Forum Bandung
- cabe kriting... galunggung
- Lowongan CPNS Deplu 2009... kepitingbercapit
- salam kenal2... kunyiil
- [PIC]MOJANG bandung... silvernautillus
- pangkalan OOTers forum d... silvernautillus
- sok atuh absen heula...... silvernautillus
Berita Lain
-
Jumat, 24/07/2009 10:57 WIB
Ada Sate Domba Afrika di Cihampelas -
Senin, 10/11/2008 08:57 WIB
Empuk-empuk Sate Kambing Hadori -
Senin, 10/11/2008 06:59 WIB
Sate Hadori, Berjuang Sejak Jaman Jepang -
Selasa, 21/10/2008 09:08 WIB
Sate Kuda Tingkatkan Vitalitas Seksual -
Selasa, 21/10/2008 08:17 WIB
Eksotisme Daging Kuda di Jalan Veteran
Indeks Berita
Rabu, 30/07/2008 08:54 WIB
Kisah Sate Keliling Dari Cimandiri
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Meski di pinggir jalan, roda-roda yang berderet di Jalan Cimandiri, belakang Gedung Sate ternyata menyediakan kuliner-kuliner ternama di Kota Bandung. Misalnya nasi bakar, Sop Buah Pak Ewok dan juga sate sudah ada sejak dulu kala yang dikenal sate Cimandiri.
Tempat sate ini bisa dikatakan lebih sederhana daripada pedagang lainnya yang menggunakan roda. Padahal jika melirik usia keberadaan sate ini seharusnya sudah memiliki tempat yang lebih memadai.
Dalam petak sekitar satu kali satu meter sate Cimandiri dijajakan. Sebelumnya keberadaan sate ini sempat dimanfaatkan beberapa pengusaha FO untuk membuka sate Cimandiri di kawasan FO-nya.
Namun menurut penjual sate Cimandiri, Sri (29) mengatakan ketika dibuka cabang di tempat lain, satenya kurang laris manis tanjung kimpul tidak seprti di Jalan Cimandiri.
Apa istimewanya sate ini? Sepenggal kisah menarik pemiliknya lah yang berjualan sate ini dari tahun 1970 lalu.
Sate Cimandiri adalah usaha yang dirintis Ibunda Sri yaitu Katemi. Wanita asal Klaten ini menjajakan satenya dari satu daerah ke daerah lain di kota Bandung.
Berbekal bakul berisi sate dengan menjinjing pembakaran sate berikut kostum tradisional yang dipakainya, Katemi mengyusuri Bandung dari pagi hingga petang. Entah berapa kilometer jalan yang dia susuri dalam waktu satu hari. Padahal beban yang harus dia bawa pun tidak bisa dikatakan ringan.
Hingga sekitar tahun 80-an. Katemi mulai berjualan di kawasan Gedung Sate. Hingga akhirnya ketika penjual tidak boleh berkeliaran di Gedung Sate, para penjual pun ditempatkan di Jalan Cimandiri. Maka, nama sate Cimandiri pun menjadi nama populer yang melekat.
Saat ini, usaha sate Cimandiri diteruskan oleh anak-anaknya meski yang bertahan tinggalah di Jalan Cimandiri. Katemi sendiri hanya mengontrol dan membuat racikan sate di rumah.
Tersedia sate sapi, ayam dan sate susu atau jando. Sate dilumuri bumbu kacang atau bumbu pecel. Campurkan saja satu sendok sambalnya dengan bumbu sate. Tersedia pula lontong untuk melengkapi nikmatnya sate,Yam..yam..yam...
Nilai-nilai kesederhanaan masih terlihat dari pengemasan sate yang dibungkus dengan daun pisang. Satu porsi sate Rp 10 ribu plus lontong.
Sate ini mulai berjualan dari pukul 09.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. "Kalau sedang ramai, pukul 14.00 WIB juga sudah pulang," jelas Sri.
Seorang pelanggan sate Cimandiri, Eni (50) mengatakan, dirinya memang langganan sate Cimandiri sejak dulu. Rasanya yang enak dan usia sate Cimandiri yang sudah lama membuat Eni terus menajdi langganan tempat ini.
"Iya, saya masih ingat Ibu Katemi yang kalau berjualan masih menggunakan kain tradisional (batik-red)," jelas Eni.
