Forum Bandung
- Green Kosmetik cantik dan... ladyhot13
- Info Belanja Bandung... ugichaos
- Jual aksesoris cewek mula... galletho
- All about HP... Fadey Jevera
- Toko... hishigi mibu
- Harga Gress & 2nd... nitnot
Berita Lain
-
Senin, 08/02/2010 11:27 WIB
Clothing Jakarta Jajal Pasar Bandung -
Rabu, 27/05/2009 10:11 WIB
Rangga Point
Buat Event Untuk Gaet Pasar -
Rabu, 27/05/2009 09:10 WIB
Rangga Point
Distro dan One Stop Shopping Baru -
Rabu, 31/12/2008 07:59 WIB
iHAQi, Dakwah Kreatif Lewat Kaos Oblong -
Sabtu, 20/12/2008 10:08 WIB
Gaun Simple untuk Pesta dari Sofie'sticated -
Jumat, 12/12/2008 12:20 WIB
Gandeng Band Indie Produksi Merchandise
Indeks Berita
Minggu, 06/07/2008 09:14 WIB
Merajut Limbah Jadi Rajutan
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Limbah, biasa dianggap sebagai sesuatu degan efek negatifnya. Tapi ternyata jika dimanfaatkan dengan tepat, limbah pun akan menjadi sesuatu bernilai tinggi.
Di Sae Knit Art misalnya, limbah benang diolah dan diperhalus kembali menjadi benang-benang rajut siap pakai. Ragam benang rajut yang nantinya dihasilkan memiliki jenis yang berbeda. Seperti benang pita yang halus dan lurus atau benang moher, campuran benang pita dan beberapa benang lainnya yang memiliki ragam karakter, timbul atau tampak seperti serabut serat.
Ketika benang-benang tersebut disatukan untuk membuat satu pakaian rajut, komposisi yang dihasilkan tak hanya memperlihatkan gradasi tapi tekstur dari sebuah kolaborasi.
"Benang-bennag ini ada yang diolah di pabrik ada juga yang diolah sendiri tergantung dari kuantitas yang akan diolah," ujar Esty, pemilik Sae Knit Art.
LIhatlah beberapa pakaian yang jadi yang sudah dihasilkan. Misalnya pakaian hangat dengan model ponco atau selendang rajut sebagai pelengkap penampilan. Tinggal disematkan bros atau korsase, akan didapatkan kehangatan sekaligus gaya yang lebih fashionable.
Karena handmade dan dibuat oleh Esty sendiri, maka pembuatan satu pakaian pun bisa memakan waktu sampai tujuh hari. Jadi jangan harap akan ditemukan model yang sama karena tidak diproduksi secara massal.
Tentu saja, model yang dihasilkan akan begitu eksklusif karena tidak beredar di pasaran. Harganya pun bisa terbilang eksklusif dibandingkan rajutan yang berada di gerai-gerai. Misalnya rajutan model ponco dan selendang dihargai sekitar Rp. 600 ribu. Makanya menurut Esty, pelanggan rajutan Sae Knit Art adalah kalangan perancang, diantaranya ada perancang dari luar negeri.
"Proses pembuatan dan keeksklusifannya membuat harganya mahal. Untuk benang dilakukan pencelupan ulang agar mendapatkan warna yang sesuai," jelas Esty yang juga berprofesi sebagai asisten dosen di jurusan Tekstil ITB ini.
Esty pun mengaku belum mampu memproduksi rajutan secara massal. Kendalanya terdapat pada tingkat kualitas yang nantinya akan dihasilkan.
Andakah termasuk yang eksklusif itu? Sae Knit Art bisa dikunjungi di Jalan Sersan Bajuri, Komplek Grahapuspa d1-22, Lembang Bandung. Di sini, anda pun akan dikenalkan dengan ragam perlengkapan rajut sekaligus bisa menjadi bagian dari workshopnya.(ema/afz)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Merajut Limbah Jadi Rajutan
Ema Nur Arifah - detikBandung

Di Sae Knit Art misalnya, limbah benang diolah dan diperhalus kembali menjadi benang-benang rajut siap pakai. Ragam benang rajut yang nantinya dihasilkan memiliki jenis yang berbeda. Seperti benang pita yang halus dan lurus atau benang moher, campuran benang pita dan beberapa benang lainnya yang memiliki ragam karakter, timbul atau tampak seperti serabut serat.
Ketika benang-benang tersebut disatukan untuk membuat satu pakaian rajut, komposisi yang dihasilkan tak hanya memperlihatkan gradasi tapi tekstur dari sebuah kolaborasi.
"Benang-bennag ini ada yang diolah di pabrik ada juga yang diolah sendiri tergantung dari kuantitas yang akan diolah," ujar Esty, pemilik Sae Knit Art.
LIhatlah beberapa pakaian yang jadi yang sudah dihasilkan. Misalnya pakaian hangat dengan model ponco atau selendang rajut sebagai pelengkap penampilan. Tinggal disematkan bros atau korsase, akan didapatkan kehangatan sekaligus gaya yang lebih fashionable.
Karena handmade dan dibuat oleh Esty sendiri, maka pembuatan satu pakaian pun bisa memakan waktu sampai tujuh hari. Jadi jangan harap akan ditemukan model yang sama karena tidak diproduksi secara massal.
Tentu saja, model yang dihasilkan akan begitu eksklusif karena tidak beredar di pasaran. Harganya pun bisa terbilang eksklusif dibandingkan rajutan yang berada di gerai-gerai. Misalnya rajutan model ponco dan selendang dihargai sekitar Rp. 600 ribu. Makanya menurut Esty, pelanggan rajutan Sae Knit Art adalah kalangan perancang, diantaranya ada perancang dari luar negeri.
"Proses pembuatan dan keeksklusifannya membuat harganya mahal. Untuk benang dilakukan pencelupan ulang agar mendapatkan warna yang sesuai," jelas Esty yang juga berprofesi sebagai asisten dosen di jurusan Tekstil ITB ini.
Esty pun mengaku belum mampu memproduksi rajutan secara massal. Kendalanya terdapat pada tingkat kualitas yang nantinya akan dihasilkan.
Andakah termasuk yang eksklusif itu? Sae Knit Art bisa dikunjungi di Jalan Sersan Bajuri, Komplek Grahapuspa d1-22, Lembang Bandung. Di sini, anda pun akan dikenalkan dengan ragam perlengkapan rajut sekaligus bisa menjadi bagian dari workshopnya.(ema/afz)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk



