Berita Lain

Indeks Berita

Jumat, 12/09/2008 16:47 WIB
Masyarakat Peduli Babakan Siliwangi Luncurkan Petisi Online
Salomo Sihombing - detikBandung

Bandung - Kampanye menolak komersialisasi Babakan Siliwangi terus dilakukan Masyarakat Peduli Babakan Siliwangi. Salah satu cara yang ditempuh yakni dengan menggelar petisi online. ( lom / lom )

Komentar terkini (1 Komentar)
    Salomo Marbun, Beberapa minggu ini emosi saya selalu terganggu kalau membaca pemberitaan soal rencana pembangunan Babakan Siliwangi. Adakah diantara teman-teman yang tahu Babakan Siliwangi Apa? Hmmm, penjelasan gampangnya adalah Babakan Siliwangi adalah sebuah hutan kota yang letaknya di pinggir SORGA (Sarana Olah Raga Ganesha), tempat jogging, futsal, renang, main bola, tenis, basket dan tempat ngeceng hehehe. Babakan Siliwangi juga menjadi tetangga SABUGA (Sasana Budaya Ganesha), sebuah big hall untuk acara-acara besar seperti Pentahbisan Uskup Bandung, pada bulan Agustus 2008 lalu. Sudah bisa terbayangkah tempatnya? Kalau sudah, dua jempol untuk Anda. Dulunya sebagian kawasan Babakan Siliwangi sempat menjadi kompleks rumah makan dan kalau tidak salah ingat papan nama rumah makan tersebut masih ada. Sekarang yang tersisa tinggal puing-puingnya yang sempat terbakar (atau sengaja dibakar???) pada tahun 2000-an (Maaf saya sedang hilang ingatan karena emosi saya sedang meluap). Di sini juga masih ada dua sanggar seni yang masih setia mengeluarkan karya-karya lukisannya. Di kawasan hutan kota yang dibangun Soekarno ini telah muncul seniman yang masih cukup disegani sampai saat ini. Contoh (kalau tidak salah ingat dan tidak salah baca): Jim Supangat, seniman dan kurator. Di tempat ini pula, pada tahun 2003 para jurnalis muda idelis dan berbakat sering mengadakan rapat-rapat yang akhirnya membidani berdirinya Aliansi Jurnalis Independen Bandung (oohhhh what a lovely old days guys). Tapi bersamaan dengan itu teror-teror sering dialami oleh teman-teman seniman di sana. Saya masih ingat Mas Aji dan Mbak Novi yang giat mendampingi serta memberi semangat pada mereka. Tak lupa, Kang Deden Sambas , seorang pelukis asal Sadang Serang Bandung sering berkeluh kesah karena suasana batinnya terusik karena para pemodal besar dan dekat dengan kekuasaan yang isunya akan mengubah kawasan hutan kota tersebut menjadi kompleks kondominium. Tak perlu disebutlah grup pengembang mana itu karena anda tinggal menghitung karya mereka berupa mal dan pusat perdagangan (yang katanya) modern yang memutus hidup banyak para pedagang kecil di pasar tradisional di kota Bandung. Hitung dan cari tahu bagian dari kelompok perusahaan apa mereka? Tahun 2003 selama tiga bulan saya mencari banyak data dan menyusup kesana kemari untuk mencari tahu blue print perencanaan kota Bandung. Saya ingin menguji kelayakan kondominium berdasarkan data-data yang saya dapatkan. Saya mencari tahu, bertanya pada orang-orang yang mengerti. Di satu sisi ada yang bilang tak masalah mau dibangun apa saja di Babakan Siliwangi karena tinggal direkayasa. Sebagian lagi menentang karena rekayasa pun tetap akan menghancurkan setting alam yang ada. Menurut mereka rekayasa apapun tidak mungkin menggantikan pohon-pohon yang ditebang. Sumber air Kota Bandung pun akan hilang. Perlu diketahui di Baksil terdapat tiga sumber mata air yang begitu jernih dan menyegarkan. Salah satunya ada di belakang Sanggar Olah Seni. Kalau nggak percaya datang aja deh ke sana sekalian lihat-lihat lukisan atau mau belajar melukis. Apakah Baksil akan menjadi kenangan pahit saja bagi mereka yang mencintai kehidupan? Apakah Baksil akan dikorbankan demi UANG diraup oleh segelintir orang yang tak lagi punya hati nurani? Apakah Baksil akan dibiarkan agar diambil oleh penguasa-penguasa kejam yang murah senyum? Ahhh sudahlah, mari kita selamatkan Baksil sebagai salah satu aset masa depan Bandung, Jawa Barat, Indonesia dan Dunia. Kalau baksil berhasil dibumi hanguskan oleh kepentingan pemodal maka daerah lain akan segera menyusul. AVANTE! BERGERAK! Salam Hangat, Salomo Marbun, Tukang Ngeceng di SORGA ;)



Baca juga: