Forum Bandung
- POTHAT Sedia Minuman Kese... Imanharj
- Jamur Crispy... Imanharj
- Saya Di Bandung Jual Tepu... clark_kentank
- Wisata Kuliner... silvernautillus
- Mih Baso... sepsipter
- Bubur ayam... jasmine
Berita Lain
-
Selasa, 06/01/2009 08:55 WIB
Gudeg Banda, Dulu dan Kini -
Senin, 05/01/2009 13:20 WIB
Santap ala Tempo Dulu di Sumber Hidangan -
Senin, 05/01/2009 09:15 WIB
Sumber Hidangan, Tak Berubah Sejak Dulu -
Selasa, 30/12/2008 15:58 WIB
Pesanan Roti Buaya Laris Manis Kala Liburan Sekolah -
Selasa, 30/12/2008 11:41 WIB
Roti Bumbu Bakar Pertama di Bandung -
Selasa, 30/12/2008 07:14 WIB
Roti Cari Rasa, Ada di Mana-mana
Indeks Berita
Sabtu, 20/09/2008 12:53 WIB
Ina Cookies
Gagal Jadi Dokter, Sukses Jadi Pengusaha Kue
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Padahal cita-citanya menjadi dokter. Siapa yang tahu nasib membawanya sebagai pengusaha kue kering yang sukses. Berawal dari satu pegawai saja, Ina Rachmat (45) berhasil membangun image Ina Cookies dengan predikat The Most Creative Cookies.
"Sebenarnya cita-cita saya jadi dokter. Karena orang tua dokter saya pun menyukai segala hal tentang kedokteran," tutur istri dari Rachmat ini.
Tapi perjalanan menuju cita-citanya itu terhambat sehingga melemparkan lulusan SMA 2 Bandung itu ke Akademi Bahasa Asing jurusan Bahasa Jepang.
Pernah mencicipi kerja sebagai karyawan PT Astra akhirnya Ina dan sang suami yang juga mundur dari PNS memutuskan untuk buka usaha bersama.
Sebelumnya, Ina dengan sang suami membuka usaha bersama bidang agrobisnis jahe di Cirebon namun gagal. Sampai akhirnya berbekal hobi membuat kue dan memasak yang dipupuknya sejak kecil Ina pun merintis usaha kue kering.
Awalnya hanya lima resep kue kering yaitu kastengel, nastar, kue salju, chips dan sagu. Dengan keuletan dan kreativitas, kini tak kurang dari 85 resep kue dimiliki Ina Cookies.
"Harus mikir terus jangan berhenti di satu titik," tutur Ina mengemukakan alasan keberhasilannya. Selain itu juga harus menjaga kualitas bahan. Jangan sampai karena harga bahan baku naik lalu diganti dengan yang lebih murah.
"Saya tidak akan mengganti bahan baku meskipun harganya naik. Ya, saya naikan saja harga kuenya," ujarnya. Dalam usaha tidak hanya untuk meraup keuntungan besar tapi juga berkualitas.
Kehalalan bahan baku pun jadi perhitungan. Ina menolak jika supplier tidak melakukan sertifikasi halal yang harus dilakukan tidak dua tahun sekali.
"Tidak hanya halal, tapi toyyiban. Tidak hanya halal tapi baik untuk kesehatan," jelas Ina yang juga aktif dalam berbagai organisasi masyarakat dan kegiatan keagamaan ini. Ina pun selalu menanamkan kejujuran kepada para karyawannya.
Waktu juga yang akhirnya membuktikan produk Ina Cookies berkualitas. Terlihat dengan makin meningkatnya produksi terlebih di Lebaran 2008 ini yang ditargetkan 21 ribu toples.
Dari jerih payah ini pula Ina mendapat kesempatan untuk belajar membuat kue ke luar negeri dengan gratis dari supplier atas prestasi pembelian bahan baku yang melebihi target. Misalnya 2006 lalu Ina berangkat ke Taiwan dan November 2008 mendatang akan terbang ke Manila.
Ina berharap, ke depan dia bisa terus mempertahankan para karyawannya. Bahkan bisa menyerap lebih banyak lagi tenaga kerja. Tak hanya melalui Ina Cookies tapi usaha-usaha lain yang sedang dirintisnya bersama sang suami.
(ema/ema)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Ina Cookies
Gagal Jadi Dokter, Sukses Jadi Pengusaha Kue
Ema Nur Arifah - detikBandung
"Sebenarnya cita-cita saya jadi dokter. Karena orang tua dokter saya pun menyukai segala hal tentang kedokteran," tutur istri dari Rachmat ini.
Tapi perjalanan menuju cita-citanya itu terhambat sehingga melemparkan lulusan SMA 2 Bandung itu ke Akademi Bahasa Asing jurusan Bahasa Jepang.
Pernah mencicipi kerja sebagai karyawan PT Astra akhirnya Ina dan sang suami yang juga mundur dari PNS memutuskan untuk buka usaha bersama.
Sebelumnya, Ina dengan sang suami membuka usaha bersama bidang agrobisnis jahe di Cirebon namun gagal. Sampai akhirnya berbekal hobi membuat kue dan memasak yang dipupuknya sejak kecil Ina pun merintis usaha kue kering.
Awalnya hanya lima resep kue kering yaitu kastengel, nastar, kue salju, chips dan sagu. Dengan keuletan dan kreativitas, kini tak kurang dari 85 resep kue dimiliki Ina Cookies.
"Harus mikir terus jangan berhenti di satu titik," tutur Ina mengemukakan alasan keberhasilannya. Selain itu juga harus menjaga kualitas bahan. Jangan sampai karena harga bahan baku naik lalu diganti dengan yang lebih murah.
"Saya tidak akan mengganti bahan baku meskipun harganya naik. Ya, saya naikan saja harga kuenya," ujarnya. Dalam usaha tidak hanya untuk meraup keuntungan besar tapi juga berkualitas.
Kehalalan bahan baku pun jadi perhitungan. Ina menolak jika supplier tidak melakukan sertifikasi halal yang harus dilakukan tidak dua tahun sekali.
"Tidak hanya halal, tapi toyyiban. Tidak hanya halal tapi baik untuk kesehatan," jelas Ina yang juga aktif dalam berbagai organisasi masyarakat dan kegiatan keagamaan ini. Ina pun selalu menanamkan kejujuran kepada para karyawannya.
Waktu juga yang akhirnya membuktikan produk Ina Cookies berkualitas. Terlihat dengan makin meningkatnya produksi terlebih di Lebaran 2008 ini yang ditargetkan 21 ribu toples.
Dari jerih payah ini pula Ina mendapat kesempatan untuk belajar membuat kue ke luar negeri dengan gratis dari supplier atas prestasi pembelian bahan baku yang melebihi target. Misalnya 2006 lalu Ina berangkat ke Taiwan dan November 2008 mendatang akan terbang ke Manila.
Ina berharap, ke depan dia bisa terus mempertahankan para karyawannya. Bahkan bisa menyerap lebih banyak lagi tenaga kerja. Tak hanya melalui Ina Cookies tapi usaha-usaha lain yang sedang dirintisnya bersama sang suami.
(ema/ema)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (1 Komentar)




