Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Selasa, 24/11/2009 14:46 WIB
Farmasi ITB Belum Selidiki Efek Obat Kaki Gajah -
Selasa, 24/11/2009 14:22 WIB
Banjir Rendam Cieunteung
Sisa Air dan Lumpur Disedot Lima Unit Pompa -
Selasa, 24/11/2009 14:02 WIB
Akibat Macet, Bandung Rugi Rp 4,91 Triliun -
Selasa, 24/11/2009 13:49 WIB
Banjir Rendam Cieunteung
Warga Cieunteung Diminta Tetap Mengungsi -
Selasa, 24/11/2009 13:15 WIB
Pengajar Sosiologi Bikin Wadah Mandiri -
Selasa, 24/11/2009 12:39 WIB
Mahasiswa ITB Tak Tahu Akhmaloka Jadi Rektor yang Baru
Indeks Berita
Senin, 05/01/2009 08:50 WIB
Warga Sekeloa Tunggu Jawaban Dada
Agus Rakasiwi - detikBandung
Bandung -
Sekitar 2000 kepala keluarga di Kelurahan Lebakgede, Kecamatan Coblong, Bandung, menunggu penjelasan Wali Kota seputar isu penggusuran rumah warga di kelurahan tersebut. Setidaknya warga di RW 14, 15 dan 4 resah dengan isu pembangunan Pusat Kebudayaan di wilayah tersebut.
Sejak setahun terakhir, berhembus isu bahwa pemerintah kota akan membangun menggunakan di lahan seluas 14 hektar di kawasan Sekeloa. Areal tanah yang digunakan, diklaim milik pemkot seluas 3,5 hektar dan sisanya tanah milik Universitas Padjadjaran seluas 10,5 hektar. Jika ditotal jumlahnya menjadi 14 hektar.
"Sampai saat ini kami tidak pernah diajak bicara soal hal ini. Pemerintah hanya membuat kami resah," ujar Tatang, perwakilan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kel. Lebak Gede, Kec. Coblong, Kota Bandung, kepada detikbandung.
Menurutnya, warga telah mengirim surat sejak November 2007. Isinya mempertanyakan alasan Pemkot Bandung membangun pusat kebudayaan di lahan tersebut. Namun, isi surat itu belum pernah dibalas.
"Kami sudah menunggu sampai akhir tahun 2008 tidak pernah ada jawaban. Bahkan bertemu camat sekalipun hanya sekali. Pertemuan dengan camat itu pun hasilnya nihil alias tidak ada penjelasan apapun," kesalnya.
Pembangunan pusat kebudayaan di Sekeloa ini masih dalam tahap rencana. Beberapa waktu lalu, Dada Rosada, mengatakan, pembangunan pusat kebudayaan ini agar Bandung memiliki tempat kesenian yang layak dan representatif.
Ide ini mendapat dukungan Unpad yang juga ingin membangun pusat kegiatan akademik Unpad. Selain itu, Unpad juga berencana membangun lahan yang dikomersilkan seperti pertokoan, apartemen dan rumah susun sederhana sewa.
"Tapi masalahnya, apakah harus menggusur kami yang sudah hidup lebih dari 30 tahun di sini," tanya Tatang.(rks/lom)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Warga Sekeloa Tunggu Jawaban Dada
Agus Rakasiwi - detikBandung
Sejak setahun terakhir, berhembus isu bahwa pemerintah kota akan membangun menggunakan di lahan seluas 14 hektar di kawasan Sekeloa. Areal tanah yang digunakan, diklaim milik pemkot seluas 3,5 hektar dan sisanya tanah milik Universitas Padjadjaran seluas 10,5 hektar. Jika ditotal jumlahnya menjadi 14 hektar.
"Sampai saat ini kami tidak pernah diajak bicara soal hal ini. Pemerintah hanya membuat kami resah," ujar Tatang, perwakilan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kel. Lebak Gede, Kec. Coblong, Kota Bandung, kepada detikbandung.
Menurutnya, warga telah mengirim surat sejak November 2007. Isinya mempertanyakan alasan Pemkot Bandung membangun pusat kebudayaan di lahan tersebut. Namun, isi surat itu belum pernah dibalas.
"Kami sudah menunggu sampai akhir tahun 2008 tidak pernah ada jawaban. Bahkan bertemu camat sekalipun hanya sekali. Pertemuan dengan camat itu pun hasilnya nihil alias tidak ada penjelasan apapun," kesalnya.
Pembangunan pusat kebudayaan di Sekeloa ini masih dalam tahap rencana. Beberapa waktu lalu, Dada Rosada, mengatakan, pembangunan pusat kebudayaan ini agar Bandung memiliki tempat kesenian yang layak dan representatif.
Ide ini mendapat dukungan Unpad yang juga ingin membangun pusat kegiatan akademik Unpad. Selain itu, Unpad juga berencana membangun lahan yang dikomersilkan seperti pertokoan, apartemen dan rumah susun sederhana sewa.
"Tapi masalahnya, apakah harus menggusur kami yang sudah hidup lebih dari 30 tahun di sini," tanya Tatang.(rks/lom)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




