Berita Lain

Indeks Berita

Kamis, 18/09/2008 08:28 WIB
Aromanis, Jajanan Nostalgia Kala SD
Ema Nur Arifah - detikBandung



Bandung - Seperti kapas, ringan, berwarna-warni dan manis. Kenikmatannya adalah ketika memasukannya ke mulut lalu melumatnya dengan mulut terkatup. Ehm, rasa manisnya seperti menyerap langsung ke dalam lidah. Meninggalkan rasa lengket di jari-jari tangan.

Aromanis atau arum manis, makanan ini selalu mengingatkan pada masa ingusan di bangku SD. Tak peduli jika keseringan akan membuat gigi keropos atau rusak. Bentuknya yang ringan seperti kapas menjadi salah satu jajanan favorit kala itu.

Seperti bernotalgia, saya menemukan tukang aromanis di depan Masjid Agung Bandung. Berada di antara jejal pedagang lainnya yang kian berjejal terlebih saat bulan puasa dia terlihat serius membuat kapas manis warna-warni itu.

Endang (48), 20 tahun lamanya dia berprofesi sebagai penjual aromanis. Dia mengaku tidak memiliki pilihan lain selain profesi ini karena keterbatasan dana untuk modal.

Setiap harinya dia mengaku berjualan di depan Puskesmas Pasundan Jalan Balong Gede. Saat ramadan inilah dia berjualan di depan Masjid Agung.

Waktu 20 tahun tentulah waktu yang sangat lama sehingga Endang sudah begitu terampil membuat si aromanis yang manis. Hanya bermodalkan bahan baku gula pasir yang diberikan pewarna kue warna hijau, ungu dan merah Endang bisa menjual sekitar 20 bungkus aromanis per harinya. Satu bungkus aromanis harganya Rp 2.000.

Entah apa nama alat ajaib yang bisa mengubah gula jadi kapas ini. Setelah Endang cukup menuangkan sedikit gula pada alat putar yang dibuat di tengah wadah seperti loyang yang dilubangi.

Dengan sebatang kayu kecil di tangan kanan sedangkan tangan kiri Endang memutar besi. Berputarnya besi itu yang mengontrol perputaran loyang yang makin lama menghasilkan kabut-kabut tipis berasal dari gula pasir.

Tangan kayu di tangan Endang mengambil kabut-kabut yang muncul di pinggir-pinggir dan tengah loyang. Menggulungnya seperti benang membentuk gumpalan kapas yang makin lama makin membulat. Setelah itu langsung dimasukan ke dalam plastik bening. Dibuat menumpuk merah, ungu dan hijau. Aromanis pun siap untuk dijual.

Sayang, jajanan nostalgia ini sempat disebut-sebut berbahaya dengan kandungan pewarna yang dipakainya. Semoga saja aromanis Pak Endang ini tidak.

(ema/ern)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Foto Lain


Baca juga :