bokkepoot, ada doublet yang adonannya sama dengan Bokkepoot hanya bentuknya berbeda, kretenbrood sejenis roti sobek, likeur bonbon, chocolaite rotsjes, mocca truffel, bitter balen dan lain-lain.
Menjelang siang, etalase sudah tampak kosong. Di atas nampan hanya tinggal tersisa beberapa kue saja. Beberapa nama kue yang diminta pembeli pun sudah tidak ada. Termasuk es krim yang menjadi salah menu favorit di tempat ini.
Ima (45) termasuk pembeli yang getol menyambangi Sumber Hidangan. "Rasanya kuenya lain daripada yang lain makanya saya sering ke sini," ujar penggemar krentenbrood ini. Menurut Ima, pembuatan kuenya pun masih tardisional sehingga rasanya beda dengan yang lain.
"Kue-kue hanya dibuat pada pagi hari. Jadi kalau siang sudah habis ya tinga menunggu lagi besok," tutur pria yang mengaku seminggu sekali membeli kue di Sumber Hidangan.
Selain kue-kue yang terpajang di etalase, cafe Sumber Hidangan juga menyediakan makanan-makanan berat untuk makan siang. Aneka nasi goreng dari harga Rp 13 ribu- Rp 16 ribu, aneka bakmi dari Rp 13 ribu-Rp 17 ribu, gado-gado, puyunghai, aneka bihun, menu sate, bistik, es krim, dan lain-lain.
Sumber Hidangan buka dari pukul 08.30 WIB-19.00 WIB. Menurut sejarahnya, biasanya di jam-jam siang toko tutup dan baru buka di sore hari. Tapi sejak empat tahun yang lalu toko buka sepanjang hari.(ema/ern)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk





