Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Jumat, 24/07/2009 10:57 WIB
Ada Sate Domba Afrika di Cihampelas -
Senin, 10/11/2008 08:57 WIB
Empuk-empuk Sate Kambing Hadori -
Selasa, 21/10/2008 09:08 WIB
Sate Kuda Tingkatkan Vitalitas Seksual -
Selasa, 21/10/2008 08:17 WIB
Eksotisme Daging Kuda di Jalan Veteran -
Rabu, 30/07/2008 08:54 WIB
Kisah Sate Keliling Dari Cimandiri
Indeks Berita
Senin, 10/11/2008 06:59 WIB
Sate Hadori, Berjuang Sejak Jaman Jepang
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Bukan hanya perjuangan pahlawan dalam mengusir penjajah yang bisa tercatat dalam sejarah. Sate hadori yang terletak di Terminal Stasiun Hall pun memiliki catatan sejarah sendiri saat penjajahan jaman Jepang.
Dari pengungsian ke pengungsian. Itulah cikal bakal keberadaan sate Hadori. Dituturkan pengelola Sate Hadori generasi ketiga Wawan Hadori (58) usaha sate ini dimulai oleh Kakeknya Inung dan Neneknya Una.
Saat itu masa pendudukan Jepang. Inung dan Una mengungsi dari satu tempat ke tempat lain. Di pengungsian tersebut jika ada kesempatan mereka berjualan sate kambing. "Mungkin karena membuat sate dianggap mudah, jadi mereka jualan sate," papar Wawan.
Sekitar tahun 1940-an Inang dan Una mengungsi ke Garut. Di Pasar Baru Garut mereka membuka dua kios yang salah satunya digunakan untuk berjualan sate. Dari Garut mengungsi ke Bandung dan berjualan sate di Tegallega sekitar tahun 50-an.
Selepas itu ada salah seorang kawan yang mengajak untuk berjualan di stasiun. Stasiun kala itu masih menjadi terminal bus. Inung berjualan sate dengan memakai roda. Pembeli saat itu cukup ramai. Saat itu seorang kawannya menjual kiosnya berukuran 4x4 meter pada Inung.
Dari tahun ke tahun Sate Inung kian ramai. Tahun 1961 termasuk masa emas kejayaan sate Inung. Namun di tahun 1992, Inung meninggal dunia. Kala itu Hadori sebagai anaknya membantu mempertahankan usaha sate ini. Hadori belajar dari mulai meracik daging sampai manajemen. Maka nama Sate Inung pun diganti jadi Sate Hadori.
"Saat itu pelanggan datang dari berbagai kalangan," papar Wawan pria yang pernah menempuh pendidikan di Universitas Padjajaran ini.
Tahun 65-an Hadori jadi ketua pedagang di Stasiun. Saat itu lah dirinya melakukan pemugaran kios-kios di Stasiun Hall. Ketika pemugaran dilakukan ada yang juga menjual kiosnya kepada Hadori. Hingga kini, Sate Hadori menempati empat petak berukuran 16x4 meter.
Tahun 1990 Hadori meninggal dunia dan meninggalkan empat orang putranya. Wawan menuturkan selepas itu usaha Sate Hadori ini pun dilanjutkan oleh dirinya sebagai putra pertama.
"Ayah saya beramanat. Usaha ini harus dijaga baik-baik," ungkap Wawan. Amanat tersebut pun sampai saat ini dipegang teguh oleh Wawan. Meskipun di tengah persaingan wisata kuliner Bandung. Wawan tetap berupaya mempertahankan keberadaan Sate Hadori dengan penambahan nama depannya sehingga menjadi Wawan Hadori.
Selain di stasiun, Sate Hadori bisa dinikmati di Be Mall, Jalan Naripan, di Dago, Jalan Setiabudhi, Jalan Cihampelas, Jalan Sersan Badjuri. Dalam waktu dekat Wawan berencana akan berekspansi ke luar Kota Bandung. Tak jauh-jauh, tapi kembali ke tempat asal sate Hadori yaitu Garut.
Mari berbagi pengalaman dan cerita kuliner Kota Bandung di Forumbandung.(ema/afz)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Sate Hadori, Berjuang Sejak Jaman Jepang
Ema Nur Arifah - detikBandung
Dari pengungsian ke pengungsian. Itulah cikal bakal keberadaan sate Hadori. Dituturkan pengelola Sate Hadori generasi ketiga Wawan Hadori (58) usaha sate ini dimulai oleh Kakeknya Inung dan Neneknya Una.
Saat itu masa pendudukan Jepang. Inung dan Una mengungsi dari satu tempat ke tempat lain. Di pengungsian tersebut jika ada kesempatan mereka berjualan sate kambing. "Mungkin karena membuat sate dianggap mudah, jadi mereka jualan sate," papar Wawan.
Sekitar tahun 1940-an Inang dan Una mengungsi ke Garut. Di Pasar Baru Garut mereka membuka dua kios yang salah satunya digunakan untuk berjualan sate. Dari Garut mengungsi ke Bandung dan berjualan sate di Tegallega sekitar tahun 50-an.
Selepas itu ada salah seorang kawan yang mengajak untuk berjualan di stasiun. Stasiun kala itu masih menjadi terminal bus. Inung berjualan sate dengan memakai roda. Pembeli saat itu cukup ramai. Saat itu seorang kawannya menjual kiosnya berukuran 4x4 meter pada Inung.
Dari tahun ke tahun Sate Inung kian ramai. Tahun 1961 termasuk masa emas kejayaan sate Inung. Namun di tahun 1992, Inung meninggal dunia. Kala itu Hadori sebagai anaknya membantu mempertahankan usaha sate ini. Hadori belajar dari mulai meracik daging sampai manajemen. Maka nama Sate Inung pun diganti jadi Sate Hadori.
"Saat itu pelanggan datang dari berbagai kalangan," papar Wawan pria yang pernah menempuh pendidikan di Universitas Padjajaran ini.
Tahun 65-an Hadori jadi ketua pedagang di Stasiun. Saat itu lah dirinya melakukan pemugaran kios-kios di Stasiun Hall. Ketika pemugaran dilakukan ada yang juga menjual kiosnya kepada Hadori. Hingga kini, Sate Hadori menempati empat petak berukuran 16x4 meter.
Tahun 1990 Hadori meninggal dunia dan meninggalkan empat orang putranya. Wawan menuturkan selepas itu usaha Sate Hadori ini pun dilanjutkan oleh dirinya sebagai putra pertama.
"Ayah saya beramanat. Usaha ini harus dijaga baik-baik," ungkap Wawan. Amanat tersebut pun sampai saat ini dipegang teguh oleh Wawan. Meskipun di tengah persaingan wisata kuliner Bandung. Wawan tetap berupaya mempertahankan keberadaan Sate Hadori dengan penambahan nama depannya sehingga menjadi Wawan Hadori.
Selain di stasiun, Sate Hadori bisa dinikmati di Be Mall, Jalan Naripan, di Dago, Jalan Setiabudhi, Jalan Cihampelas, Jalan Sersan Badjuri. Dalam waktu dekat Wawan berencana akan berekspansi ke luar Kota Bandung. Tak jauh-jauh, tapi kembali ke tempat asal sate Hadori yaitu Garut.
Mari berbagi pengalaman dan cerita kuliner Kota Bandung di Forumbandung.(ema/afz)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




