Forum Bandung
- POTHAT Sedia Minuman Kese... Imanharj
- Jamur Crispy... Imanharj
- Saya Di Bandung Jual Tepu... clark_kentank
- Wisata Kuliner... silvernautillus
- Mih Baso... sepsipter
- Bubur ayam... jasmine
Berita Lain
-
Selasa, 06/01/2009 08:55 WIB
Gudeg Banda, Dulu dan Kini -
Senin, 05/01/2009 13:20 WIB
Santap ala Tempo Dulu di Sumber Hidangan -
Senin, 05/01/2009 09:15 WIB
Sumber Hidangan, Tak Berubah Sejak Dulu -
Selasa, 30/12/2008 15:58 WIB
Pesanan Roti Buaya Laris Manis Kala Liburan Sekolah -
Selasa, 30/12/2008 11:41 WIB
Roti Bumbu Bakar Pertama di Bandung -
Selasa, 30/12/2008 07:14 WIB
Roti Cari Rasa, Ada di Mana-mana
Indeks Berita
Rabu, 24/12/2008 15:50 WIB
Sejak Berdagang Keliling, Rujak Mang Doel Sudah Jempolan
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Rezeki siapa yang tahu. Atep Hidayat (33) awalnya tidak meneruskan usaha turun temurun yang berasal dari kakek dan ayahnya sebagai penjual rujak. Tapi kebutuhan ekonomi yang mendesak akhirnya membuat Atep akhirnya mengikuti jejak pendahulunya ini.
"Waktu itu melahirkan anak ke-2 tapi tidak ada uang untuk beli susu untuk anak. Akhirnya saya pun berjualan rujak. Susu pun bisa dibeli dari hasil jualan rujak," ungkap suami dari Masitoh ini.
Atep pun menamakan rujaknya dengan nama anak keduanya, Abdul Rahman, jadilah nama rujak Mang Doel. Sampai sekarang Atep akrab disapa dengan nama Mang Doel.
Atep mulai berjualan rujak di tahun 1992. Berawal dari berdagang berkeliling dengan dipikul dari satu tempat ke tempat lain, "Dulu keliling Bandung dari Jalan Dr Otten, Kebon Kembang, Lingga Wastu, Jalan Tamansari, Jalan Dago terus ke Sulanjana sampai ke Gempol," papar pria asal Garut ini.
Di setiap tempat tersebut Atep sudah memiliki langganan. Lalu Atep pun sedikit demi sedikit mulai mangkal. Awalnya hanya selama dua jam di depan Apotek Kimia Farma di Jalan Sulanjana. Setelah itu berkeliling lagi menjemput langganan-langganannya.
Tahun 2002, Atep barulah Atep menetap di pelataran toko roti Bagelen Abadi, Jalan Purnawarman. Sejak menetap di tempat itulah Atep merasakan perubahan dalam pendapatannya. Saat Atep masih memikul dagangannya dalam sehari pendapatannya hanya Rp 30 ribu. Namun setelah menetap bisa mencapai Rp 150 ribu.
Meski sudah menetap, pelanggan-pelanggan Atep yang dulu didatangi tetap rela datang untuk mencicipi segarnya rujak Mang Doel. Atep mengaku sempat juga ditawari untuk mengisi tempat di food court salah satu mall elektronik di Bandung. Tapi tidak bertahan lama. Para pembeli mengatakan rasa rujak hasil olahan para pegawai Atep tidak sama dengan racikan Atep. Maka Atep pun kembali memutuskan untuk berjualan sendiri tanpa karyawan. Hal itu dilakukan untuk tetap memberikan kualitas rasa asli rujak Mang Doel agar tetap jempolan.
Mari berbagi pengalaman dan cerita kuliner Kota Bandung di Forumbandung.(ema/afz)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Sejak Berdagang Keliling, Rujak Mang Doel Sudah Jempolan
Ema Nur Arifah - detikBandung
"Waktu itu melahirkan anak ke-2 tapi tidak ada uang untuk beli susu untuk anak. Akhirnya saya pun berjualan rujak. Susu pun bisa dibeli dari hasil jualan rujak," ungkap suami dari Masitoh ini.
Atep pun menamakan rujaknya dengan nama anak keduanya, Abdul Rahman, jadilah nama rujak Mang Doel. Sampai sekarang Atep akrab disapa dengan nama Mang Doel.
Atep mulai berjualan rujak di tahun 1992. Berawal dari berdagang berkeliling dengan dipikul dari satu tempat ke tempat lain, "Dulu keliling Bandung dari Jalan Dr Otten, Kebon Kembang, Lingga Wastu, Jalan Tamansari, Jalan Dago terus ke Sulanjana sampai ke Gempol," papar pria asal Garut ini.
Di setiap tempat tersebut Atep sudah memiliki langganan. Lalu Atep pun sedikit demi sedikit mulai mangkal. Awalnya hanya selama dua jam di depan Apotek Kimia Farma di Jalan Sulanjana. Setelah itu berkeliling lagi menjemput langganan-langganannya.
Tahun 2002, Atep barulah Atep menetap di pelataran toko roti Bagelen Abadi, Jalan Purnawarman. Sejak menetap di tempat itulah Atep merasakan perubahan dalam pendapatannya. Saat Atep masih memikul dagangannya dalam sehari pendapatannya hanya Rp 30 ribu. Namun setelah menetap bisa mencapai Rp 150 ribu.
Meski sudah menetap, pelanggan-pelanggan Atep yang dulu didatangi tetap rela datang untuk mencicipi segarnya rujak Mang Doel. Atep mengaku sempat juga ditawari untuk mengisi tempat di food court salah satu mall elektronik di Bandung. Tapi tidak bertahan lama. Para pembeli mengatakan rasa rujak hasil olahan para pegawai Atep tidak sama dengan racikan Atep. Maka Atep pun kembali memutuskan untuk berjualan sendiri tanpa karyawan. Hal itu dilakukan untuk tetap memberikan kualitas rasa asli rujak Mang Doel agar tetap jempolan.
Mari berbagi pengalaman dan cerita kuliner Kota Bandung di Forumbandung.(ema/afz)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




