Forum Bandung
- POTHAT Sedia Minuman Kese... Imanharj
- Jamur Crispy... Imanharj
- Saya Di Bandung Jual Tepu... clark_kentank
- Wisata Kuliner... silvernautillus
- Mih Baso... sepsipter
- Bubur ayam... jasmine
Berita Lain
-
Selasa, 06/01/2009 08:55 WIB
Gudeg Banda, Dulu dan Kini -
Senin, 05/01/2009 13:20 WIB
Santap ala Tempo Dulu di Sumber Hidangan -
Senin, 05/01/2009 09:15 WIB
Sumber Hidangan, Tak Berubah Sejak Dulu -
Selasa, 30/12/2008 15:58 WIB
Pesanan Roti Buaya Laris Manis Kala Liburan Sekolah -
Selasa, 30/12/2008 11:41 WIB
Roti Bumbu Bakar Pertama di Bandung -
Selasa, 30/12/2008 07:14 WIB
Roti Cari Rasa, Ada di Mana-mana
Indeks Berita
Selasa, 16/09/2008 08:29 WIB
Parcel, Untuk Karyawan Sampai Handai Taulan
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Ramadan muncul dengan segala keistimewaannya. Membawa beragam tradisi yang mengokohkan keistimewaan itu. Meski entah kapan tradisi ini dimulai. Dari mulai tradisi makan kolak saat buka puasa, tradisi mudik, tradisi membagikan angpau sampai tradisi berkirim parcel.
Meski pelarangan parcel bagi para pejabat sempat mencuat, parcel tak selalu jadi kontroversi. Usaha ini tetap meluncur sebagai media yang dianggap bisa mewakili silaturahmi. Dari keluarga ke keluarga, ke handai taulan juga pada karyawan.
Ditemui saat berbelanja parcel di Trijaya Parcel, Jalan Karapitan, Devi (31) mengatakan setiap tahunnya dia biasa memberikan parcel untuk karyawan-karyawannya.
"Ya, ini sudah jadi tradisi setiap tahun," tutur Devi yang saat itu membeli parcel untuk 50 karyawannya. Devi pun lebih memilih membeli parcel pada pertengahan ramadan karena dia masih bisa memilih yang harganya murah.
"Kalau membelinya nanti pasti sudah tidak ada yang harganya di bawah Rp 100. Lagipula kalau nanti pasti jalanan macet," jelas Devi.
Dituturkan pengelola Trijaya Parcel, Jalan Karapitan No 125, Yudi (33) pembeli parcel biasanya akan ramai dua minggu sebelum hari raya. Namun diakuinya, ramadan tahun ini, bagi Trijaya Parcel penjualan meningkat dibandingkan ramadan 2007.
"Dari awal sudah terlihat ramai meski belum banyak. Kalau tahun sebelumnya awal ramadan masih sepi," jelas Yudi.
Menurut Yudi, keempat cabang Trijaya Parcel mengambil parcel langsung dari pembuat parcel di Jalan Jenderal Sudirman. Untuk outlet parcel ini bisa mengambil sebanyak 1000 parcel.
Selain membeli satuan, konsumen banyak juga yang membeli sampai puluhan bahkan ada yang ratusan untuk dibagikan kembali. Biasanya, lanjut Yudi, sampai akhir ramadan yang tersisa hanya 5-10 persennya saja. Semua parcel-parcel tersebut dikembalikan kepada penyalur mereka di Jalan Jenderal Sudirman.
Beda halnya dengan Linda Parcel yang masih terletak di Jalan Karapitan. Menurut pramuniaga Linda Parcel Euis (29), pengunjung biasanya ramai dua minggu sebelum Lebaran. Jika awal-awal Lebaran kondisinya masih sepi, hanya beberapa orang saja yang datang.
"Kami sudah memiliki pelanggan tetap," ujar Euis. Linda Parcel sendiri merupakan usaha parcel keluarga sejak 13 tahun yang lalu. Para pelanggan itu datang tak hanya dari perusahaan tapi juga dari keluarga yang akan berkirim ke sanak saudara.
Sama halnya dengan Trijaya Parcel, sampai akhir Lebaran Linda Parcel menyisakan parcel sekitar 5-10 persen. "Ya, hanya tersisa beberapa buah saja. Karena ini usaha keluarga yang untung ruginya untuk keluarga," jelasnya.(ema/lom)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Parcel, Untuk Karyawan Sampai Handai Taulan
Ema Nur Arifah - detikBandung

Video Terkait
Meski pelarangan parcel bagi para pejabat sempat mencuat, parcel tak selalu jadi kontroversi. Usaha ini tetap meluncur sebagai media yang dianggap bisa mewakili silaturahmi. Dari keluarga ke keluarga, ke handai taulan juga pada karyawan.
Ditemui saat berbelanja parcel di Trijaya Parcel, Jalan Karapitan, Devi (31) mengatakan setiap tahunnya dia biasa memberikan parcel untuk karyawan-karyawannya.
"Ya, ini sudah jadi tradisi setiap tahun," tutur Devi yang saat itu membeli parcel untuk 50 karyawannya. Devi pun lebih memilih membeli parcel pada pertengahan ramadan karena dia masih bisa memilih yang harganya murah.
"Kalau membelinya nanti pasti sudah tidak ada yang harganya di bawah Rp 100. Lagipula kalau nanti pasti jalanan macet," jelas Devi.
Dituturkan pengelola Trijaya Parcel, Jalan Karapitan No 125, Yudi (33) pembeli parcel biasanya akan ramai dua minggu sebelum hari raya. Namun diakuinya, ramadan tahun ini, bagi Trijaya Parcel penjualan meningkat dibandingkan ramadan 2007.
"Dari awal sudah terlihat ramai meski belum banyak. Kalau tahun sebelumnya awal ramadan masih sepi," jelas Yudi.
Menurut Yudi, keempat cabang Trijaya Parcel mengambil parcel langsung dari pembuat parcel di Jalan Jenderal Sudirman. Untuk outlet parcel ini bisa mengambil sebanyak 1000 parcel.
Selain membeli satuan, konsumen banyak juga yang membeli sampai puluhan bahkan ada yang ratusan untuk dibagikan kembali. Biasanya, lanjut Yudi, sampai akhir ramadan yang tersisa hanya 5-10 persennya saja. Semua parcel-parcel tersebut dikembalikan kepada penyalur mereka di Jalan Jenderal Sudirman.
Beda halnya dengan Linda Parcel yang masih terletak di Jalan Karapitan. Menurut pramuniaga Linda Parcel Euis (29), pengunjung biasanya ramai dua minggu sebelum Lebaran. Jika awal-awal Lebaran kondisinya masih sepi, hanya beberapa orang saja yang datang.
"Kami sudah memiliki pelanggan tetap," ujar Euis. Linda Parcel sendiri merupakan usaha parcel keluarga sejak 13 tahun yang lalu. Para pelanggan itu datang tak hanya dari perusahaan tapi juga dari keluarga yang akan berkirim ke sanak saudara.
Sama halnya dengan Trijaya Parcel, sampai akhir Lebaran Linda Parcel menyisakan parcel sekitar 5-10 persen. "Ya, hanya tersisa beberapa buah saja. Karena ini usaha keluarga yang untung ruginya untuk keluarga," jelasnya.(ema/lom)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




