Cari Penawaran Terbaik di Sini


Berita Lain

Indeks Berita

Jumat, 01/02/2008 11:10 WIB
Taman Tegallega
Jogging hingga Berbelanja di 'Bandung Lautan Api'
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Sebuah ungkapan populer, 'bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya'. Siapa tak mengenal peristiwa Bandung lautan api?

Masa di mana dengan sukarela para pahlawan meninggalkan harta benda dan membumi hanguskan Bandung Selatan agar tak diduduki kaum kolonial.

Nilai historis itu kini hanya bisa diingat dari simbol-simbol yang ditinggalkan untuk mengenangnya. Peristiwa itu kini terekam melalui sebuah tugu yang menjulang tinggi. Itulah tugu Bandung lautan api.

Tugu yang dibangun di tahun 1981 ini terletak di tengah Taman Tegallega. Taman yang tidak jauh dari kantor PT INTI itu dikelilingi oleh jalan Inggit Garnasih (Ciateul) di sebelah utara, jalan Oto Iskandar Dinata di sebelah barat, jalan PETA di sebelah selatan (ruas lingkar selatan) dan jalan Mohamad Toha di di sebelah timur Bandung.

Tegallega berarti lapangan yang luas. Dari kata tegal yang berarti lapangan atau tegalan dan lega yang berarti luas.

Berawal sebagai arena pacuan kuda orang-orang Belanda dulu, taman terluas di Bandung yang dibangun di atas tanah seluas 19 hektar ini, dalam perkembangannya mengalami pasang surut. Sempat menjadi lapangan yang terlantar hingga mendapat pandangan miring dari masyarakat sebagai tempat lokalisasi, penampungan PKL asal Cimol (Cibadak Mall) dan Kebon Kalapa.

Namun, bertepatan dengan digelarnya peringatan emas konferensi Asia Afrika di tahun 2005. Sejumlah kepala negara dan kepala pemerintahan negara-negara Asia Afrika berkunjung dan menanam lebih dari 25 jenis pohon di kawasan ini.

Tegallega tak lagi menjadi sorotan masyarakat Bandung, tapi juga dunia, khususnya bangsa-bangsa Asia Afrika. Sedikit demi sedikit Tegallega berganti rupa menjadi salah satu kawasan konservasi dengan nama Taman Tegallega.

Kegersangan itu terusir dengan rimbunnya pepohonan, hamparan rumput hijau, kicauan burung, dan kesegaran bunga-bunga. Ditambah bangku-bangku taman untuk bersantai.

Perubahan wajah Taman Tegallega sekarang membuat tempat ini sangat potensial untuk dijadikan paru-paru kota, taman kota, sarana olahraga dan rekreasi masyarakat.

Tak sedikit orang yang memilih melepas lelah di tempat ini. Sekedar bercengkerama atau menikmati tidur siang di bawah pohon rindang, sambil menikmati terawang matahari melalui celah-celah dedaunan.

Hampir setiap hari terutama akhir pekan, Taman Tegallega dipadati masyarakat. Misalnya sekedar jogging pagi mengelilingi taman, sambil menikmati segarnya udara pagi, atau bertelanjang kaki di jalur refleksi.

Bisa juga menggunakan sarana olahraga lainnya seperti sepak bola, basket dan volley. Jika ingin berenang, ada kolam renang Tirtalega, namun harus membeli tiket untuk fasilitas yang satu ini.

Di sisi lain, Tegallega pun berkembang menjadi salah satu pusat keramaian kota terutama dengan berkembangnya aktifitas sosial ekonomi masyarakat. Tak sedikit orang yang datang hanya untuk berburu barang murah, makanan dan minuman, di pasar kaget yang tumpah ruah di akhir pekan.

Apalagi jika ada penyelenggaraan-penyelenggaraan even, seperti konser musik, yang mengundang massa untuk berpartisipasi. Pastilah membuat suasana Taman Tegallega tambah meriah.

Sayangnya, kebersihan taman ini masih belum serius diperhatikan. Tumpukan sampah masih menghiasi salah satu sudut taman. Terlebih, taman pun berdampingan dengan Tempat Penampungan Sampah Terpadu (TPST) yang sedikit mengganggu keasrian dan penciuman.

Semoga, satu waktu Taman Tegallega bisa menjadi kawasan konservasi kebanggaan kota Bandung. Mengingat di sini pun tersimpan sebuah nilai historis.

(ema/ern)


Share

Baca juga :