Jadi menikmati sate Cimandiri ini tidak hanya sekedar enak dan kenyang tapi ketika mengunyahnya seperti masuk ke dalam cerita perjuangan seorang Katemi.
Sayangnya jika makan di tempat ini apalagi siang hari, kepala akan kepanasan. Pihak Gedung Sate tidak memperbolehkan pedagang di Jalan Cimandiri untuk mendirikan tenda.
Alhasil, sambil menikmati makanan, mau tidak mau sambil menikmati sengatan terik yang membuat mata meringis. Tidak ada salahnya membawa payung atau memilih makanan-makanan ini untuk dibungkus pulang.(ema/afz)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Kisah Sate Keliling Dari Cimandiri
Ema Nur Arifah - detikBandung

Tempat sate ini bisa dikatakan lebih sederhana daripada pedagang lainnya yang menggunakan roda. Padahal jika melirik usia keberadaan sate ini seharusnya sudah memiliki tempat yang lebih memadai.
Dalam petak sekitar satu kali satu meter sate Cimandiri dijajakan. Sebelumnya keberadaan sate ini sempat dimanfaatkan beberapa pengusaha FO untuk membuka sate Cimandiri di kawasan FO-nya.
Namun menurut penjual sate Cimandiri, Sri (29) mengatakan ketika dibuka cabang di tempat lain, satenya kurang laris manis tanjung kimpul tidak seprti di Jalan Cimandiri.
Apa istimewanya sate ini? Sepenggal kisah menarik pemiliknya lah yang berjualan sate ini dari tahun 1970 lalu.
Sate Cimandiri adalah usaha yang dirintis Ibunda Sri yaitu Katemi. Wanita asal Klaten ini menjajakan satenya dari satu daerah ke daerah lain di kota Bandung.
Berbekal bakul berisi sate dengan menjinjing pembakaran sate berikut kostum tradisional yang dipakainya, Katemi mengyusuri Bandung dari pagi hingga petang. Entah berapa kilometer jalan yang dia susuri dalam waktu satu hari. Padahal beban yang harus dia bawa pun tidak bisa dikatakan ringan.
Hingga sekitar tahun 80-an. Katemi mulai berjualan di kawasan Gedung Sate. Hingga akhirnya ketika penjual tidak boleh berkeliaran di Gedung Sate, para penjual pun ditempatkan di Jalan Cimandiri. Maka, nama sate Cimandiri pun menjadi nama populer yang melekat.
Saat ini, usaha sate Cimandiri diteruskan oleh anak-anaknya meski yang bertahan tinggalah di Jalan Cimandiri. Katemi sendiri hanya mengontrol dan membuat racikan sate di rumah.
Tersedia sate sapi, ayam dan sate susu atau jando. Sate dilumuri bumbu kacang atau bumbu pecel. Campurkan saja satu sendok sambalnya dengan bumbu sate. Tersedia pula lontong untuk melengkapi nikmatnya sate,Yam..yam..yam...
Nilai-nilai kesederhanaan masih terlihat dari pengemasan sate yang dibungkus dengan daun pisang. Satu porsi sate Rp 10 ribu plus lontong.
Sate ini mulai berjualan dari pukul 09.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. "Kalau sedang ramai, pukul 14.00 WIB juga sudah pulang," jelas Sri.
Seorang pelanggan sate Cimandiri, Eni (50) mengatakan, dirinya memang langganan sate Cimandiri sejak dulu. Rasanya yang enak dan usia sate Cimandiri yang sudah lama membuat Eni terus menajdi langganan tempat ini.
"Iya, saya masih ingat Ibu Katemi yang kalau berjualan masih menggunakan kain tradisional (batik-red)," jelas Eni.
Jadi menikmati sate Cimandiri ini tidak hanya sekedar enak dan kenyang tapi ketika mengunyahnya seperti masuk ke dalam cerita perjuangan seorang Katemi.
Sayangnya jika makan di tempat ini apalagi siang hari, kepala akan kepanasan. Pihak Gedung Sate tidak memperbolehkan pedagang di Jalan Cimandiri untuk mendirikan tenda.
Alhasil, sambil menikmati makanan, mau tidak mau sambil menikmati sengatan terik yang membuat mata meringis. Tidak ada salahnya membawa payung atau memilih makanan-makanan ini untuk dibungkus pulang.(ema/afz)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




